Oleh M. Mufti AW

Bismillāhirrahmānirrahīm

Iseng saya minta tolong google translate untuk menerjemahkan Hardiknas. Jawabannya (Arab): “Yawm al-ta`līm al-wathaniy” [يوم التعليم الوطني]. Lalu Hari Guru Nasional (HGN): “Yawm al-mu`allim al-wathaniy” [يوم المعلم الوطني]

Padahal, dulu seingat saya bahasa Arabnya pendidikan itu “tarbiyah” (تربية). Maka, mestinya guru itu adalah seorang “murabbī” (مربي), karena wazhīfah tupoksinya adalah mendidik. Sedangkan kata “ta`līm” bermakna sekadar sebagian kecil dari proses pendidikan, yaitu: pengajaran.

Dugaan saya, terjemahan kata Kementerian Pendidikan adalah “Wizārat al-ta`līm” (وزارة التعليم), dan menteri pendidikan: “wazīr al-ta`līm” (وزير التعليم). Oh ya, saya ingat pernah melihat cover buku atau tulisan berita berbahasa Arab yang meyakinkan kebenaran dugaan tersebut di atas.

Lain daripada itu, belakangan juga muncul “revolusi” , eh, reformasi. Nomenklatur pengajaran “diperbaiki” menjadi pembelajaran. Istilah tahun ajaran diganti menjadi tahun pembelajaran. Saya cek lagi ke google translate. Hasilnya, pembelajaran (juga) diterjemahkan menjadi “ta`līm”.

Konon kabarnya, perbaikan fundamental itu dilandasi pemikiran bahwa mestinya interaksi guru-murid di kelas itu lebih “student based activity”, menitikberatkan pada keaktifan siswa dalam belajar. Jadi, “mengajar” itu (harusnya) merupakan kegiatan guru menciptakan suasana yang kondusif agar siswa dapat belajar dengan nyaman. Bahasa kekiniannya “merdeka belajar”… Wuih, makhluk apa lagi ini?

Nah peralihan (pengalihan?) peran guru dimaksud sebenarnya sudah dimulai dua puluhan tahun silam. Kala itu booming dan trending istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Buku siswa dirombak.

Kenyataannya dalam praktik –setelah beberapa tahun national policy in education (atau politics ya?)– diterapkan, denotasi makna dan gagasan luhur CBSA itu justru membias dan berbalik lagi menjadi: “Cing, Barudak Sing Aranteung”.

Oh ya, –secara administratif– pada kolom identitas RPP (I`dād al-Tadrīs, Lesson Plan) juga musti ada perubahan redaksi. Tujuan Instruksional diubah menjadi Tujuan Pembelajaran. Tambah melebar deh urusannya. Kata pengajaran justru diserap dari “instruction”. (Semata-mata) perintah dong artinya?!

Itu semua menunjukkan bahwa pendidikan (formal, schooling) baru merupakan sebagian dari totalitas makna tarbiyah. Dari segi durasi, persekolahan itu tidak berlangsung 24 jam sehari, sekalipun dimaksimalkan sampai full day. Dalam setahun juga banyak liburnya.

التربية أوسع من التعليم

Pendidikan itu (sangat luas cakupannya sehingga) lebih luas daripada sekadar pengajaran.

Di pondok (pesantren) pun –yang bersistem asrama/boarding– masih ada missing factor, –dan ini sifatnya prominent, bahkan vital– yaitu peran orang tua. Maksudnya selama anak mondok atau mesantren.

Penilaian ini tentu tanpa mengurangi dan meremehkan jasa tak ternilai dari para kiai (ajengan, tuan guru, syaikh, dsb.) serta ustadz/ustadzah (guru).

Kita bersyukur keikhlasan selalu menjadi ruh semua aktivitas dan dipraktikkan secara sungguh-sungguh oleh segenap warga pesantren, terutama kiai dan para ustadz. Keikhlasan menjadi landasan TQM-nya. Dengan demikian ketiadaan sementara (peran) orang tua dapat secara optimal diambil alih dan disubstitusi oleh para pengasuh pesantren.

Upaya pendidikan di lingkungan sekolah dan rumah (keluarga) secara umum masih baik. Berbagai kebijakan (pengaturan) pemerintah telah merevolusi sekolah/madrasah menjadi jauh lebih well managed, tertib administrasi, dst.

Kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya juga semakin patut dipuji. Apresiasi terhadap sistem pendidikan pesantren juga meningkatkan. Bahkan, pesantren tahfizh al-Qur’an pun menjamur. Hampir semuanya fully booked saat masa PPDB yang kian gasik dibuka masih kategori early bird. Membayar mahal pun banyak orang tua yang siap bersaing. Tawaran beasiswa juga semakin banyak dan variatif.

Hal yang seringkali diabaikan atau tidak dianggap sebagai institusi pendidikan ialah masyarakat. Di sini hasil pendidikan keluarga yang mengunggulkan kasih sayang dan sekolah yang menitikberatkan ketatnya disiplin diuji dalam kehidupan nyata sehari-hari. Sifatnya keras tak mengenal kata ampun. Seringkali –ibarat tinju bebas, smack down– aturan pokoknya ialah justru “no rule”.

Mestinya di masyarakat ini juga masih berlaku prinsip-prinsip pendidikan, utamanya amar makruf nahi mungkar, saling menasihati, dan sebagainya. Tetapi yang banyak terjadi masing-masing pihak mengklaim kebebasan sebagai hak asasinya. Prinsip egois ini melahirkan sikap yang mengerikan, yaitu permisif: lu lu gue gue (sopo iro sopo ingsun).

Padahal kebebasan seseorang –sebagai hak– tidaklah tak terbatas. Ia terikat secara organik dengan kewajibannya menjamin kebebasan sesamanya (liyan). Lebih operasionalnya ialah memastikan kenyamanan, kedamaian, keselamatan dan privasi orang lain.

Dalam Islam morality dan social attitude semacam ini sudah diwasiatkan secara terperinci, step by step mulai dari tingkat RT (keRukunan berTetangga), nasional (bangsa, negara), bahkan hingga global persaudaraan (berdasarkan) kemanusiaan.

Terhadap tetangga (lebih-lebih jika mereka masih kerabat) Nabi SAW menegaskan dan memperingatkan agar jangan sampai menyakiti (hati, perasaan) mereka. Kaidah umum ini mencakup jika sang tetangga itu berbeda keyakinan (agama). Dan begitu seterusnya…

Dalam bahasa agama, sikap cuek bebek disebut “meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar”. Konsekuensi logis dan dampak destruktifnya secara sosial ialah bila datang bencana efeknya mengenai semua, termasuk orang yang mestinya mengerti dan mampu mencegah merajalelanya kejahatan publik.

Secara individual di antara akibatnya ialah tidak/sulit dikabulkannya doa. Na`ūdzu billāhi min dzālik.

Poin penting yang harus terus menjadi concern dan perhatian utama setiap manusia ialah bahwa ketiga institusi pendidikan (rumah, sekolah dan masyarakat) itu bukan hanya harus secara adil diperhatikan, tetapi juga harus dikonstruksikan secara integratif sebagai satu kesatuan yang organik.

التربية أجزاء لا تتجزأ

[Al-tarbiyatu ajzā’un lā tatajazza'(u)].

SELAMAT MEMPERINGATI

HARI PENDIDIKAN NASIONAL

هنيئا بمناسبة ذكرى يوم التعليم/التربية الوطني

Kepada para siswa/santri, orang tua, guru, kiai dan segenap pemangku kepentingan pendidikan nasional.

Teriring harapan kiranya pendidikan secara sadar, ikhlas dan bertanggung jawab dilibarasi dari “sangkar emas” birokrasi dan kerangkeng ambisi politik praktis (vested interests) para politisi dan petualang yang tak bertanggung jawab.

Mari kita doakan dengan tulus arwah para pahlawan dan pejuang pendidikan nasional kita. Mari kita teladani mereka. Semoga kelak lahir generasi emas penerus dari rahim generasi sekarang yang shalih. Āmīn.

Wallāhu a`lam.

NB:

Mohon koreksi dan tegur sapa.

Terima kasih. Matur nuwun. Hatur nuhun. Mauliate godang. Thank you. Jazākumullāhu khairan.

Ahad, 2 Mei 2021/20 Ramadhan 1442

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

2 thoughts on “Memaknai Ulang Pendidikan: Refleksi Hardiknas”
  1. Assalamualaikum
    Menarik sekali tulisan di atas
    Berbicara tentang pendidik dan materi pendidikan adalah berbicara tentang fleksibilitas.
    Pada dasarnya, pendidikan sangat sangat bisa berjalan selama ada proses menuju kebaikan dan tumbuhnya kualitas pada diri peserta didik
    Baik pendidikan yg melibatkan orang tua atau tidak. Sebab seringkali orang tua hanya mengajak anaknya jangan seperti ortunya jika ortunya miskin dan harus seperti ortunya jika ortunya sukses tanpa melihat proses yg tepat ke arah yg dituju.
    Proses pendidikan kadang mampu menjadikan peserta didik sukses justru setelah melewati “siksaan hidup” yg diderita peserta didik.
    Maka, solusi yg tepat suatu proses pendidikan tentu harus kembali ke konsep pencipta, Allah SWT.
    Al-Qur’an telah memberikan banyak materi berupa prinsip kehidupan yg sering kali kita nyinyir terhadap hal itu. Baik dari hafalan Alquran yg akan membuat peserta didik dijaga oleh Allah atau dari sisi prinsip hidup yg ada di dalam Al-Qur’an ditambah ibadah untuk membersihkan jiwa pelakunya.
    Sayangnya, adat dan kebiasaan hidup yg ada pada generasi sebelumnya yg sering kita jadikan landasan pendidikan bukan alquran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *