Oleh Drg. Zahrotur Riyad, Influencer Kece Badai

Oh no!! 5 tahun yang lalu aku telah menulis catatan agak panjang tentang pernikahan mereka berdua. Sama sekali tidak ada maksud nyinyir dan iri dengki.

Saat itu sebagai dokter gigi yang memegang program PKPR (Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja) yang bertugas di Puskesmas di pulau terpencil, kasus-kasus pernikahan di usia remaja benar-benar menjadi kasus yang signifikan untuk diperhatikan. Putus sekolah menjadi salah satu penyebab pernikahan usia remaja.

Pernikahan usia remaja kemudian menjadi penyebab angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, karena remaja yang hamil dan melahirkan pada usia remaja mempunyai resiko yang tinggi.

Saat itu, dipanggil ke pulau untuk memberi konseling bagi sepasang remaja yang menikah karena MBA adalah menjadi tugasku. Ini memunculkan empati sekaligus kekuatiran atas nasib generasi muda, atas masa depan negeri ini.

Catatan yang kutulis 5 tahun lalu selain mendapat dukungan juga menuai hujatan yang luar biasa. Yang berkomentar menghujat menyatakan bahwa aku lebih mendukung zina daripada menikah. Oh yeeaaahhh…

Poin kedua yang kutulis adalah bahwa tulisanku waktu itu memang untuk melawan kampanye pernikahan usia remaja yang dilakukan oleh kedua anak kecil ini dengan difasilitasi oleh para orang tua di sekeliling mereka.

Bayangkan, umur 17 tahun dan baru menikah satu minggu, terus anak kecil ini dijadikan narasumber seminar tentang pernikahan, berkampanye ke mana-mana mengajak untuk menikah muda. Maksudnya itu loohh??????

Mirisnya, yang memberikan panggung adalah orang-orang dewasa, bahkan orang tuanya sendiri.

Saat itu aku ngowoh, sementara di lapangan aku dan para dokter puskesmas se-Indonesia raya berjibaku untuk melakukan kampanye pencegahan pernikahan usia remaja, sampai pulang dari pulau jam 11 malam naik perahu. Lah ini anak kecil, baru menikah satu minggu berkeliling disuruh bicara tentang pernikahan dan mengajak remaja se-Indonesia untuk menikah muda.

Bahkan kemarin ada yang komentar, anak kecil ini ketika baru menikah dijadikan narasumber seminar di salah satu universitas di Jatim dan yah apalagi kalo ndak mengajak menikah muda???

Bayangan yang salah tentang pernikahan membuat anak-anak kecil ini salah dalam memandang motivasi dan perjalanan suatu pernikahan.

Dikiranya pernikahan itu macam dongeng princess-princess-an yang happy ever after, yang tiap harinya cium-ciuman dan peluk-pelukan (meski sebenarnya ini bener juga sih yaaa…kha kha kha kha..hush!!), yang tiap harinya ngomong “i love” melulu sambil membelai-belai pipi pasangan.

Membayangkan gandengan tangan. Membayangkan ketika jatuh langsung ditangkap dalam dekapan dan pelukan anak kecil yang jadi suaminya macam yang ada di Drakor.

Karena macam itu yang dibayangkan, maka pernikahan dan menikah menjadi suatu hal yang digampangkan dan dianggap gampang. Padahal pernikahan itu bukan hanya tentang motivasi fisik dan mencari sensasi apalagi untuk dijadikan konten.

Para selebgram ini sudah menggambarkan realitanya. Ada selebgram yang hafal al-Quran menikah dengan selebgram model yang juga masih sama-sama kecil. Terbukti buyar.

Ada Alvin dan Larissa Chou yang pernikahannya 5 tahun lalu juga sangat gegap gempita bak dongeng. Diawali debat antar agama. Lalu sang mempelai perempuan menjadi mualaf menikah bagai dongeng dan bla bla bla…

Aku paham bahwa pemikiran masyarakat Indonesia masih mencari, menginginkan dan melihat hal-hal yang terlihat sempurna tiada tara. Setiap hari bahkan setiap menit seperti itu. Karena itu acara-acara infotainment atau reality show yang tidak reality mempunyai begitu banyak penonton.

Tapi saatnya kita menyadari dan berpijak pada realita bahwa di dunia yang fana ini, kesempurnaan atas diri manusia itu tidak ada. Tidak akan pernah ada. Selevel apapun jenis manusia itu. Apalagi menggantungkan impian pada selebgram-selebgram hanya karena mereka terlihat begitu wah dan glamor.

Penolakanku saat itu bukan atas hak mereka untuk menikah di usia remaja yang bahkan ayahnya terang-terangan mengurus dispensasi masalah umur, karena UU kita menetapkan minimal usia 19 tahun untuk laki-laki menikah.

Penolakanku adalah atas kampanye ajakan mereka untuk menikah pada usia remaja, karena ketika itu terjadi. Menikah pada usia remaja menjadi tren.

Maka, yang akan menanggung akibatnya adalah manusia se-Indonesia raya. Angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Angka kecacatan bayi karen lahir prematur akan tinggi. Angka perceraian akan tinggi. Angka putus sekolah akan tinggi. Angka pengangguran akan tinggi. Lalu masa depan negeri ini akan terjun bebas.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *