0 0
Read Time:4 Minute, 26 Second

Oleh A. Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sudah menjadi tradisi keagamaan, setiap tanggal 17 Ramadan umat Islam memperingati turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an). Peringatan ini dilakukan, merupakan bentuk kesyukuran umat Islam karena telah diberikan “Kitab Petunjuk” untuk meniti jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Peringatan ini sekaligus menjadi momentum umat Islam untuk merefleksi kembali bagaimana idealnya manusia berinteraksi dengan al-Qur’an. Fiman Allsh SWT., dalam Al-qur’an menyatakan bahwa: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS.al-Qadr [97]:1). Hal ini menjadi penting bagi umat Islam karena al-Qur’an yang berbentuk teks ini menjadi poros peradaban umat Islam.

Dari itu, Nasr Hamid Abu Zaid menyebutnya sebagai ”bulan peradaban teks”. Karena dalamnya termasuk perintah membaca untuk memandukan kemampuan membaca teks, menyeleksi informasi dan pengetahuan dalam teks-teks agama tersebut, melihat dan menganalisis dalam jalinan konteks yang beragam, untuk selanjutnya digunakan dalam kehidupan seseorang untuk mencapai kebahagian kehidupan dunia dan akhirat. Bukankan salah satunya dapat digapai melalui tafsir perintah Iqra dalam Surah al-Alaq? Hal itu dapat dielussuri melaui literasi para ulama, diantaranya:

Pertama: Dalam wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw., ayat pertama Surah al-Alaq berbunyi “Iqra’ bismi rabbikalladżī khalaq” atau diterjemahkan menjadi “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta.” Dalam Tafsir Al-Misbah (Jilid 15) oleh Quraish Shihab, Nabi Muhammad saw. diperintahkan untuk membaca guna lebih memantapkan lagi hati beliau.

Kedua: Ayat pertama tersebut bagaikan menyatakan agar Muhammad membaca wahyu-wahyu Ilahi yang sebentar lagi akan diterimanya secara berangsur-angsur. Ia juga mesti membaca alam dan masyarakat di sekelilingnya. Rasulullah saw. diperintahkan untuk “membaca segalanya” dengan syarat hal tersebut dilakukan dengan nama Tuhan Yang mencipta semua makhluk. Membaca dalam hal ini diartikan tidak hanya sebagai membaca, tetapi juga menelaah, menyampaikan segala hal yang dapat terjangkau.

Ketiga: “Dengan kalimat iqra’ bismi Rabbik, al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, tapi ‘membaca’ adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif.” Kalimat tersebut bagai menyiratkan agar segala aktivitas manusia bergerak dengan cara “melingkari Tuhannya’. Segala tindakan, mulai dari membaca, bergerak, atau apa pun, mesti didasarkan kepada Rabb. Ayat pertama ini dapat dimaknai “Jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, semuanya karena Allah.”

Berikut bebarapa pernyataan para sahabat yang menguatkan makna pengaplikasian kalimat iqra’ bismi Rabbik, yang di dawamkan oleh Nabi Muhammad SAW., di antarnya:

Pertama: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menuturkan, Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi).

Kedua: Dari Abu Umamah Al-Bahili –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan, Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Bacalah Al-Quran. Sebab pada hari kiamat ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi pengembannya.” (HR Muslim);

Ketiga: Diriwayatkan pula dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, pada hari kiamat orang tuanya akan dikenakan mahkota yang cahanya lebih bagus daripada cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia. Lantas bagaimana menurut kalian dengan orang yang mengamalkannya?” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Sanadnya shahih);

Keempat: Berikutnya, ‘Abdullah bin ‘Amr –radhiyallahu ‘anhuma– meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Puasa dan Al-Quran akan datang pada hari kiamat untuk mensyafaati hamba. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, oleh karena itu izinkanlah aku memberinya syafaat.’ Al-Quran berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya tidur malam, oleh sebab itu berilah aku izin untuk memberinya syafaat.’ Maka keduanya pun memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim);
Maka dan isyarat dari itu semua bahwa momentum Nuzulul Qur’an Ramadhan tahun 1443 H., dengan spirit iqra-nya karena ayat Alquran pertama yang turun di dalamnya berisi tentang perintah peningkatan kualitas literasi, dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan literasi informasi keilmuan, sehingga menjadi seorang selamat di dunia dan di akhirat, sekaligus menjadi warga negara yang baik. Namun tidak hanya sanpai disitu saja. Sejatinya semangat literasi/mencari informasi pengetahuan agama yang semarak di bulan Ramadhan ini, dapat terus dilakukan di bulan-bulan lainnya sebagai sebuah upaya peningkatan kualitas literasi secara terus menerus. Wallahu A’lam Bishowab.

Penulis:
Ahmad Rusdiana, Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Peneliti PerguruanTinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) sejak tahun 2010 sampai sekarang. Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Misbah Cipadung-Bandung yang mengem-bangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri/Ketua Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 50 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK-TPA-Paket A-B-C. Rumah Baca Masyarakat Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Provinsi Jawa Barat.
Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui:(1) http://digilib.uinsgd.ac.id/ view/creators.(2)nhttps://www.google.com/search?+a.rusdiana+shopee & source (3) https://play.google.com/store/books/author?id.

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id