Oleh Mashuri Alhamdulillah*)

: ngablak isuk

“Menurut cerita tutur Jawa, seorang ahli agama berkebangsaan Arab berasal dari Jeddah, bernama Wali Lanang, telah memperistri seorang putri raja ‘kafir’ Blambangan (yang telah disembuhkannya dari suatu penyakit); ia mendapat seorang anak laki-laki dari perkawinan itu. Wali Lanang meninggalkan Blambangan karena ia tidak berhasil mengislamkan rajanya. Bayi itu dimasukkan ke dalam peti dan dilemparkan ke laut dan kemudian diselamatkan oleh seorang nakoda perahu milik Nyai Gede Pinatih dari Gresik, janda Patih Samboja.” (De Graaf & Pigeaud, 1985: 176).

Saya tiba di kaki Bukit Pecaron, termasuk Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Situbondo, dalam kondisi tubuh lungkrah. Lokasinya sepelemparan batu dari Pantai Wisata Pasir Putih, di sebelah utara ruas Jalan Deandles yang berakhir di Panarukan. Tubuh saya memang lungkrah. Badan pegal, flu berat, dan kepala pusing. Saya sampai di lokasi ketika hari sudah mulai sore. Jam menunjuk sekitar pukul 16.00. Begitu menyadari hari itu Kamis, saya pun langsung mengerti kenapa begitu banyak peziarah datang berombongan dengan elf dan colt bak terbuka, dan banyak penjual makanan dan minuman di jalan, juga pernak-pernik. Yup, selain Selasa, sore itu yang terhitung menjelang malam Jumat, adalah saat peziarahan di Bukit Pecaron, yang diyakini warga sebagai petilasan Maulana Ishaq, yang dalam khazanah Jawa lain disebut Wali Lanang, sebagaimana tulisan De Graaf & Pigeaud di awal ngablak.

Mungkin gambar samudera

Saya juga datang berombongan bersama lima orang kawan. Empat orang dari Balai Bahasa Jawa Timur, dan seorang kameramen. Bukan hanya saya sendiri yang hampir tumbang, kondisi kawan-kawan juga sedang tidak fit. Akhirnya, disepakati yang mendaki bukit adalah kameramen dan ditemani satu orang saja. Adapun, kawan yang terbilang ‘masih’ kuat mendaki Bukit Pecaron untuk mendampingi kameramen adalah kawan Farid. Sebenarnya kondisi kawan ini tidak lebih baik dari lainnya, karena dia yang bertanggung jawab pada transportasi kami. Namun, apa mau dikata, kawan lainnya kondisinya lebih buruk lagi.

Kondisi kami demikian amburadul, karena rombongan kami baru saja menjelajah beberapa kawasan di Situbondo, mulai Kuto Beddah, Peleyan, Tambak Ukir, Bukit Kendit, Panarukan, dan lain-lainnya. Kami melancong ke bebeberapa situs non-mainstream yang menguras banyak hal. Termasuk adanya beberapa insiden yang membuat kami tepar. Yeah peristiwa ziarah plus plus itu sudah lawas, pertengahan tahun 2017, dalam rangka visualisasi sastra dan bahasa di Situbondo yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Timur. Tetapi, dalam ingatan saya, ‘petualangan’ itu seperti baru kemarin saja.

Kembali ke Bukit Pecaron, akhirnya saya memutuskan untuk turut serta mendaki bukit, apapun yang terjadi. Terus terang, sayalah yang merekomendasikan pada tim untuk mengambil Pecaron sebagai salah satu objek atau situs sejarah penting di Situbondo. Bila saya sampai tidak ikut hingga puncak, tentu saja saya merasa sangat bersalah. Selain itu, saya pribadi ingin tahu tentang Bukit Pecaron. Hal itu karena nama Pecaron demikian masyhur, meskipun insformasi awal membuat saya agak blingsatan juga. Informasi awal menyebutkan, meskipun bukitnya tidak tinggi, tetapi curam dan jalan pendakian hanya setapak dan berbatu. Konon, bila tergelincir, langsung terjun ke laut. Hmmm. Jika kondisi saya fit, mungkin kabar awal itu tidak masalah, tetapi kondisi tubuh sedang kedodoran. Meski demikian, saya memaksakan diri. Pertimbangan utama saya adalah keberadaan petilasan atau tempat khalwat, bahkan ada yang mempercayainya sebagai makam, Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, dari ibu Dewi Sekardadu, Puteri Blambangan yang masyhur tersebut. Pertimbangan tersebut yang tidak dapat ditawar!

Yeah, Pecaron atau yang tercatat dalam Kakawin Negarakertagama dengan nama Pacaron adalah tempat tua. Meski merupakan kawasan yang pernah menjadi perlintasan Hayam Wuruk, yang termaktub dalam Negarakertaga, tetapi masyarakat Situbondo mengenalnya sebagai kawasan situs ziarah bersifat Islami, karena faktor keberadaan petilasan Maulana Ishaq. Hanya saja, perlu diketahui, di Situbondo, ada tiga tempat yang diyakini sebagai tempat petilasan Syekh Maulana Ishaq. Selain di Pecaron, terdapat di Bukit Bantongan, Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan dan Bukit Tampora, Kecamatan Banyuglugur. Uniknya, kedua tempat tersebut juga disebut Mpu Prapanca dalam Kakawin Negarakertagama.

Adapun di sepanjang pantai utara Jawa, seperti di Gresik, Tuban, hingga Semarang, juga dikenal petilasan Syekh Maulana Ishaq. Bahkan, di Desa Mantren (Kemantren), Kecamatan Paciran, Lamongan, terdapat sebuah makam yang disebut sebagai Makam Maulana Ishaq, dan yang mempopulerkannya adalah Gus Dur. Memang, nama Maulana Ishaq masyhur dalam kisah-kisah Islamisasi di Jawa. Namanya, juga tercatat dalam berbagai khazanah, mulai dari Babad Tanah Jawi, Serat Centini, Serat Walisanga, dan sembrek khazanah Jawa lama lainnya. Soalan ini sudah saya tulis dalam sebuah riset sederhana, yang dimuat di jurnal Suluk, UIN Sunan Ampel Surabaya, dengan judul “Genealogi Wabah dalam Cerita-Cerita Dewi Sekardadu, Kajian Sastra Pandemik” pada Desember 2020, lalu.

Kembali ke Bukit Pecaron. Pecaron tersebut berbeda dengan Pecaron, yang terdapat makam R. Tjondro Kusumo. Ia diyakini sebagai tokoh yang hidup pada masa Belanda dan masih keturunan Sunan Kudus. Situs ini juga merupakan salah satu situs ziarah di Situbondo. Namun, bila Pecaron temat petilasan Maulana Ishaq berada di Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, sedangkan makam R Tjondro Kusumo berada di Desa Pecaron, Kecamatan Kendit, 12 Km dari pusat kota Situbondo. Makam bersejarah ini juga terletak di atas bukit, dengan ketinggian sekitar 300 M dari permukaan laut. Disebut dengan Bukit Ringgit. Konon, di bukit inilah pendiri kota Besuki, Ki Pate Alos atau Raden Wirodipuro, pernah berkhalwat dan mendapatkan pusaka sakti dan tunggangan kuda putih. Tentu saja, sesepuh Besuki itu juga berkhalwat di Bukit Pecaron, tempat petilasan Maulana Ishaq.

Mungkin gambar pohon dan alam

Begitu mulai menapak di kaki Bukit Pecaron dan menyaksikan begitu banyak orang naik, tekad saya mulai agak kendor, karena melihat lokasinya persis di tepi laut dan tebingnya curam menjulang tinggi. Sisi utara bukit Pecaron memang berbatasan langsung dengan laut Selat Madura. Namun, begitu melihat orang-orang tua, yang naik ke Bukit Pecaron dengan langkah ringan dan tanpa beban, meski membawa beban makanan, membuat darah muda saya terbakar. Akhirnya, dengan tertatih-tatih saya mulai mendaki bukit yang dipenuhi dengan mitos yang jos tersebut.

Konon, dulu, Bukit Pecaron tidak menyatu dengan daratan dan cukup jauh dari tepi pantai. Untuk mencapainya bukit itu, orang harus menggunakan perahu. Namun, dengan keistimewaan Syekh Maulanan Ishaq, bukit tersebut bergeser, dan menyatu dengan daratan. Bahkan, ada peristiwa unik yang kami alami sehari sebelumnya. Saya tidak tahu, apakah itu kebetulan atau tidak. Pada saat kami menyewa perahu di Pantai Peleyan untuk mengambil gambar Benteng VOC di Kota Beddah, kami dibawa pemilik perahu menuju Bukit Pecaron, lewat laut.

“Kok lama tidak sampai-sampai lokasi, Pak?” tanya saya, agak sedikit berlogat Madura, ketika saya dan rombongan merasa sudah naik perahu selama satu jam, tetapi belum juga sampai di lokasi.

“Lho, bukankah tujuan kalian-kalian ke Pecaron!” tutur pria pemilik perahu. “Itu lokasinya. Kelihatan. Kurang satu jam setengah lagi, kita sampai!” lanjut dia, sambil menunjuk sebuah bukit menjorok ke laut, yang tampak biru, di depan.

Kami pun terhenyak, lalu memberitahu tujuan yang semestinya. Akhirnya, perahu putar balik menuju Benteng VOC di tepi Pantai Peleyan, yang sudah demikian jauh kami lewati. Sesampai di lokasi, ternyata benteng itu sudah tidak ada. Kondisinya sudah terkikis karena digerus abrasi pantai. Bahkan, untuk melihatnya, hanya dapat diakses lewat perahu. Itu pun kami hanya dapat menemukan pondasinya saja.

Namun, di kawasan Pantai Peleyan ini, kami mendapatkan banyak ‘temuan’, terkait dengan situs Kota Beddah, yang juga tercantum dalam Negarakertagama. Konon, di sini, Hayam Wuruk pernah mampir dari perjalanan touringnya. Raja Majapahit paling top itu menginap di sekitar Peleyan, sambil melakukan audensi dan tatap muka dengan para pembesar di sekitar kawasan itu. Di sini, kami pun menguak adanya beberapa situs yang hancur dan hanya meninggalkan cerita-cerita lisan, mulai dari taman sari, makam Cina, dan tugu Portugis.

Di Peleyan itulah, saya mulai mengembangkan kecurigaan bahwa Blambangan era Majapahit itu terletak tidak jauh dari Peleyan–Panarukan, bukankah ibu kota Blambangan yang ‘baru’ pada era Prabu Tanpa Uno, ayah Prabu Tawang Alun itu di Panarukan? Entahlah. Entah bagaimana ceritanya juga, ‘penemuan’ itu ada tebusannya. Ketua tim terjatuh saat berjalan di pematang kebun tebu, terkilir kakinya, dan jalannya terpincang-pincang, padahal rute dan tujuan kami masih panjang.

Mungkin karena banyak hal di Peleyan, saya pun menulis sebuah puisi. Alhamdulillah, puisi itu tersiar dalam buku yang diterbitkan Komunitas Sastra Timur Jawa, setelah dimuat di koran Kompas. Judulnya: Peleyan.

Peleyan

: catatan berburu kenangan

Reruntuhmu menjulang di buku-buku —seperti nasib Majapahit yang kini gaib. Tapi menapaki tilas di pematang, di antara kebon tebu, pecahan batu-batu, kisah-kisah hantu, tak kutemu mercu itu. Mungkin kau ‘lah hijrah ke alam entah dan inderaku alpa mengikuti denah yang terwarta dalam tilas yang bernama sejarah

Kutha Beddah, ranahmu berdiwana, kini tinggal ceritera tamansari yang dihuni peri kejam dan jelita; tugu Portugis, benteng VOC, bong Cina, dan jejak artefak yang menyempurnakan wujudmu, tinggal gerimis yang tak menyuarakan irama

Lewat pintu mana, aku harus mengetukmu, bila rumahmu tinggal rangka. Lewat jalan mana, aku menujumu, jika seluruh lorong tertimbun batu-batu dan tanah. Mungkin aku mengenalmu tanpa pernah bertemu, kerna kabar yang sampai di dadaku, ‘lah membuat seluruhku bergetar dalam hasrat menggebu.

O melankoli. O sepi. O ceruk liturgi
Kelak, dalam bahasa kanak, entah lewat tembikar atau onak, bakal kurakit kisah-kisah tanpa rasa sakit. Kisah yang tertuang dalam madah-madah baru, dengan notasi bertumpu reruntuhmu: kolam mungil, keruh, dan harap-harap gemas pada lekukmu. Nyanyian masa lalu pun terdengar utuh, mengendap di bukit-bukit ingatan, menjadi senandung pujian para nelayan, dan bakal digurat di buku-buku yang berombak di pantai pengetahuanmu yang kini dicekik paceklik berkepanjangan
Situbondo, 2017

Karena peristiwa Peleyan, yaitu perahu kami mengarah ke Pecaron, akhirnya kami bersepakat tetap mampir ke Bukit Pecaron pada perjalanan balik dari kota Situbondo, meskipun eksplorasi bukit tersebut bukan prioritas utama. Hmmm. Ternyata, info awal benar, karena jalan menuju puncak bukit Pecaron hanya selebar dua meter. Jalan itu disusun mirip tangga batu hingga ke puncak bukit dengan sangat sederhana. Tangganya terbuat dari deretan batu. Hanya beberapa bagian saja yang ditambal dan dirapikan dengan semen. Karena kondisi sedang drop, akhirnya di tiap tikungan, saya berhenti. Padahal jaraknya sebenarnya tidak jauh dan tidak jauh-jauh amat. Mungkin sekitar 400 meter.

Sesampai di puncak, saya langsung observasi lokasi. Meski hanya sebuah petilasan, jejak atau tempat khalwat, dalam kamar utama bertuliskan Syekh Maulana Ishaq itu terdapat sebuah bangunan makam. Terdapat juga dua batu hitam mengkilap di kamar berukuran 4 x 4 M. Batu itulah yang diyakini sebagai tempat duduk sang Syekh dalam bermunajat dan mendekatkan diri pada Tuhan. Sayangnya, saya belum menemukan goanya karena informasi asal, di sana juga terdapat goa, sebagai tempat khalwat. Alhasil, saya pun akhirnya mojok sebentar, untuk menenangkan diri, mengatur nafas, sambil umik-umik sebentar sebagaimana orang tradisional. Sebuah puisi muncrat dari alam kreatif saya, seperti suara lirih yang merangkum ‘mbolang’ tiga hari sebelumnya di Situbondo.

Perjalanan Ziarah

di Situbondo, di antara harum tebu dan reruntuh,
kutemukan jejak samar
bernama rindu
ia mengeras bersama tembikar
yang dikirimkan waktu
ia mengekal dalam bahasa
yang hanya dimengerti kalbu
di Tambak Ukir, ketika tembang pujian memintal kenangan,
ada yang berdzikir pelan-pelan
menghikmati Sri Tanjung —dengan tilas
perawan bening berkain kawung
di Pecaron, kudekap langit tanpa daya
doa-doa serupa cahaya
meluruhkan sesayap laron
lungkrah ragajiwa, seperti buron
kehabisan kesaktian kata-kata
“ya, Maulana, patik sudah datang
izinkanlah memetik kembang
yang dulu, dikau tanam…..”
Situbondo, 2017

Saya belum sampai taraf menenangkan diri, ketika kawan Farid menepuk bahu saya, untuk segera menemaninya mewawancarai juru kunci. Saya bangkit, lalu kami menemui juru kunci yang sudah stand by di depan kamera. Kami pun melontarkan beberapa pertanyaan, yang dijawab dengan sangat lancar. Kira-kira beginilah uraian juru kunci yang mirip dengan kisah-kisah yang selama ini muktabatar dalam kisah-kisah di Jawa, baik dalam tradisi lisan maupun tradisi tulis.

Dikisahkan, Bukit Pecaron adalah tempat munajat dan mengasingkan diri Syekh Maulana Ishaq setelah terusir dari Blambangan. Sahdan, Syekh Maulanan Ishaq ke Tanah Jawa sebagai wali kelana. Ketika itu, dia mendengar ada sayembara di Kerajaan Blambangan. Sang Raja Blambangan, Menak Sembuyu mengeluarkan sayembara. Isinya, siapa saja yang bisa menyembuhkan putrinya yang sedang sakit parah, maka dia akan dijadikan menantu. Syekh Maulana Ishaq pun mengikuti sayembara tersebut dan berhasil memenangkannya. Sejak saat itu, sang Syekh mencoba mengislamkan sang istri maupun seluruh isi istana.

Namun, kesuksesan Syekh Maulana Ishaq mengundang iri dan dengki patih kerajaan. Karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah, Sang Syekh memilih menyingkir dari istana. Dia hanya berpesan kepada istrinya yang sedang hamil, agar jika anaknya lahir diberi nama Raden Paku dan dihanyutkan ke laut. Setelah besar, Raden Paku ini menjadi salah satu wali yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa yakni Sunan Giri. Syekh Maulana Ishaq sendiri, setelah menyingkir dari istana memilih terus berkelana ke arah barat. Selama perjalanan itu, dia terus menyebarkan agama. Salah satu tempat khalwatnya adalah Bukit Pecaron.

Setelah kami merasa informasi yang kami dapatkan cukup, kami pun pamit ke juru kunci. Saya menuruni dengan tertatih-tatih lagi. Sungguh, kondisi badan saya tidak semakin membaik, tetapi semakin tidak karu-karuan. Kami istirahat sebentar di parkiran mobil. Ketika siang mulai berganti malam, kami pun bergerak kembali ke Sidoarjo. Namun, begitu sampai di kawasan Pebatasan Probolinggo—Situbondo, ketua tim memutuskan untuk menginap di sebuah hotel di sana. Saya pun menyambutnya dengan gembira. Saya butuh merebahkan diri. Saya minta satu kamar sendiri. Begitu masuk kamar di lantai satu, pukul 21.00, saya tidak keluar kamar hingga pagi. Sungguh, sepanjang malam itu, saya merasa tubuh saya seperti terbakar. Sebuah buah puisi pun muncul dari buhul ambang bawah sadar, dalam kondisi tubuh yang demikian luruh dan lungkrah.

Pecaron
: cinta pertama sang laron

Rembulan tak lagi utuh, o cintaku, seperti donat yang disayat gigi susu anak- anak sewindu –ceritera pun tak lagi berkumpar pada taring Batara Kala, o belahan hatiku, kerna dalam ritus selingkuh dengan jilmaan Uma palsu, gigi itu tak setajam dulu.
Tak tahukah kau, di sini, anak cucumu kerap bermain nujum tanpa niat bernubuat dan bersijabat dengan penguasa keramat gelap. Kerna jarum jam zaman lebih tajam dari tebasan sejuta parang dan kalam
Kepadamu o, sang pengelana dunia, kutitipkan sisa bayang-bayang bumi di balik kelir takdirmu; kulingkarkan segenap korona, mengganti gelap dengan harapan-harapan tuk sempurna menapaktilasi jejakmu.

Tapi entah kenapa kenangan masa lalu selalu menyaru cinta pertama. Ia menjadi hantu, sekaligus penggoda yang begitu perkasa membalik mata: galaksi pun tak mengenal bumi bundar, tapi tanah datar, seperti lapangan tanpa bola. Karena itulah, o pelukis darah di tubuhku, kurelakan sayap-sayapku luruh menuju cahaya, yang berkumpar di damarmu.
Situbondo, 2017

Pagi harinya, kondisi badan saya mulai membaik. Saya pun keluar kamar, lalu berjalan ke belakang hotel. Latar belakang hotel memang asolole, berupa pantai menghadap Selat Madura, dengan tatanan taman yang ciamik. Saya duduk di sebuah bangku ketika fajar masih tergambar di langit timur. Sendirian. Ketika matahari mulai terbit, saya terpana menyaksikan panorama sunrise di ufuk timur begitu memukau. Diam-diam, saya mengucap syukur alhamdulillah.

Yeah, bukankah menulis puisi adalah sebentuk ungkapan syukur! Cihui!

On Sidokepoeng, 2021

*) Tenaga Teknis Sub Bidang Pengkajian (Peneliti Sastra) di Balai Bahasa Jawa Timur

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *