0 0
Read Time:20 Minute, 39 Second

Oleh Mashuri Alhamdulillah, Peneliti Sastra di Balai Bahasa Jawa Timur

: ngablak pasca-Jumatan

Kadya Baladewa bendu

Abendu dhateng cemuris

Pun Mutamakkin punika

Dhapure memper cemuris

Pabena ing jawi kadya

Ki Cebolek den jujuwing

(Serat Cebolek, pupuh ke-12, bait ke-33)

Sosok KH. Ahmad Mutamakkin, selanjutnya saya sapa dengan Mbah Mutamakkin, dianggap kontroversi, bahkan subversif, dalam diskusrsus keislaman Jawa masa lalu, terutama dari kacamata kekuasaan. Hal itu sebagaimana yang tertera dalam Serat Cebolek, Mbah Mutamakkin dipersepsi bukanlah sosok yang dikehendaki para penguasa, baik itu penguasa politik maupun keagamaan formal. Bahkan, dalam nukilan bermetrum Kinanti di awal ngablak ini, Mbah Mutamakkin diinyatakan dibenci ‘Baladewa’ sebagai sosok ‘cemuris’, yaitu pencuri kesiangan atau orang hina, dan ia disandingkan dengan sosok yang juga dianggap subversif lain, yaitu KH. Rifai Kalisalak.

Memang, sosok Mbah Mutamakkin diabadikan dalam Serat Cebolek dengan nada yang sumbang. Pasalnya, ia dianggap melawan Keraton Jawa yang diwakili oleh seorang ulama resmi bernama Ketib Anom. Ia sempat dijatuhi hukuman mati, tetapi batal. Diperkirakan ia hidup antara 1645-1740, pada masa Mataram Kartosuro era Sunan Amangkurat IV dan Sunan Pakubuwono II. Meski dipandang sebelah mata oleh penguasa, tetapi tidak bagi kalangan umat. Hingga kini nama Mbah Mutamakkin harum semerbak dan anak turunnya dikenal sebagai para ulama handal di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Begitu pula makamnya di sana, selalu menjadi magnet bagi para peziarah. Termasuk juga saya.

Yup, pada awalnya, saya mengenal sosok Mbah Mutamakkin secara sayup-sayup dan yang tertangkap hanya kontroversinya. Saya sempat tertarik ketika sosok itu dipandang tinggi oleh Gus Dur dalam beberapa kesempatan. Namun, tertarik saja tidak cukup untuk membuat diri ini bergerak untuk mengenal lebih jauh. Namun, jalan hidup beralur lain. Saya pun mengenalnya lebih dekat pasca-tahun 2007. Salah satunya adalah dengan berziarah ke makamnya dan lebih sering lagi kemudian. Sebuah kedekatan amatir! Yeah, pada Januari 2007, saya menikah dan isteri saya aseli orang Pati kawasan utara. Apalagi, ternyata keluarga besar di sana banyak yang nyantri di Kajen. Bahkan, Kajen dapat dikatakan sebagai bumi suci ketiga, setelah Makkah dan Madinah. Sori sok hiperbolis nih!

Sebagaimana yang dinyatakan oleh penyair Meksiko, Octavio Paz, ingatan itu rapuh. Ingatan saya terkait dengan peziarahan saya ke Mbak Mutamakkin, begitu rumpang. Bahkan, saya tidak ingat pertama kali datang ke sana, baik itu tahun atau momennya. Yang jelas, semua berlangsung setelah Januari, 2007. Yang jelas pula, momennya saya dan isteri adalah mudik. Mudik kami biasanya naik bis patas jurusan Surabaya—Semarang. Sesampai di Pati, kami turun di kawasan Puri, setelah itu pindah bus keci jurusan Pati—Tayu—Jepara. Kami turun di Tayu. Tetapi pada saat kami dari Pati menuju Tayu, kami selalu melewati kawasan Kajen. Sesampai di Tayu, kami dijemput oleh saudara-saudara yang lain.

Saya pun berusaha mengaduk-aduk ingatan saya yang berlabirin. Akhirnya, dari hasil jepretan saya di FB, saya tahu pertama kali saya ke sana, yaitu pada 19 Mei 2007. Tentu itu, pas mudik. Dari sepotong foto itulah ingatan saya terajut dan terbayang kembali. Foto itu merupa kuda beban yang menarik kereta berisi peristiwa lampau yang hampir tergelincir ke tubir takdir, bernama lupa.

Seingat saya, ziarah saya pertama ke Kajen, sendirian, dengan mengendarai motor adik ipar. Saya menempuhnya cukup singkat. Jaraknya dari rumah mertua dapat disebut sepelemparan batu. Bila naik kendaraan bermotor, hanya 20 menit. Saya berangkat usai waktu asar, sekitar pukul 15.00 dan pulang ketika magrib menjelang.

Sebagaimana biasa, ketika saya berziarah, saya tidak langsung ke makam, tetapi puter-puter mencari souvenir dan buku-buku. Ketika saya sampai di areal peziarahan, saya pun mencari buku sejarah Mbah Mutamakkin. Apalagi, saya sudah punya bekal sedikit, karena sudah punya buku ‘”Syekh Mutamakkin, Perlawanan Kultural Agama Rakyat” karya Zainul Milal Bizawie (Jakarta, 2002). Sok sekali!

Di sebuah gerai buku dan pernak-pernik persis depan makam, saya mendapatkan buku penting, yaitu kajian tentang Serat Cebolek karya Soebardi (2004) berdasarkan disertasi 1975 dan sejarah Mbah Mutamakkin yang ditulis oleh zuriahnya, serta kitab-kitab lawas yang unik, salah satunya Syamsul Maarif, lengkap. Hmmm! Untuk menyantuni keinginan terpendam untuk jadug! Ups!

“Tidak beli buku yang miliknya Gus Bizawie, Mas. Dia orang sini,” terang penjual buku. Di sana, cukup banyak buku-buku yang cukup progresif terbitan Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, di samping kitab-kitab daras pesantren.

“Saya sudah punya, Mas? Yang tentang teks Kajen ada?” tanya saya.

“Tidak ada, Mas. Coba ke toko lain. Mungkin mereka punya,” terang dia.

Saya pun berlanjut mencari buku tentang Teks Kajen ke gerai lainnya dan toko buku. Saya mencarinya, karena menurut Bizawie, Teks Kajen merupakan perlawanan wacana kepada Serat Cebolek. Namun, dari beberapa tokok buku dan souvenir di sana, termasuk toko buku yang khusus untuk menjual buku-buku atau kitab kepesantrenan untuk menyediakan kebutuhan para santri pesantren di Desa Kajen yang begitu bejibun, tidak ada.

“Kayaknya, itu ada di masjid Kajen, Mas. Naskahnya saja. Disimpan takmir. Tidak setiap orang boleh memegangnya,” tutur seorang penjual buku, lainnya, yang terkesan intelek.

Saya hanya menganggukan kepala. Setelah itu, saya sudahi penelusuran saya, dan mulai masuk ke makam. Setelah umik-umik sebentar, waktu sudah menjelang magrib. Saya pun bergegas kembali ke rumah mertua. Hmmm. Apapaun itu, kesan pertama saya terhadap kawasan peziarahan Mbah Mutamakkin sungguh asyik dan menarik. Buku-buku dan kitab begitu banyak dijual. Banyak santri yang berlalu lalang. Sungguh, sebuah iklim intelektual yang maknyus.

Kembali ke soal Teks Kajen. Saya mencari kajian tentang Teks Kajen karena saya melihat, posisinya tidak sekadar mewedar sejarah Mbah Mutamakkin secara cangkeman. Selain itu, saya terlanjur dirayu oleh Gus Zainul Milal Bizawie, yang menegaskan, teks ini merupakan upaya rakyat untuk melawan hegemoni pusat kekuasaan secara politis dan agamis.

Namun, harus diakui di sisi yang berbeda, kisah tutur terkait dengan Mbah Mutamakkin berkembang pun luar biasa dan tidak dapat diabaikan. Dari cerita tutu itulah, saya berusaha memasu riwayat Mbah Mutamakkin. Dikisahkan, Mbah Mutamakkin adalah keturunan Sultan Hadiwijaya. Ia dilahirkan di Cebolek Tuban, lalu berguru ke Mekkah. Dari Mekkah, ia tidak kembali tetapi naik ikan Mladang dan sampailah di Pesisir Kajen, Pati. Oleh karenanya ia disebut Cebolek, cebul melek. Oleh karena itu, ia pun karib di sapa Mbah Mbolek.

Dari sana, ia membangun desa dan pesantren yang hingga kini semakin berkembang menjadi desa pesantren, Kajen. Kajen sendiri berasal dari kaji ijen, alias haji sendiri, sebagaimana tertera dalam “Cerita Rakyat dari Pati” (Jakarta, 2005). Ia pun menjadi guru dan pemuka agama, bahkan mengarang kitab dan berkiblat pada Imam Ghazali yang menyelaraskan antara fikih dan tasawuf, berjudul “Arsy al-Muwahiddin”.

Karena dianggap tokoh keramat, banyak yang berusaha membelanya, ketika ia dicap sesat oleh pihak Keraton Kertosuro. Pada tahun 1972, masyarakat mengumpulkan kisah-kisah mereka tentang Mbah Mutamakkin dan diberi nama “Teks Kajen”. Di dalamnya, berisi tentang perjalanan dan ajaran Mbah Mutamakkin yang versinya berkebalikan dengan “Serat Cebolek”. Zainul Milal Bizawie (2002) menyatakan bahwa “Teks Kajen” itu harus dimaknai sebagai sebuah perlawanan agama dari rakyat. Pasalnya serat tersebut ditulis oleh pujangga keraton dan menempatkan posisi Haji Ahmad Mutamakkin sebagai lebih rendah daripada Ki Ketib Anom.

Hal itu berbanding terbalik dengan adanya “Teks Kajen”, tradisi dan keyakinan yang berkembang di masyarakat. Bila “Serat Cebolek” cenderung memandang rendah Mbah Mutamakkin, “Teks Kajen” menunjukkan betapa tinggi posisi Mbah Mutamakkin, bahkan penguasa Keraton Kertosuro itu menjadi salah satu pengikutnya. “Namun, sebagai teks sejarah antara “Teks Kajen”dan “Serat Cebolek” tidak dapat sebagai rujukan utama dalam penulisan sejarah karena terdapat beberapa distorsi,” tegas Bizawie, dalam bukunya.

Hmmm. Meski demikian, “Serat Cebolek” tetap menarik sebagai komparasi dengan konteks keberagamaan dari waktu ke waktu. Apalagi, versi latinnya sudah diterbitkan dan dapat diakses secara luas. Kajian dan suntingan naskahnya yang ciamik sudah dilakukan oleh Soebardi dalam disertasi filologi di Universitas Leiden Belanda dan terbit pada tahun 1975 dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul “Serat Cebolek; Kuasa, Agama, Pembebasan” (Bandung, 2004).

Sementara itu, versi alih aksara dan terjemahannya juga ada berjudul “Serat Cebolek” diterbitkan Balai Pustaka, tahun 1981. Pengalih aksaranya Sudibjo Z. Hadisutjipto, pengalih bahasanya adalah T.W.K. Hadisuprapta. Versi perbandingan serat tersebut dengan Teks Kajen dan karya Mbah Mutamakkin sudah dibukukan adalah “Syekh Mutamakkin, Perlawanan Kultural Agama Rakyat” karya Zainul Milal Bizawie (Jakarta, 2002) dan sudah singgung seperlunya pada paragraf terdahulu.

Setelah peziarahan pertama tersebut, pada saat saya ke sana lagi setahun berikutnya, sekitar tahun 2008, saya ditemani isteri. Pada saat berziarah ini, kebetulan di sana banyak orang berjualan durian. Karena kepiawaian isteri memilih durian, alhasil, kami mendapatkan sebuah durian, jenis durian petruk, yang dalam sejarah hidup saya: itulah duren ternikmat yang pernah saya kudap. Yeah, kawasan tersebut memang dekat dengan produsen durian enak, yaitu di kawasan Ngablak dan Cluwak, Pati. Daerah perbatasan dengan Jepara.

Setelah ziarah ke Kajen bersama istri tersebut, saya lupa berapa kali lagi saya ke sana, karena hampir tiap tahun, saya ke Pati. Terus terang, bila ke Pati dan tidak mampir ke Mbah Mutamakkin seperti ada yang kurang. Meski demikian, yang mengendap dalam ingatan saya, sekaligus menjadi daya tariknya, adalah kontroversinya ketika berhadapan dengan formalitas kekuasaan agama.

Bagi saya, hal yang menarik kisah yang bermau mitos seputar soal anjing-anjing yang pernah keluar dari raga Mbah Mutamakkin. Berdasarkan kisah-kisah yang beredar, sahdan, pada saat Mbah Mutamakkin sedang tirakat dan riadat, ia minta diikat di sebuah tiang —dan di hadapannya disajikan menu lezat. Lalu keluarlah dua anjing dari raga Mbah Mutamakkin, yang merupakan penjelmaan nafsunya, langsung menyerbu hidangan hingga tandas. Keduanya diberi nama oleh Mbah Mutamakkin, dan menimbulkan kontroversi karena namanya mirip pemuka agama ‘formal’ pada masa itu, diberi nama Abdul Kohar dan Abdul Jabbar. Lebih kontroversi lagi, ketika ada pejabat keagamaan resmi datang ke Kajen dan disuguhi makanan, pejabat itu menghabiskannya, dan Mbah Mutamakkin menyamakannya dengan anjing-anjing yang pernah keluar dari raganya.

Alhasil, pada tahun 2014, tepatnya tanggal 25 Maret, saya ziarah ke makam Mbah Mutamakkin lagi dan merupakan ‘perjumpaan’ yang merambah wilayah kreatif saya. Peziarahan saya ini memang berbeda dengan sebelumnya. Hal itu karena ada momen-momen menarik. Pertama, saya merasa menemukan puisi lagi ketika blusukan di Larantuka dan Lembata pada 19—22 Maret 2014. Sisi yang istimewa, anak saya yang ketika lahir di sana, pada 22 Maret 2014. Saya ke Pati tanggal 23 Maret 2014. Setelah sehari di sana, sebagaimana dorongan dari dalam diri, saya pun ziarah ke makam Mbah Mutamakkin.

Entah kenapa, dalam momen peziarahan itu, saya merasa seperti anjing geladak dan terbuang. Meski demikian, di dalam dada selalu merindu Tuhan. Sok nyufi nih! Dari kegelisahan batin itulah muncul puisi saya yang berjudul “Asu Mencari Tuhan” Puisi ini kelak masuk dalam buku kumpulan puisi Temu sastra MPU di Jakarta pada 2014, yang kebetulan saya mewakili Jawa Timur, juga dalam buku kumpulan puisi saya “Dangdut Makrifat” (Basa-basi, 2018). Di dalamnya, ada aroma sengak dan gelap karena hawa surrealisme yang kembali di Larantuka—Lembata, masih hinggap dalam alam kreatif saya.

ASU MENCARI TUHAN

Bulan itu, Su, serupa lobang meriam
dan gemintang itu seperti tilas senapang
masihkah kau menerka, tuhan masih berdiwana
di baliknya; bukankah sering kuteriakkan, ia kini tak suka sepi
ia berdiam di kerumun, di antara bantingan kartu remi
bahkan menyaru penjual jamu, yang meracikkan
antara legit dan pahit untukmu yang selalu sakit

jangan kau pandang langit begitu sengit, Su
ia hanya atap yang rapuh dan gelap
dan ratapmu itu semakin menambah jelaga
di pilar penyangga yang menyaru udara
bebas, yang kau sebut angkasa raya

jika kau terluka, Su, atau tertusuk duri cinta
kau cari saja ia sebagai penawar
di pasar, atau di sela lagu dangdut dengan goyang getar…
atau di ombak laut yang menggelegar
jangan bunuh diri di goa, di tepi telaga
atau menyendiri di makam danyang desa
dan bulan itu, biar saja menganga, dengan jejak
hitam arang di lengkung lingkarnya

ia hanya korban; sungguh tak ada bidadari di penampangnya
apalagi wajah tuhan
dan bintang-bintang itu, titik-titik kecil bekas peluru itu, akan
mengatup kembali

bila malam telah berganti, dan meriam lain sedang menyala
di cakrawala dan sering kau sebut dengan surya
sudahlah, Su, tak usah mencari tuhan di kesepian…

Kajen—Tayu—Dukuseti, Pati, 25 Maret 2014

Sejak saya menulis puisi tersebut, muncul hasrat dalam diri saya untuk mengkaji Serat Cebolek. Namun, hasrat itu tak kunjung terrealisasi karena konsentrasi saya masih ke naskah lainnya, yaitu Serat Sindujoyo, naskah pesisiran Gresik. Pada bulan April 2017, saya bertandang ke Pati. Pada saat tepat saya ulang tahun, tanggal 27, saya berziarah ke makam Mbah Mutamakkin sendirian. Saya berangkat dari desa mertua di Grogolan Dukuhseti dengan naik motor pinjaman. Di jalan, ide berziarah ke makam Mbah Mutamakkin berkembang. Saya ingin melacak nama-nama tempat yang disebut dalam Cebolek. Saya pun berusaha menapaktilasi “Serat Cebolek”. Tulisan lengkapnya pernah tayang di Majalah Panji Balai, akhir tahun 2017, dengan judul “Napak Tilas Serat Cebolek dan Mbah Mutamakkin”.

Yeah, saya tertarik dengan “Serat Cebolek” karena termasuk khasanah Jawa legendaris. Karya sastra yang bermetrum tembang macapat ini dinisbatkan sebagai hasil karya pujangga Keraton Kasunanan Surakarta pada abad ke-18, yaitu Yasadipura I, meskipun ada pula yang menyatakan bahwa usianya lebih tua, yang mengandung debat vis a vis Islam ortodok vs Islam sinkretis.

Di dalamnya terdapat kisah perdebatan Ketib Anom Kudus dan Mbah Mutamakkin. Anehnya, serat tersebut memenangkan Islam ortodok, yang terdapat pada person Ketib Anom. Sebuah pemihakan yang agak aneh, karena Yasadipura I adalah pujangga keraton pada masa Sunan Paku Buwana I. Yang lebih aneh, pada sisi lain, serat juga memperkenalkan ajaran Dewa Ruci, spiritualitas Jawa berdasar pada lakon wayang purwa dengan tokoh anak kedua Pandawa, Bima, saat mencari air kehidupan. Versi itu tidak ada dalam cerita Mahabarata India.

Namun, saya sengaja tidak fokus pada yang berbau agama dan perdebatannya dengan topik pandangan tasawuf yang sundul langit dan melegenda dalam dunia Islam dan berbagai peradaban, mulai dari Irak, Iran, hingga wilayah Nusantara, di antaranya Aceh, Jawa, Bugis, dan lainnya. Hal itu menyangkut tafsir agama dan ketuhanan, dengan interpretasi yang falsafi. Dalam khasanah Jawa, dikenal sosok seperti Syekh Siti Jenar, Sunan Panggung, Ki Ageng Pengging, Malang Sumirang dan lain-lainnya. Saya sadar diri, untuk mengurai soalan berbau jeroan itu membutuhkan piranti mahaberat dan perlu kedalaman lebih dari sekadar berbicara perihal fenomena permukaan yang asolole.

Oleh karenanya, penelusuran yang saya lakukan adalah pada tilas “Serat Cebolek” dan tokoh utama di dalamnya, meliputi nama desa, tinggalannya yang masih ada, yang mengusik dan menerbitkan keasyikan, karena ternyata hingga kini masih terjaga. Karena itulah, saya menelusuri keberadaan beberapa tempat-tempat yang tercatat dalam “Serat Cebolek”, sebagaimana yang telah dilakukan Nigel Bulough, asli Inggris, yang menyandang nama Jawa, Slamet Hadimulyo, saat menelusuri jejak Prabu Hayam Wuruk yang ditulis Rakawi Parapanca dalam “Negarakertagama” atau “Desawarnana”. Saya berusaha mengendus beberapa tilas dalam serat, dengan tidak melupakan esensi dan pengertian tentang “Serat Cebolek” itu sendiri.

Saya kira lawatan saya yang akan saya lakukan bukan sekadar menyambangi tempat-tempat imajiner, karena karya sastra lama sering digurat seiring dengan fungsinya sebagai alat dokumentasi sejarah, sistem pengetahuan, dan fenomena kultural pada masanya. Tujuan lainnya adalah menguak kontroversi letak “Cebolek” yang berkisar antara Tuban dan Pati, yang hingga kini masih menjadi versi-versi di kalangan pemerhati sastra karena analisisnya hanya berdasar pada teks-teks tertulis semata.

Konon, Cebolek adalah akronim dari cebol melek, alias cebol dan bangun, yang merupakan cap dari pihak Keraton Kertosuro pada sosok Mbah Mutamakkin. Ada yang menyebutnya cebol elek, orang kecil dan jelek. Itu adalah penyebutan diri, eufemisme kerendahhatian diri Mbah Mutamakkin. Adapula yang mengaitkannya dengan kepindahan Mbah Mutamakkin dari Tuban ke Kajen Pati, yang ucel-ucel melek. Apapun itu, selanjutnya Mbah Mutamakkin pun karib disapa Mbak Mbolek.

Kini nama Cebolek dapat ditemui di Pati, tetangga Kajen, sebagai nama desa. Sebutan desa tersebut dengan Cebolek memang tak dapat dilepakan dari sosok Mbah Mbolek, alias Mbah Mutamakkin. Ihwal asal-usul Cebolek ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli karena berdasar “Serat Cebolek”, Cebolek berada di Tuban, tetapi realitas nama desanya berada di Pati. Ihwal ini juga menjadi pertimbangan dalam napak tilas saya.

Pada tanggal 27 April 2017 itu, saya bertolak dari rumah mertua di kawasan Kecamatan Dukuhseti, langsung menuju Desa Kajen, kurang lebih 20 KM sebelah utara Pati, di mana kini berkembang menjadi desa pesantren. Di sini terdapat masjid tua dan naskah kuno peninggalan Mbah Mutamakkin. Sayangnya, saya belum dapat mengaksesnya. Saya mampir ke makamnya sambil melihat-lihat pal nama sepuluh lebih pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang dikelola para tokoh yang masih terbilang keturunan Mbah Mutamakkin.

Setelah dari Kajen, saya ke Desa Cebolek, sesuai dengan nama karya tulisnya. Desa ini persis sebelah utara Kajen. Namun, kini Cebolek dibagi menjadi dua, yaitu Cebolek Lor dan Cebolek Kidul. Cebolek juga menjadi desa santri. Berdasarkan data dari RMI (Rabithah Ma’ad Islamiyah) Jawa Tengah terdapat beberapa pondok pesantren (PP), madrasah dan perguruan Islam di Cebolek, di antaranya PP Nurwiyah, PP Jannatul Huda, PP Al Inayah, PP Mansajul Huda, dan PP I’anatut Tholibin.

Selanjutnya, yang tak kalah menariknya adalah ke Desa Bulu Manis. Di desa sebelah timur laut Kajen tersebut terdapat Sumur Mbah Mutamakkin dan tilas pesantren pertama yang pernah didirikan Mbah Mutamakkin. Sebuah sumur tua dan legendaris. Sayangnya, saya tidak membawa airnya pulang dan hanya memotretnya, sambil umim-umik sebentar saja.

Sungguh, menelusuri tempat-tempat tersebut begitu mengasyikan. Saya kira menelusuri tempat-tempat dalam karya sastra kuno adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan karya dan khasanah lama. Selain itu, juga mengamalkan antara laku keberaksaraan dan keberlisanan karena sesungguhnya untuk khasanah lama, keduanya saling menopang dan melengkapi, dan bukan saling menihilkan. Bila kita hanya terpaku pada teks, tentu keberadaan Cebolek masih kontroversi. Namun, begitu kita juga menelusuri konteksnya, terkuaklah beberapa fakta baru yang mendukung keberadaan teks. Selain itu, yang lebih utama adalah penelusuran ini sebagai sambang atau wisata literasi dengan menafsirkan khasanah lama sesuai dengan generasi kini. Kebetulan kawasan tersebut dekat dengan rumah mertua….

Alhasil, ketika pada sore harinya, saya balik ke rumah mertua dan sedang sendirian di depan rumah, yang ada langgarnya, persis ketika senja merekah di cakrawala barat, saya mendengar suara-suara anak-anak desa mengaji. Sebuah momen putis muncrat dari benak saya. Namun, saya lagi-lagi teringat anjing-anjing dalam tirakat Mbah Mutamakkin, dan saya hanyalah salah satu anjing itu…

SENJA DI DUKUH KECIL

: Catatan Pasca-Cebolek

Suara bocah mengaji dari surau Kaji Mutamakin terdengar dingin. Telingaku dijejali es batu. Rumpun bambu berayun oleh lengan angin. Kulihat dua anjing berdiri di depan gapura batu. Lelaki tua itu turun dari tangga. Ia berucap bismillah, menyemprotkan ludah, lalu berkata: “kun fayakun, malih rupa!” Kedua anjing menjadi manusia. Aku diam tanpa bahasa dan wimba. Diam-diam aku masih binatang pesing. Nasib adalah kesunyian anjing-anjing.

Grogolan, Rajab—Ruwah, 27 April 2017

Sebagai pembaca, puisi itu memang terlalu wagu sebagai penanda hari lahir. Namun, apa daya, sebagai penulis, saya merasa ‘mengalami’ kondisi demikian, yang begitu terasing dari diri. Bila Chairil Anwar menyatakan, nasib adalah kesunyian masing-masing, saya pun memplesetkannya bahwa nasib adalah kesunyian anjing-anjing…

Begitu saya kembali ke Sidoarjo dan menapaki hari-hari sebagaimana sebelumnya, proses saya dalam menafisr Cebolek masih berlangsung. Suatu malam, pada akhir Mei 2017, ketika saya sendiri di teras rumah, sambil membaca Serat Cebolek, saya seperti diungsikan dari ruang saya di sebuah dusun di Sidoarjo ke Kajen. Sebuah puisi muncrat dari alam ambang batin saya. Puisi naratif, sebuah usaha untuk mencairkan peristiwa dalam bentuk puisi. Saat itu, saya sedang mencoba untuk memberi celah bagi kepekatan puisi gelap, yang selama ini saya geluti.

SEMALAM DI KAJEN

: menafsir cebolek

Dipandangnya Ketib Anom, tanpa berkedip di pendapa yang berhias ukiran jati Jepara
Lelaki berbaju dan bersarung kusut itu merasa sebagai ayah. Ia harus mengalah dari anak muda di hadapannya yang pantas sebagai puteranya
Dilihatnya anjing-anjing masih menyalak dalam diri pengkhotbah dari Kudus
yang mengabdikan dirinya pada raja di selatan Jawa
Ditakarnya ilmu kawan berdebatnya itu
dan ia segera tahu, benang-benang sanadnya hanya sampai alif ba’ ta’ dan berhulu rapuh di ujungnya
Ia menurunkan sarung dan ujung baju di lengannya ketika vonis hukum bakar dititahkan…
Tanpa kehendak ingkar, diam-diam ia ke pantai Mandalika, menatap camar-camar, ikan-ikan, pulau yang terapung sendiri, juga cakrawala barat yang mulai menghitam pekat, seperti menyimpan sebuah firasat kubur
Bumi Jawa segera berganti pakunya, gumamnya, sambil bersandar pada batang nyiur.
Sejarah mencatat, raja Jawa wafat…
Lelaki yang masih berdarah Demak itu menutup keropak kitab ihya’ dengan linang air mata
: Ah, dunia. Kenapa kau selalu menyuguhi kami-kami yang mini ini dengan permainan yang seakan-akan abadi

Siwalanpanji 29 Mei 2017

Masih pada tahun 2017, karena penelusuran saya belum tuntas pada Serat Cebolek, saya pun berencana untuk menapaktilasinya di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kebetulan saya punya jadwal berkegiatan di sana. Sebagaimana sudah disinggung, dalam Serat Cebolek, nama Tuban juga disebut sebagai awal keberangkatan Mbah Mutamakkin. Bahkan, dari seorang informan awal, dinyatakan di Bumi Ranggalawe tersebut, Mbah Mutamakkin disebut dengan Mbah Mbolek. Yeah, dalam “Serat Cebolek” disebutkan Ahmad Mutamakkin lahir dan berasal dari Cebolek, Tuban.

Dari beberapa sumber, saya pun menelusuri beberapa desa di Kabupaten Tuban. Namun, dari sekian daftar nama desa di Tuban, tidak dikenal Desa Cebolek. Saya curiga, nama tersebut sudah menjadi nama dusun dan biasanya nama dusun hilang ditelan nama desa yang menjadi pusat administrasi. Ketika saya telusuri, ternyata Dusun Cebolek juga tidak ada di Tuban. Saya mulai menengok temuan baru para ahli bahwa Cebolek itu tidak di Tuban tetapi di Pati.

Di tengah rasa putus asa dan menganggap bahwa telah terjadi salah tulis dalam “Serat Cebolek” karena Cebolek adanya di Kabupaten Pati, muncullah secercah fajar. Saya mendapat informasi berharga bahwa Mbah Mutamakkin benar-benar pernah singgah, bahkan berasal dari Tuban dan tilasnya masih dapat dilacak keberadaannya dalam bentuk artefak keyakinan, dan tradisi lisan di Tuban.

Berdasarkan tradisi tutur di sebuah dusun di Tuban, terdapat petilasan Haji Mutamakkin, bahkan ia dipanggil warga dengan sebutan Mbah Mbolek. Sebagaimana dugaan saya, jejak itu memang berada di pedukuhan atau pedusunan, tepatnya di Dukuh Winong, Desa Sugiharjo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Bahkan, disebutkan bahwa petilasan di sana adalah petilasan pertama. Namun, karena dalam kepala saya sudah terisi dengan nama Cebolek, saya pun mengorek sumber saya dengan mencari mencari dusun dengan nama itu.

Ternyata, berdasar tradisi tutur, nama Cebolek sudah hilang dan berganti dengan Winong. Saya berusaha mencari asal-usulnya pergantian nama tersebut, tetapi semua jalan seakan-akan buntu. Yang saya tahu, Winong adalah nama sebuah pohon, yang sudah dikenal sejak zaman Jawa Kuno. Petilasan Mbah Mbolek berada di sekitar Masjid Karomah, Winong. Di masjid itu tersimpan beberapa peninggalan berupa kalbut (tempat mengeringkan kopyah), nampan kayu, genuk dan lumpang batu. Selain itu, pohon Sawo Kecik di halaman masjid dan sungai sebelah barat masjid turut menjadi saksi bisu keberadaan Mbah Mbolek di Winong.

Tempat lainnya yang juga menyimpan jejak Mbah Mbolek adalah Masjid Mutamakkin di Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban. Tradisi lisan di tempat-tempat tersebut mengukuhkan bahwa Mbah Mbolek, yang masih berdarah biru itu memang pernah singgah di sana, bahkan lahir di sana. Sebagaimana tradisi lisan, kehadiran sosok itu berbalut mitos dan legenda. Mungkin karena pada saat itu, penelusuran saya bersamaan dengan literasi di Tuban lainnya, saya tidak keharian puisi terkait dengan Mbah Mutamakkin, tetapi terkait dengan Ranggalawe, adipati Tuban legendaris.

Namun, sekitar awal tahun 2020, ketika pandemik mulai melanda, dan saya tidak dapat ke mana-mana, entah kenapa saya teringat dengan anjing-anjing Mbah Mutamakkin. Saya pun membuka kembali Serat Cebolek. Pada saat itulah, imajinasi saya berjalan-jalan kembali ke Kajen. Saya pun menuliskannya dalam ebuah puisi agak panjang, dengan judul yang mengambil judul lagu dangdut Evi Tamala, yang ternyata bersuamikan orang Trangkil, Pati. Berikut saya nukilkan beberapa bait saja karena puisi itu terlalu panjang dan rumit.

SELAMAT MALAM, DUHAI KEKASIH

: Serat Cebolek

“selamat malam, duhai kekasih”

ia membuka tirai di tepi serambi
ketika para pria pesisir sudah jauh
dari pantai —muasal labuhan
suara mereka, para penghayat laut
dendangkan
mantra
berurat
tembang
keramat
peramban ikan, tanpa pukat
‘dah hilang ditelan debur gelombang
yang tersisa
hanya angin
pesing
desir pasir berisik
dan sepiring mina
tilas kemarin
sebagai penguji hening
dan kelesik
riuh dada
….

Sidokepung, April 2020

Pada liburan akhir tahun 2020, tepatnya pada 26 Desember 2020, saya bersama anak isteri ke Pati dengan kendaraan sendiri. Kebetulan, saya diminta untuk ikut menemani famili ke salah satu pondok pesantren di Kajen, yang diasuh oleh dzurriah Mbah Mutamakkin –kebetulan keponakan saya nyantri di sana, dan saya diminta untuk menjemputnya karena sakit. Ketika sedang di lingkungan Kajen, meskipun saya tidak ziarah ke makam Mbah Mutamakkin, saya merasa diri terbelah. Memang, sehari-hari, saya selalu saja memakai sarung, tetapi kepala saya selalu beterbangan seperti burung. Saya pun merasa diri sebagai yang ‘tidak jelas’, sebangsa manusia perbatasan.

Pada malam hari, ketika saya di halaman rumah mertua yang luas, ketika melihat angkasa desa dipenuhi dengan bintang-bintang di angkasa, saya menulis sebuah pendakuan diri sebagai manusia perbatasan, sebuah istilah yang pernah digunakan oleh Subagyo Sastrowardoyo.

MANUSIA PERBATASAN

aku berjalan ke barat
menapaki peta
peta kesaksian para pelawat
sebagian berdenah buta, tergurat
lewat abjad tanpa dawat
beberapa titik
seperti tanda baca
memanjang dalam kenangan
hilang
nama
aku pun mencatat babad
babad lewat
juga nubuat
seperti tukang mendring
menagih kreditan panci-piring
meski tanpa angka-angka
sebab di timur
masih tergali sumur
dengan gayung-timba
yang hilang buhul
dengan semesta bertera:
rahasia
dengan peringatan sederhana
di papan petunjuk arah
: ‘bukalah netra
pada mimpi-mimpi kabur
hingga liang kubur’
aku berjalan ke barat
dengan rambu
buku-buku
dan dzikir batu-batu
mungkin ada kiblat
sebagai batas
kelana
mungkin hanya dada
sendiri, membuncah
lewat munajat
kata
nirkata
hu ya!

Pati, 2020

Demikianlah. Perjalanan demi perjalanan dan perjumpaan demi perjumpaan dengan jejak Mbah Mutamakkin dan ikhtiar sederhana untuk menapaktilasi tinggalannya berdasarkan warisan tertulis yang ada, yaitu Serat Cebolek, meskipun juga tidak dapat abai pada kisah-kisah cangkeman. Tetapi entah kenapa, hingga kini, meski saya sudah menangkap kilasannya dan membuhulnya dalam bentuk puisi, saya merasa belum berjalan ke mana-mana. Saya merasa selalu berjalan di tempat, berputar-putar saja, seperti penjelajah hutan yang terjerat akar mimang!

On Sidokepung, 2020

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id