Oleh Alamsyah M Djafar, Peneliti Senior Wahid Foundation

Rumah Baca – Mendengar Pak Wimar Witoelar meninggal dunia hari ini, saya berusaha mengingat lagi percakapan dengan mantan juru bicara Presiden Gus Dur, sepuluh tahun lalu. Bersama dengan puluhan peserta Tadarus Kolom Gus Dur (TKGD), saya mendengarkan kisahnya tentang Gus Dur dan media. Perbincangan dilakukan di kantornya di Pusat Niaga Duta Mas Fatmawati Blok C2 No.19 Jalan RS Fatmawati, Jumat sore, 11 Juni 2010.

TKGD merupakan kegiatan untuk mempelajari pikiran dan gagasan Gus Dur melalui kolom-kolomnya dan mulut para sahabat dan orang-orang dekatnya. Peserta kegiatan ini umumnya mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Indonesia (UI), Universitas Pamulang (Unpam) dan UIN bandung.

Kepada kami, peraih Panasonic Award kategori Pemandu Talk Show Pria Favorit pada tahun 1997 dan 1999 ini mengaku kaget ketika Gus Dur meminta dirinya menjadi juru bicara. Ia mengaku ketika itu tak mengenal langsung Gus Dur. Kekagetan WW, sapaan akrabnya, bertambah ketika ia menempel Gus Dur di Istana.

Dalam separuh masa kepresiden Gus Dur, kata WW, media dan pers saat itu seringkali memojokkan Presiden. Tak seperti di awal-awal yang sering mengelu-elukan dan mendukung Gus Dur. Anehnya, kata Wimar, media seperti TVRI dan RRI bahkan ikut memojokan Gus Dur sebagai presiden. Padahal sebelumnya dua media itu diposisikan sebagai televisi yang menjadi media pemerintah menyebarluaskan berbagai kebijakan. “Jadi lucu. Radio sendiri jadi oposisi,” katanya.

Anehnya, Gus Dur meminta WW tak menegur media-media itu. “Jangan Mas Wimar. Dalam situasi seperti ini, ketika pers dihasut politisi, apa pun yang kita lakukan, yang bernada ke arah kurang senang, akan ditafsirkan pembatasan kebebasan pers,” ungkap Gus Dur sebagaimana ditirukan Wimar.

Pria kelahiran Padalarang Jawa Barat 65 tahun lalu ini mengingatkan betapa media hampir dipastikan menjadi alat politik. Karenanya, Gus Dur pernah menyampaikan pada WW, jangan mengingkari realitas politik yang dihadapi.

Jika waktu itu yang kuat adalah Golkar, PDIP, dan mereka bisa menguasai media, jangan coba melawan mereka. Sebab, mereka pasti akan menang. “Kita harus terima saja kalau kita diturunkan, selama kita tahu kita bukan salah, dan selama perjuangan kita berhasil,” kata Gus Dur saat itu.

“Kita harus terima saja kalau kita diturunkan, selama kita tahu kita bukan salah, dan selama perjuangan kita berhasil.”

Gus Dur

Dan terbukti, tambah WW, Gus Dur berhasil memperjuangkan tiga hal: perjuangan dalam menegakan pluralisme, demokrasi, dan menghilangkan militer dari medan politik dan bisnis. “Tidak penting menang atau kalah dalam pertarungan politik, karena horison Gus Dur itu pada waktu dia presiden sudah 30 tahun menjadi seorang pejuang kebenaran dan pejuang demokrasi,” tegas Wimar.

Gus Dur pernah berpesan, setelah saya turun, meski saya nggak memegang jabatan politik, tapi tetap saja komitmen untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. “Jadi kalau orang benar itu pesannya tak hilang”, kata Wimar.

Apa yang dikatakan sepuluh tahun untuk Gus Dur itu kini berlaku untuk dirinya yang baru saja pergi. “Orang benar itu pesannya tak hilang. ” Selamat jalan Pak WW.

Kalimulya, 19 Mei 2021

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *