Oleh Masyhari, Founder Sobar Literasi Nusantara, Pembina Sahabat Literasi IAI Cirebon

Banyak orang yang enggan memulai untuk menulis karena takut tulisannya nanti jelek, takut tulisannya tidak berkualitas sehingga dicemooh pembacanya.

Ketakutan atau kekhawatiran sebenarnya suatu hal yang wajar bagi manusia. Akan tetapi, kalau rasa takut yang tidak pada tempatnya itu terus menghinggapi, bisa jadi akan membuat orang tidak maju dan berkembang.

Begini gaees.. Dalam dunia ini tak ada yang murni instan. Semua butuh proses menuju, tidak ujug-ujug, sim salabim langsung jadi. Kamu baru mulai nulis, masih newbee, pendatang baru dalam dunia tulis menulis, tidak mungkin bisa langsung bagus dan berkualitas tulisanmu. Seorang penulis kawakan, level nasional, bahkan internasional sekali pun, tidak mungkin tulisannya langsung bagus ketika pertama kali menulis.

Ibarat naik sepeda, ketika pertama kali kita bersepeda, tentunya akan jatuh terlebih dahulu, karena belum terbiasa. Kita butuh waktu untuk belajar keseimbangan. Kita butuh proses untuk bisa menguasai stang. Kita butuh waktu cukup untuk bisa menjadi pesepeda yang andal.

Kalau ingin menjadi seorang pembalap sepeda, tentunya harus lebih banyak waktu yang kita luangkan untuk belajar dan berlatih, dalam rangka meningkatkan jam terbang kita dalam bersepeda. Ya, jam terbang. Kuncinya, semakin sering kita berlatih bersepeda, semakin bagus dan hebat seseorang dalam bersepeda.

Memang, tidak sama waktu yang dibutuhkan oleh setiap orang untuk mencapai tahapan dan keahlian tertentu. Bisa jadi ada seseorang yang hanya butuh satu hari belajar naik sepeda sudah bisa mengayuh sepeda dengan baik dan lancar. Sebagian yang lain bisa jadi butuh lebih banyak waktu, seminggu misalnya, untuk bisa mengayuh sepeda dengan baik.

Begitu juga dengan menulis. Ada yang sudah memiliki ‘bakat’ bawaan dalam menulis. Kalau dalam teori Multiple Intelligences, ia termasuk kategori cerdas linguistik, misalnya. Sehingga, ia hanya butuh sedikit sentuhan saja sudah mahir dalam bermain kata-kata.

Ada pula orang yang sudah sering berlatih dalam menulis, tapi tidak juga bagus kualitas tulisannya. Maka, dengan terus berlatih dalam menulis, sembari ia perbanyak membaca, maka tulisannya akan cenderung membaik dan meningkat kualitasnya.

Sebagai pemula, alangkah baiknya bila kita tidak terlalu dipusingkan soal kualitas tulisan. Yang terpenting adalah perbanyak kuantitas tulisan. Menulislah dengan sederhana. Tulislah apa yang ingin kita tulis. Tulislah hal sederhana. Tulislah apa yang akrab dengan kita. Banyak penulis menyebutnya dengan istilah freewriting, menulis gaya bebas. Tulis apa saja dengan semau kita.

Tulisan yang bagus dan berkualitas tidak selalu yang dipenuhi dengan istilah akademik nan asing yang mengesankan intelektualitas penulianya. Tulisan yang sederhana pun bisa jadi bagus. Karena itu mulailah menulis. Jangan pikir soal kualitas dahulu. Pokoknya nulis.

Selamat menulis.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *