Oleh Syaerurrozie, Ketua PAC IPNU Kec. Krangkeng Indramayu

Rumah Baca – KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan secara politis di parlemen (DPR dan DPR) melalui Sidang Istimewa (SI) MPR RI yang dipimpin oleh Amin Rais.

Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 23 Juli 2001, 20 tahun yang lalu. Gus Dur pun akhirnya meninggalkan Istana Kepresidenan.

Saya jadi teringat buku “Menjerat Gus Dur” karya Mas Virdy yang berisi data-data yang mengarah pada skenario dan rencana penjatuhan Gus Dur oleh kekuatan oligarki politik.

Bukan untuk balas dendam, pengungkapan data-data sejarah perlu terus diupayakan, sebagai pelajaran agar kita tak selalu diwarisi awan gelap masa lalu, agar catatan sejarah yang tidak tepat bisa diluruskan.

Jejak digital tidak mudah dihapus. Siapa saja dalang di balik atas pelengseran Gus Dur, dari partai apa saja, dan dari organisasi apa saja bisa dilihat di buku Menjerat Gus Dur: Merawat Ingatan, Menolak Lupa.

“Tidak ada jabatan di dunia ini yang layak dipertahankan dengan tetesan darah dan mati-matian.” Demikian pesan terakhir Gus Dur sebelum keluar dari istana.

Sebelum Sidang Istimewa MPR, Gus Dur mengganti banyak posisi menteri melalui Dekrit Presiden. Perlawanan ini bukan untuk mempertahankan jabatannya sebagai presiden, tetapi menentang langkah yang menurutnya inkonstitusional.

Gus Dur tak kuasa menahan air mata. Ia meminta maaf berkali-kali karena meminta tidak mengucapkan terang kepada para ulama tentang politik yang dihadapinya. Dengan mendorong para ulama dan pengurus pondok pesantren, lewat tengah malam pada tanggal 23 Juli 2001, Gus Dur mengeluarkan dekrit presiden.

Menurut catatan NU Online, dekrit itu akan membahas tentang Sidang Istimewa yang akan diadakan beberapa jam mendatang oleh MPR yang dipimpin Amien Rais. Hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan hukum yang memvonis Gus Dur melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan sejumlah orang, baik kasus Buloggate dan Bruneigate.

Tangis Gus Dur pecah bukan karena takut kehilangan jabatan, sebab akan dilengserkan. Beliau menangis karena melihat para ulama dan pendukungnya yang memiliki komitmen kuat untuknya yang harus kecewa, karena Gus Dur akan lengser.

Gus Dur bahkan menahan ribuan orang yang ingin berangkat ke Jakarta. Gus Dur tidak mau terjadi kerusuhan dan chaos antar sesama anak bangsa. Menurut laporan Kompas, 300.000 relawan berani mati siap berangkat ke Jakarta.

Jauh-jauh hari sebelumnya, Gus Dur menyambangi sejumlah ulama di beberapa pesantren. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang dalam buku “Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa” (2017) mengungkapkan pesan Gus Dur berupa satu kalimat yang menurutnya terus terngiang di telinga, membekas di hati, dan tidak akan pernah hilang.

“Kalau tawakal, Anda berani dan layak hidup,” pesan Gu Dur sebagaimana dituliskan oleh Gus Yusuf Tegalrejo dalam buku tersebut (2017: 172).

Kalau tawakal, Anda berani dan layak hidup

Gus Dur

Pesan tersebut, kata Gus Yusuf, disampaikan Gus Dur kepada para kiai yang diundang jelang pelengseran sebagai presiden. Kalimat seperti ini mendukung dan benar-benar jitu menjadi pembuktian untuk Gus Dur setelah lengser. Tawakal menjadi sumber kekuatan Gus Dur yang semakin menantang kehidupannya demi kepentingan bangsa Indonesia.

Untuk Gus Dur –Allah Yarham- lahul Fatihah

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *