0 0
Read Time:4 Minute, 24 Second

Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dunia pendidikan saat ini sedang menghadapi perubahan dan persaingan, seiring pula dengan penyebaran wabah covid-19 yang belum bitu mereda. Berbagai macam solusi terkait penemuan proses pembelajaran yang efektif dan efisien terus diupayakan. Para pendidik terus mencari inovasi baru tentang bagaimana proses pembelajaran yang terbaik untuk generasi yang dikenal dengan sebutan “generasi y”, yang salah satu ciri khasnya, melakukan banyak hal menggunakan aneka piranti teknologi. Generasi ini dalam menyelesaikan pekerjaannya di satu jendela berupa layar perangkat digital, mengirimkan pesan, membaca, menonton film menggunakan mata mereka secara bersamaan.

Mereka hidup di dunia yang hampir dikelilingi aneka stimulasi menggunakan aneka bahasa visual. Namun dalam pelaksanaanya Proses pembelajaran bersaing dengan banyak gangguan dari perangkat teknologi. Instruksi pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dikelas perlu dibuat sedemikian rupa untuk mampu menarik perhatian dan motivasi pembelajar. Faktanya, beberapa siswa menggambar-kan adaptasi mereka dari pembelajaran mandiri berbasis teknologi ke format pendidikan tradisional sebagai “penurunan daya”(Puttnam,2007). Dari itu semua, proses pembelajaran perlu dirubah. Bagaimana cara mengubah, cara mengajar untuk menjangkau pelajar generasi visual ini, salah satunya melalui literasi visual.

Literasi visual dimaknai sebagai “bentuk kemampuan untuk menafsirkan, menciptakan dan menegosiasikan makna dari informasi yang berbentuk gambar visual. Literasi visual diartikan pula sebagai kemampuan dasar di dalam menginterpretasikan teks yang tertulis menjadi interpretasi dengan produk desain visual seperti video atau gambar”(Ginting (2020), Begitu pentinya literasi visulal ia meposisikannya kedua setelah literasi digital. (Baca https://rumahbaca.id/kenali-varian-literasi).

Dalam perjalannya Visual telah menjadi satu medium dalam proses komunikasi manusia. Proses informasi yang dipelajari melalui berbagai sumber belajar yang didominasi oleh layar dan visual ini memerlukan bimbingan, agar para pembelajar juga turut merasakan pelibatan secara langsung dari apa yang mereka lihat dengan kenyataan. Visual sebagai modalitas yang mendominasi sumber belajar perlu diperdalam lebih lanjut tentang bagaimana penggunaannya dalam proses pembelajaran. They wanted to experience educationsee it, hear it, and create it. Influenced by current culture, their learning modalities were overwhelmingly visual (Riddle: 2009). Visual menjadi salah satu bahasa yang mampu menstimulasi berbagai macam kemampuan seseorang dalam pembelajaran. Sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan refensi yang konkret tentang sebuah ide, kata-kata tidak dapat mewakili dan menyuarakan benda. Visual bersifat ikonik (tanpa kata sudah menunjukan arti), oleh karena itu setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang di tampilkan.

Visual biasanya dianggap sebagai bentuk komunikasi yang bukan dalam bentuk lisan. Braden (1996) mengidentifikasi lima kategori visual yang sudah diteliti oleh peneliti bidang pendidikan: (1) Semiotics dan film/video conventions; (2) Sign, simbol dan ikon; (3) Gambar dan ilustrasi (4) Multi-images; dan (4) Graphic representation.

Dalam perkembangannya, sampai abad ke 20 ketertarikan pada representasi visual lebih banyak hanya terkait dengan sejarah seni dan seni. Fokusnya ada pada artis atau seniman atau persepsi penikmatnya. Namun pada paruh kedua abad ke 20, terdapat perluasan minat dalam representasi visual, untuk menyertakan gambar pada keseharian lingkungan (Jewitt: 2008).

Untuk hal itu, Bruner (Arsyad: 2013) mengidentifikasi ada tiga tahapan perkembangan kognitif dan pembelajaran yaitu: (1) Enactive, yaitu seseorang melakukan aktivitas dalam upaya untuk memahami sekitarnya (pengalaman langsung). (2) Iconic, yaitu seseorang memahami objek melalui gambar dan visualisasi yang digunakan sebagai bantuan proses berpikir. (3) Simbolic, yaitu seseorang mampu memiliki ide-ide atau gagasan abstrak yang dipengaruhi oleh kemampuan dalam bahasa dan logika. Terkait fungsinya dalam perkembangan kognitif, maka visual memiliki fungsi yang cukup penting dalam perkembangan proses berpikir.

Visual berhubungan erat dengan mata atau penglihatan. “visual dapat dilihat dengan indra penglihat (mata); berdasarkan penglihatan” (KBBI, 2017). Dalam penggunaannya visual digunakan sebagai salah satu bentuk komunikasi dalam menyampaikan suatu informasi. Visual memiliki peran penting dalam membangun proses metakognitif seseorang. Untuk hal itu, Linda (2008), menegaskan bahwa visual secara efektif dapat membantu seseorang untuk:

Pertama: Menjelaskan prosedur; visual mampu menjelaskan sesuatu proses dengan atau tanpa teks;
Kedua Belajar kosa kata; gambar/ikon dapat membantu dalam memahami sebuah pengertian;
Ketiga Mengorganisir data untuk menemukan pemecahan masalah; bagan, grafik dapat menampilkan sebuah kesimpulan data;
Keempat Komunikasi lintas budaya; seseorang dari negara manapun dapat mengenali berbagai macam rambu, misalnya lalu lintas.

Dengan demikian visual dapat membantu menstimulasi proses metakognitif seperti mengatur bagaimana mengamati, melihat, memperhatikan, membayangkan, memperkirakan atau menilai. Terbangunnya proses metakognitif yang positif dapat membangun kemandirian dan tanggung jawab dalam berpikir dan belajar. Dalam mempelajari literasi visual seseorang dituntut tidak hanya dapat membaca visual namun juga mampu menulis dalam bahasa visual. Walahu A’lambishowab.

Penulis: Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Provinsi Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search?+ a.rusdiana+shopee&source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RumahBaca.id