Oleh: Kang Masyhari

Di sejumlah riwayat terkait peristiwa mi’raj Nabi Muhammad saw, beliau dikatakan ‘bertemu’ Allah di Mustawa, setelah tiba di Sidratil Muntaha.

Demikianlah riwayat yang berkembang seputar isra’ dan mi’raj. Beliau, ketika mi’raj yang bertolak dari Masjid al-Aqsha Baitul Maqdis di Palestina, naik ke langit. Begitu disebutkan dalam riwayat itu.

Saat sampai ke langit, lapis satu, dua, tiga, hingga ke langit ketujuh, beliau bertemu dengan beberapa nabi. Ketika sampai ke Sidratil Muntahà, Nabi ‘bertemu’ Allah swt dan mendapatkan perintah salat lima waktu.

Kabar di sejumlah riwayat, sebelumnya tidak hanya lima waktu, tapi lima puluh rakaat. Ketika bertemu dengan Nabi Musa AS, beliau diberi saran supaya nego minta diskon ke Allah agar tidak memberatkan umat. Akhirnya, beliau berdiskusi dengan malaikat Jibril AS. Lantas, beliau putar haluan, balik ‘ketemu’ Allah untuk nego minta diskon. Singkatnya beliau dapat diskon gede, hingga 5 waktu.

Selain itu, kabarnya, di Palestina sana, ada satu batu terapung di udara, tanpa alas apa pun. Wallahu a’lam. Saya belum tahu kebenaran soal ini. Konon, batu itu lah yang menjadi pijakan Nabi saw saat hendak naik Buraq. Batu tersebut hendak ikut terbang saat Nabi Muhammad Saw terbang bersana Buraq yang hendak mi’raj, namun ditahan oleh Nabi.

Sementara itu, dalam kitab ar Rahiq al Makhtum, Shafiurrahman Al Mubarakfuri (2004: 136) yang mengutip dari Zadul Ma’ad, juga sejarahwan lain menyebutkan bahwa ketika beliau Saw ditanya tentang sejumlah hal tentang yang dilihat oleh Nabi dalam perjalanan isra’, beliau bisa menjawab dengan benar, sesuai dengan kenyataannya.

Berdasarkan deretan kisah itu, peristiwa Isra’ dan Mi’raj dilakukan oleh Nabi saw tidak hanya oleh ruh beliau, tapi secara fisik (tubuh jasmani) beliau. Menurut pendapat ini, beliau diperjalankan oleh Allah dalam kondisi sadar, tidak dalam kondisi tidur. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama sebagaimana disebutkan misalnya dalam tafsir Fathul Qadir QS Al-Isra ayat 1 (Asy Syaukani, 2007: 583).

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj adalah dengan ruh beliau saja. Ini seperti mimpi, tapi mimpi yang realis, nyata. Kita tahu bahwa mimpi Nabi saw tidak seperti mimpi kita manusia kebanyakan yang sebatas bunga-bunga khayalan saat terjaga. Menurut pendapat ini, jasad Nabi saw tidak ikut perjalanan isra’ dan mi’raj. Ini merupakan pendapat Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, Mu’awiyah, al-Hasan, Ibnu Ishaq dan Hudzaifah bin al-Yaman (Asy-Syaukani: 583).

Pendapat kedua ini terbantahkan oleh kenyataan bahwa beliau naik Buraq; bagaimana mungkin ruh dapat naik Buraq? Bagimana pula beliau hanya dalam mimpi, sementara Nabi saw sendiri menyatakan secara eksplisit dalam hadis, bahwa beliau saat diisra’kan dalam kondisi antara tidur dan bangun (Asy-Syaukani: 583).

Nah, terlepas apakah yang jalan-jalan malam hari sejauh itu dengan waktu yang amat singkat itu secara fisik dan ruh ataukah ruhnya saja, pertanyaan sekarang: langit yang dimaksud itu yang mana? Apa hakikat langit yang dimaksud?

Di atas langit masih ada langit. Ini ucapan majazi (kiasan) belaka. Artinya, di atas seorang ilmuan, masih ada ilmuan lain yang lebih tinggi ilmunya, di atas orang kaya, masih ada yang lebih kaya lagi, dan seterusnya. Alhasil, yang dimaksud dengan kata “di atas” tidak selalu berarti tempat secara lahiriah.

Adakah langit yang dimaksud itu materil? Dalam artian, benar-benar kasat panca indera manusia, yang suatu saat bisa jadi akan bisa digapai oleh manusia. Atau kalaupun ilmu pengetahuan tidak dapat mencapainya, apakah itu sifatnya materil?

Ataukah langit yang dimaksud itu hanya semacam dimensi lain yang bisa ditembus oleh Nabi saw -atas kehendak Allah- dalam waktu yang amat singkat, sebagaimana pendapat Agus Musthofa?

Ataukah langit yang dimaksud itu sekedar lapisan atmosfir? Kalau yang ini kayaknya agak jauh dari konteks peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Meskipun sebagain ada tafsir ilmiah yang memaknai kata sab’u samawat dengan tujuh lapisan atmosfir.

Pertanyaan selanjutnya, benarkah Nabi Muhammad saat itu bertemu Allah di langit?

Jika demikian, berarti selama ini klaim sebagian kalangan bahwa Allah bertempat di langit dibenarkan?! Bukankah Allah tidak bertempat dan tidak butuh ruang?

Kalau misalnya, iya, Nabi ‘bertemu dan menghadap’ Allah di langit, apa makna bertemu di sini? Apakah Nabi melihat wujud Allah dengan mata kepala beliau, ataukah hanya sebatas sebagaimana Nabi Musa As yang bertemu Allah di bukit Tursina? Di mana beliau hanya berdialog dengan Allah tanpa melihat secara lahiriah.

Terkait hal ini, al-Mubarakfuri (2004: 136) mengutip pendapat Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dan Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa yang benar yaitu beliau saw tidak melihat Allah secara kasat mata. Bahkan, tegas Al-Mubarakfuri, tak seorang pun dari kalangan sahabat yang mengatakan bahwa beliau melihat Allah secara kasat mata.

Sampai saat ini, saya kira belum ada ilmu pengetahuan yang dapat mencapai dan merasionalisasikan peristiwa tersebut. Dan, begitulah perdebatan dan klaim kebenaran antara sejumlah pihak atas makna hakiki sifàt Allah. Sebenarnya itu hanyalah persepsi manusia yang sifatnya subjektif. Sebab, pengetahuan manusia sangat terbatas.

Oleh karena itu, cukup bagi kita meyakini apa yang kita klaim sebagai kebenaran sesuai capaian otak kita. Dan, biarkan orang lain meyakini yang dicapai oleh otaknya. Selebihnya, cukup kita beriman dan percaya, meski akal kita tak mencapai pada hakikatnya. Karena akal manusia memang terbatas.

Ya, manusia tidak harus tahu bagaimana gambaran yang sesungguhnya. Karena manusia hanya dituntut untuk percaya, beriman. Soal hakikat sifat yang hakiki bagaimana, itu bukan hal yang inti.

Perdebatan soal hakikat hal gaib ini selalu tidak berujung, selain pada klaim kebenaran dari masing-masing kubu, hingga pada akhirnya saling mengkafirkan.

Karena itulah, Sayyidina Abu Kabar Ash Shiddiq radhiyyallahu ‘anhu, ketika mendengar kisah perjalanan malam itu, beliau langsung percaya dan yakin, tanpa bertanya-tanya lagi bagaimana gambaran dan hakikatnya. Makanya, Abu Bakar mendapatkan gelar Ash Shiddiq, yang membenarkan, saat banyak orang tidak percaya peristiwa itu, karena tidak masuk akal. Masalah akidah, keyakinan, tidak harus bisa dinalar oleh akal.

Sebab inti keimanan itu percaya dàn yakin. Adapun hakikat yang sebenarnya, itu kita serahkan kepada Allah. Manusia tidak terbebani dengan itu. Kalaupun suatu saat nanti ilmu pengetahuan dapat merasionalisasikan, saya kira tidak akan terlalu berpengaruh pada tingkat keimanan. Wallahu a’lam.

Cirebon, 12 Maret 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *