Oleh Mun’im Sirry, Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA

BEBERAPA kawan masih saja nge-tag saya perihal postingan-postingan Nuruddin. Saya tak habis pikir, kenapa dia begitu terobsesi dengan (pandangan) saya? Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak ini? Yang menjadi masalah ialah apa yang dilakukan Nuruddin ini bukan untuk berdiskusi, tapi menyebarkan kebencian dengan kata-kata yang tak layak dilakukan seorang terpelajar.

Dia menyebarkan kesan bahwa saya telah berbuat biadab terhadap al-Qur’an, kemudian dijadikan justifikasi untuk menyerang saya. Padahal, kebiadaban yang dituduhkan kepada saya itu hanya pikirannya sendiri. Misalnya, karena saya berargumen al-Qur’an mengembangkan “retorika polemik” dalam kritiknya terhadap doktrin Kristen, kemudian dia berkesimpulan saya menganggap al-Qur’an atau Allah berbohong.

Saya tidak senaif itu untuk sampai kepada apa yang disimpulkannya. Dia sengaja mem-frame bahwa implikasi dari pandangan tentang retorika polemik al-Qur’an ialah tak bisa lain kecuali al-Qur’an berbohong karena kritiknya tak sesuai dengan realitas. Padahal, berulang-ulang kali saya katakan dan juga tulis, bahwa dengan retorika polemik berarti yang dikritik al-Qur’an ialah doktrin Kristen, baik yang mainstream maupun yang heretik.

Tapi, Nuruddin tak peduli dengan penjelasan saya kecuali mengikuti jalan pikirannya sendiri. Saya tidak masalah bahwa Anda punya pandangan berbeda. Sudah jelas, banyak sarjana serius berbeda dengan teori yang saya kembangkan. Tapi mereka tidak memaksakan kehendaknya. Anda sengaja melemparkan berbagai tuduhan untuk mengesankan ke publik bahwa saya telah berbuat kurangajar terhadap al-Qur’an.

Kenapa Anda lakukan ini? Untuk memuaskan sebagian followers Anda-kah? Supaya mereka benci saya kemudian mengata-ngatai saya dengan berbagai sumpah serapah dan kekerasan verbal? Anda memposisikan diri seolah pembela al-Qur’an dan memposisikan saya sebagai perusak al-Qur’an atau akidah orang Islam. Silakan Anda memposisikan sebagai pembela al-Quran, tapi tak perlu mem-frame pendapat yang berbeda sebagai perusak al-Qur’an atau apa pun istilahnya.

Anda tahu sebagian followers Anda tidak membaca buku saya dan karenanya di antara mereka akan percaya begitu saja kesimpulan yang Anda buat sendiri. Anda berusaha meyakinkan followers Anda bahwa saya orang jahat dan pantas dibenci dan dimusuhi. Cara Anda menyebarkan kebencian seperti ini berbahaya sekali.

Banyak kekerasan terjadi karena ujaran kebencian yang dikoar-koarkan di jagat medsos. Saya tinggal di Amerika dan keselamatan fisik saya tidak terancam dengan kebencian yang Anda sebarkan. Tapi, dengan atau karena alasan apa pun, tak layak seorang mahasiswa yang sudah tingkat S2 melakukan seperti yang Anda lakukan. It’s simply wrong!

Saya melihat rekaman video debat Nuruddin dan Rumail Abbas yang mendiskusikan gagasan saya. Selain mem-frame saya sebagai orang bejat karena menganggap al-Qur’an berbohong, Nuruddin bercerita kenapa dia begitu benci kepada saya. Yakni, karena saya menganggap ada “problem” dalam al-Qur’an. Katanya, dia mengkritik pernyataan saya itu dan ternyata tidak saya tanggapi.

Soal saya tidak menanggapi, ya, itu urusan saya sendiri. Saya akan menanggapi apa yang menurut saya patut ditanggapi. Itu keputusan subyektif saya. Mungkin saja saya tidak tahu apa yang ditulis orang. Mungkin juga karena saya menganggap tidak produktif merespon tulisan tertentu. Seharusnya seorang tidak perlu marah karena tulisan/kritiknya tidak ditanggapi. Berilah saya kebebasan untuk menentukan mana yang perlu dan tidak perlu saya tanggapi.

Mengapa menyebut ada “problem” dalam al-Qur’an dianggap sangat serius sehingga harus ditanggapi secara emosional? Kata “problem” dalam bahasa Arab adalah “musykilah”. Untuk Anda ketahui saja, banyak ulama besar terdahulu sudah menyebut ada “musykilah” dalam al-Qur’an. Bahkan, salah satu genre dalam ulum al-Qur’an adalah persis apa yang disebut “musykilat al-Qur’an” (problem-problem al-Qur’an).

Sejumlah ulama menulis kitab dengan judul itu. Untuk menyebut beberapa contoh: Bayan al-Haq al-Naisaburi (w. 555) menulis kitab berjudul “Bahir al-Burhan fi Musykilat Ma’ani al-Qur’an”; ‘Izzuddin ‘Abd al-Salam (w. 660), “al-Fawa’id fi Musykilat al-Qur’an”; Al-Razi (w. 666), “Musykilat al-Qur’an”; Ibn Taimiyyah (w. 728), “Tafsir Ayat Musykilat”. Juga lihat buku Ibn Qutaibah berjudul “Ta’wil musykilat al-Qur’an” atau Abu Muhammad Makki al-Qisi berjudul “Musykilat al-Qur’an wa al-Tafsir.” Dan banyak lagi yang lainnya.

Kenapa diksi yang saya gunakan “ada problem dalam al-Qur’an” dianggap begitu bermasalah? Jika kita baca literatur-literatur klasik, kenyataan bahwa “ada problem dalam al-Qur’an” telah mendorong sejumlah ulama untuk meneliti Kitab Suci ini. Dalam dunia keilmuan, justru memang harus “ada problem/masalah” supaya kita berikhtiar mencari penjelasan atau jawabannya. Itu hal biasa dalam dunia akademis!

Saya dulu pernah mengatakan tidak akan merespon Nuruddin lagi. Saya tergerak menulis status ini dalam sinaran apa yang terjadi pada Bang Ade Armando. Kekerasan verbal dan caci-maki tidak boleh dibiarkan. Saya memang tidak tinggal di Indonesia sehingga ujaran kebencian yang disebarkan Nuruddin kemungkinan tidak akan mengancam fisik saya. Tapi ini bukan soal saya pribadi. Segala bentuk ujaran kebencian dan kekerasan verbal harus di-stop!

Jangan berkilah menggunakan diksi-diksi preman semata untuk memancing saya merespon. Justru saya tidak akan menanggapi tulisan yang menggunakan bahasa kekerasan. Saya telah dan akan menanggapi tulisan atau ceramah yang memang dimaksudkan berdiskusi serius. Dan itu sudah saya buktikan! Tanya Ustaz Menachem siapa yang mengajaknya diskusi. Atau, tulisan mana yang tidak saya tanggapi jika memang tujuannya hendak berdiskusi.

Jika mau berdiskusi ya cukup berdiskusilah. Buat apa memanas-manasi followers? Apa yang Anda peroleh jika followers Anda memusuhi dan menyerang saya? Anda puas? Dalam screenshot ini tampak jelas Anda hanya bermaksud memanas-manasi followers. Saya yakin status Anda sebagai mahasiswa lebih baik dari itu!

Silakan sampaikan ini ke Ust. Nuruddin.

Bagikan tulisan ke:
One thought on “Nuruddin dan Kekerasan Verbal: Tanggapan Mun’im Sirry terhadap Nuruddin”
  1. Mun’im Sirry akan dikenang sebagai ilmuwan rendah-hati, sementara Nuruddin -betapa pun tebal pengetahuan agamanya- tetap tak beranjak dari “egoisme sempalan” produk lawasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id