Oleh Pepih Nugraha

Banyak cara bagaimana seorang penulis mengembangkan kemampuan menulisnya, beberapa di antaranya dengan terus menulis, lebih banyak membaca dan rajin mengikuti tutorial menulis dari penulis yang lebih pakar.

Tetapi, pernahkah kamu mendengar bahwa ada beberapa penulis yang justru membunuh kemampuan menulisnya, baik secara perlahan tapi pasti atau secara tiba-tiba!?

Pengakuan teman saya yang seorang cerpenis ternama tahun 1980-1990an ini cukup mengejutkan. Di sebuah WAG yang ia ikuti, saya mengungkapkan keingintahuan saya mengapa ia yang dulu seorang penulis super-aktif, tetapi sekarang sama sekali tidak menulis?

Kemudian ia bercerita pengalamannya mukim di Bali dan berhasil menyelesaikan lima cerpen yang hendak dijadikan buku dengan judul “Perempuan-perempuan Perkasa”. Kelima cerpen itu merupakan hasil pengamatan lingkungan sosial perempuan di Bali dari beragam profesi.

Apa yang terjadi kemudian? File kelima cerpen itu ia simpan begitu saja. Senyampang dengan itu, ia (perempuan) dikarunia anak pada usia yang tidak muda lagi, 39 tahun. Itulah anak satu-satunya. “Keburu bahagiaaaa, dunia dicurahkan buat anak. Lupa nulis. Dan file yang pake WS (WordStar) nggak tahu nyungsep kemana,” katanya.

Atas pengalaman pribadi teman saya yang penulis kondang itu, saya segera paham, kebahagiaan bisa membunuh kemampuan menulis, secara sengaja atau tidak. Selain kebahagiaan, kemapanan dan kekayaan juga bisa membunuh kemampuan menulis.

Ada seorang penulis aktif pada masanya, namun karena sudah menjadi orang berada, pengusaha sukses, politikus kondang, dst mereka lupa menulis atau merasa tidak perlu lagi menulis.

Di sini menulis tak ubahnya jembatan perantara yang sifatnya sementara. Padahal menulis perlu konsistensi. Seperti bersepeda, kamu harus terus mengayuh dan bergerak agar tidak jatuh.

Hal serupa sesungguhnya terjadi pada saya pribadi. Begini ceritanya…

Pertengahan tahun 1980an dan awal 1990an saya termasuk penulis fiksi aktif. Cerpen dan cerbung saya banyak dimuat di majalah kaliber nasional saat itu.

Namun saat memasuki pendidikan wartawan Kompas, guru saya Pak Luwi Iswara mengajukan syarat yang tidak bisa saya tolak: harus menulis berita “straight”, tidak boleh menulis fiksi yang kalimatnya mendayu-dayu dan berbunga-bunga.

“Pilih saja, mau terus menulis fiksi atau menulis berita?” katanya saat pertemuan evaluasi.

Karena tekad saya menjadi wartawan, maka saya tegas katakan bahwa saya mau menulis “straight news”.

Sejak saat itulah secara sadar saya membunuh kemampuan menulis fiksi selama hampir 25 tahun lamanya, tetapi sesungguhnya tidak benar-benar membunuh kemampuan itu, cukup membuatnya pingsan.

Barulah setelah saya tidak lagi menjadi wartawan namun tetap berdedikasi pada kegiatan menulis dan literasi, saya berupaya menghidupkan kembali kemampuan menulis fiksi saya, meski harus tertatih-tatih lagi.

Hasilnya adalah dua novel “Alena” dan “Perempuan Penyapu Halaman” serta satu buku kumpulan cerpen (berisi 21 cerpen) yang saya beri judul “Dua Ustad”. Ketiga buku itu Insya Allah diluncurkan pada bulan Juni-Juli 2021 ini.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *