Kali ini, admin Rumah Baca akan berbagi tulisan Eni Ratnawati berupa opini tentang bagaimana solusi dalam mengatasi kendala atau hambatan saat penulis. Tulisan ini juga membahas bahwa menulis merupakan alternatif terapi kesehatan jiwa. Selamat menyimak, ups, membaca.

Salah satu hambatan dalam menulis adalah kekhawatiran kita tentang seberapa layak tulisan itu dinikmati dan diterima, atau ketakutan kita jika tulisan itu berpotensi menyinggung atau menyakiti orang lain.

Menulis bukan sekadar menuangkan ide atau cerita, tapi di sana terdapat proses internal yang sangat kuat, saya menyebutnya proses penyembuhan, darinya kita perlahan belajar mengenai penerimaan diri, melepaskan dan mengihklaskan.

Menulis tidak semata menyajikan kata-kata yang membingkai makna sedemikian rupa sehingga terbentuk cerita yang apik. Tetapi pengalaman hidup, pergulatan batin, dari sebuah keresahan, terkadang kegeraman, yang tak bisa disampaikan oleh lisan namun mendesak untuk dituliskan.

Dengan kata lain, menulis adalah sebuah terapi. Percaya atau tidak, sebagian orang bahkan merasa harinya belum lagi lunas jika ia belum merampungkan suatu tulisan. Terapi untuk mengendapkan problematika, menguarnya, meresapi dan mengambil hikmah. Apakah harus dipublikasikan? Itu pilihan.

Selain sebagai terapi, yang tidak kalah penting untuk dipahami oleh para pegiat aksara adalah bahwa menulis itu sebuah proses. Intensitas dan kualitas bacaan sangat mempengaruhi kestabilan dalam menulis. Maka jika ada yang mengeluhkan hambatannya dalam menuangkan aksara, sudah sewajarnya dipertanyakan kuantitas bacaannya.

Berbicara soal solusi mengatasi hambatan dalam menulis, setiap penulis saya yakin memiliki kiat tersendiri bagaimana ia memompa semangat, mengalirkan ide, menstabilkan diri dengan rutinitas menulis yang menurut sebagian orang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dan sedihnya, kesan itu memang benar. Menulis sebagai proses menuangkan pikiran yang terkadang berwujud dalam seni pengakuan dan penerimaan diri memang tak semudah melupakan mantan. Menulis itu seperti memasak atau apa pun yang dibutuhkan ketelatenan di dalamnya, keterikatan rasa yang perpaduannya akan menjadikan tulisan berasa lezatos.

Bahkan, masih menurut saya, penulis hebat sekelas Robert Galbraith, Sir Artur Conan D, Andrea Hirata, memiliki riwayat jatuh-bangun dalam dunia cikal bakal tulisannya. Mereka tak lantas menjadi bintang dalam satu malam. Ada proses yang tak bisa kita lihat, tetapi bisa dibuktikan melalui karya-karya mereka yang bestseller. Proses itu panjang, berliku, dan terkadang memaksa untuk menyerah.

Tentang menyerah saat menulis, saya pun pernah mengalaminya. Terjadi sekira empat atau lima tahun berselang saat saya mulai iseng menulis. Hanya asal menulis, yang penting nulis, bukan untuk dipublikasikan, apalagi dikomersilkan. Karena seingat saya, cita-cita saya waktu remaja adalah menjadi istri yang salihah, sedikit pun tak terlintas keinginan menjadi penulis.

Lebih dari 150 halaman terselesaikan dalam entah berapa pekan. Tapi setelah 150 itu saya dilanda stagnan. Saya menemui jalan buntu. Dan tiba-tiba saja saya melihat tulisan saya waktu itu sangat tidak menarik, kacau, membosankan. Persis seperti menonton bioskop Transtivi yang filmnya nyaris selalu diulang-ulang.

Lalu, seperti remaja labil yang baru diputus pacar, saat saya melihat ide baru masuk ke dalam pikiran saya, dengan sangat tidak sopan saya berpindah haluan dan meninggalkan tulisan pertama saya. Saya berkhianat. Berpaling. Saya mendua.

Apakah Kawan pernah mengalaminya? Tidak masalah. Kamu bukan tipe yang tidak setia. Dan kamu bukan satu-satunya yang mengalaminya. Mungkin kamu hanya sedang ingin ‘dimanja’. Sentuhan ide baru yang segar dan menghidupkan kreatifitas bisa jadi pilihannya.

Hanya, teruslah menulis! Biarkan jatuh-bangun itu menjadi pemanis. Pada akhirnya, semua tulisan kacau-balau itu adalah aset paling berharga yang kelak membentuk karakter tulisanmu menjadi kuat, menjerat, dan memesona.

#Menulis_Hidup

#Menulisreligius

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *