Oleh Arief Fathur Rizqi*)

Rumah Baca – Pernahkah kita mengamati, ayat-ayat al-Quran yang bercerita tentang para nabi, di era manakah mereka hadir?

Ambil contoh Nabi Ibrahim, yang menurut para ulama, beliau hadir di Babilonia. Dan kita tahu Babilonia termasuk bangsa kuno yang memiliki peradaban maju, contohnya The Hanging Garden.

Mungkin seni luar ruangan

The Hanging Garden

Begitu juga, Nabi Yusuf dan Nabi Musa di Mesir. Beliau berdua hidup di Era Mesir kuno. Dan kita tahu Mesir kuno termasuk bangsa yang memiliki peradaban maju yang peninggalannya masih bisa kita saksikan sekarang. Piramida contohnya.

Keterangan foto tidak tersedia.

Nabi Salih hadir di Bangsa Tsamud yang memiliki peradaban maju dengan ciri menjadikan bukit-bukit batu sebagai istana-istana megah, di Hegra.

Nabi Hud hadir di Bangsa ‘Ad di negeri Iram yang disebut city of the pillars (negeri tiang-tiang) negeri yang dibangun dengan megah.

Mungkin gambar luar ruangan

Nabi Hud hadir di Bangsa ‘Ad di negeri Iram yang disebut city of the pillars (negeri tiang-tiang) negeri yang dibangun dengan megah.

Dan Nabi Muhammad hadir di era Romawi dan Persia, 2 imperium besar yang memiliki warisan teknologi dan ilmu pengetahuan melimpah.

Jangan lupa juga, Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, yang bukan hanya sebagai nabi, melainkan juga raja yang bukan hanya menguasai dunia manusia, melainkan dunia jin, dan dunia hewan. Sezaman dengan Bangsa Saba yang juga memiliki peradaban sendiri.

Para nabi ini tentu bukan tidak memahami perkembangan zamannya termasuk teknologinya. Bahkan beliau-beliau adalah orang-orang yang paling faham zaman dan manusianya.

Mengapa perlu para nabi hadir di bangsa-bangsa berperadaban ini?

Di antara hikmahnya adalah sudah merupakan tugas mereka untuk mengingatkan manusia terhadap Tuhannya pemilik kekuasaan mutlak, penguasa mutlak alam semesta. Sebab, manusia ketika mencapai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, akan lupa kepada siapa yang menciptakan mereka sekaligus memberi karunia berupa ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.

Karena lupa sebab kemajuan ini, bahkan manusia merasa dirinyalah tuhan, seperti yang diaku Namrudz dan Fir’aunnya Nabi Musa. Mereka merasa punya kuasa (qudrah) dan lupa kepada pemilik sesungguhnya bagi kuasa absolut (qudrah muthlaqah) dan yang senantiasa berkuasa (kaunuhu qadiran) yaitu Allah Rabbul ‘alamin. Oleh sebab itu, perlulah diutus nabi untuk memperingatkan mereka, bahwa mereka adalah hamba yang tak memiliki qudrah muthlaqah, qudrah mereka relatif dan terbatas. Barulah saat Fir’aun tenggelam di Laut Merah, merasakan dirinya ternyata tidak mempunyai power dan qudrah apa pun, cuma manusia biasa, dan makhluk yang lemah. Yang maha kuat, pemilik kuasa mutlak dan absolute power hanyalah Tuhannya Nabi Musa, Rabbul ‘alamin.

Bagaimana dengan era sekarang? Sama saja. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan bisa melupakan dan melalaikan manusia tentang hakikat dirinya, lupa kepada Tuhan, malah merasa dirinya tuhan. Sehingga perlu diperingatkan kepada suapa pemilik kuasa sesungguhnya. Era sekarang, yang merupakan eranya risalah Nabi Muhammad, penerus ajaran beliau harus terus memberikan pencerahan kepara masyarakat sekarang yang dilingkungi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad tidak mengajarkan untuk meninggalkan keduanya, justru mengajarkan untuk mempelajarinya, dan tetap memperingatkan manusia tentang Tuhan. Wallahu a’lam.

*) Penulis merupakan alumni Pondok al-Hikmah Buntet Pesantren Cirebon dan kini aktif sebagai tim Gen Halilintar

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *