0 0
Read Time:11 Minute, 44 Second

Oleh Mashuri Alhamdulillah*)

: ngablak dinihari

Menjelang akhir tahun 2013, saya dan dua orang kawan dari Balai Bahasa Jawa Timur bertugas ke Makassar. Ternyata, kami tiba di Bandara Makassar terlalu pagi. Tujuan kami mengikuti Pelatihan Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Karena terlalu pagi, kamar hotel belum siap. Seorang kawan mengontak familinya yang aseli Makassar. Kami pun dijemput famili tersebut, lalu diajak ke rumahnya. Rencananya, kami baru balik ke hotel pada sore hari. Kami pun ditampung di rumah si famili yang terbilang mewah, karena dia termasuk keluarga orang penting di Makassar. Masing-masing dari kami menempati satu kamar sendiri untuk beristirahat. Jarak Surabaya—Makassar sangat jauh, katanya, butuh istirahat. Ehm!

Pada saat menunggu, saya menyempatkan diri browsing lokasi makam dua pahlawan nasional terkemuka, yaitu Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro. Apapun alasannya kedua sosok itu sudah saya kenal sejak SD, lewat pelajaran PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa). Sultan Hasanudin (1631—1670) aseli Makassar, seorang raja, bergelar ayam jantan dari timur, dan makamnya di Makassar. Pangeran Diponegoro, bangsawan Jawa, pengobar Perang Jawa (1825—1830) diasingkan ke luar Jawa dan meninggal dunia di Makassar. Tentu sebuah kehormatan bagi saya berkesempatan berziarah ke makam keduanya.

Namun, pada saat menimbang-nimbang di antara kedua tokoh itu, mana yang lebih dulu diziarahi, entah bagaimana awalnya nama Syekh Yusuf Makassar (1626—1699) melesat dan menyalip prioritas kedua pahlawan itu dalam benak saya. Padahal, saat itu, saya belum mengenalnya lebih dalam. Saya memang mendengar nama Syekh Yusuf Makassar sudah lama, tetapi hanya sekadar sebagai ulama pejuang pada masa Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, yang lahir di Gowa Makassar dan wafat di tanah Afrika. Saya pernah membaca buku tentang Syekh Yusuf Makassar, yaitu Azra (1994) dan Hamid (2005). Sayangnya, hanya sekilas saja dan sudah berlangsung lama. Tapi entah info dari mana, saya lupa, saya pernah mendengar bahwa di Makassar juga ada makam Syekh Yusuf. Akhirnya saya browsing di Google. Ternyata memang di sekitar Makassar ada situs makamnya. Keputusan saya pun bulat: saya ke makam Syekh Yusuf, yang berada di Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Saya pun keluar rumah tanpa pamit kepada siapapun. Saya khawatir bila saya pamit bakal merepotkan tuan rumah karena takut si tuan rumah merasa terbebani karena bertanggung jawab dengan mengantar saya. Dengan berjalan kaki, saya menuju jalan raya yang berjarak 300 meter dari kompleks perumahan, tempat saya menumpang. Tujuan pertama saya, mencari kedai kopi. Agak lama saya mencari, tetapi akhirnya saya menemukan juga, meski kopi yang dijual sachetan. Sambil ngopi, saya pun bertanya-tanya tentang keberadaan angkutan umum yang menuju kawasan makam Syekh Yusuf Makassar. Begitu tahu saya dari Surabaya, pemilik kedai, seorang lelaki 30 tahunan, sangat semangat menerangkan perihal angkutan umum, sejenis angkot atau lyn, yang perlu saya tumpangi.

“Mas nanti turunnya di pertigaan ke arah Jalan Syekh Yusuf. Tepat di depan gapura masuk Gowa. Setelah itu naik ojek, yang jaraknya tidak sampai dua kilometer. Di sana, sudah ada petunjuk jalannya,” kata dia.

Meski kopi belum habis, saya pun langsung berangkat karena lyn yang dimaksud lewat. Malah, si pemilik kedai itu menyatroni sopir dan berpesan, agar saya diturunkan di pertigaan Jalan Syekh Yusuf, karena akan ke makam Syekh Yusuf. Saya merasa beruntung sekali. Tetapi sejurus kemudian, ketika saya naik, saya agak malu karena di dalam angkot sudah ada penumpang tiga perempuan muda, yang agaknya terkejut mendengar tujuan saya. Padahal ketiga perempuan muda itu lumayan manis. Usianya sekitar 20-an tahun.

Lyn pun berangkat. Cara nyopir si sopir agak kasar, sepertinya baru belajar. Meski demikian, saya tidak mengindahkannya. Saya baru pertama kali ke Makassar, sehingga saya pun sibuk melihat-lihat situasi kota, sambil memasang wajah sok cool. Bagaiamana tidak demikian, saya harus jaim di hadapan tiga cewek karena saya merasa tujuan saya terlalu ‘tua’ untuk dinodai dengan tingkah lirak-lirik sebagaimana biasanya. Ups!

Tak sampai setengah jam berjalan, di angkot itu pun tinggal saya sendiri. Ketiganya turun di sebuah pertokoan bersama-sama. Tak sampai 15 menit kemudian, angkot pun berhenti dan sopir menyatakan bahwa tujuan saya sudah sampai. Begitu turun, saya pun mendapatkan petunjuk ke arah makam Syekh Yusuf dan di sana tertera nama jalan: Syekh Yusuf.

Saya tidak naik ojek sebagaimana saran pemilik kedai, tetapi saya memilih jalan kaki. Saya yakin, lokasinya tidak terlalu jauh. Jalan kaki memang sering saya lakukan bila sedang di luar kota, agar tubuh tetap segar dan tidak terlalu gendut. Saya berjalan dengan mata yang mencari-cari objek lain, yang mungkin dapat dikunjungi nanti. Sebelum sampai lokasi makam, saya melihat ada sebuah masjid kuno. Namanya, Masjid Tua Katangka. Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dibangun pada tahun 1605 oleh Sultan Alauddin. Wow!

Namun, karena tujuan saya adalah makam Syekh Yusuf, saya tidak mampir dulu. Saya melanjutkan langkah. Saya membayangkan bahwa suasana di makam Syekh Yusuf, seperti makam Walisongo di Jawa. Banyak peziarah dan banyak orang menjual pernak-pernik yang menarik. Siapa tahu ada buku-buku tentang Syekh Yusuf.

Saya hampir tak percaya begitu sampai di kompleks makam. Suasananya sangat sepi dari peziarah. Yang banyak berkerumun adalah orang-orang yang ‘memanfaatkan’ makam itu demi keuntungan dan kepentingan ‘pribadi’, karena begitu saya memasuki gapura makam, saya diminta untuk mengisi kotak amal dan ongkos titip sandal. Begitu saya memasuki cungkup, ternyata hal yang sama terjadi. Di sana, juga sudah ada penjaganya. Bahkan, ada pria tua, didampingi dua orang lebih muda, yang menanyakan hajat saya dan disarankan untuk membeli bunga sekar untuk diujubkan doa dan hajatnya.

“Biar hajatnya cepat kabul, Mas,” seru pria tua.

“Saya hanya berziarah, Pak, dan ingin tahu sejarah Syekh Yusuf. Jika ada buku tentang Syekh Yusuf, saya mau membelinya,” terang saya.

Dua orang pendamping, dua pria muda, itu perlahan pergi. Tinggal pria tua yang bertahan. Ia terus mengawasi saya. Saya umik-umik sebentar di tepi pusara yang ada papan nama Syekh Yusuf. Biasanya, bila saya ke makam sesepuh, saya tidak berani duduk di samping dekat bagian kepala, tetapi bagian kaki. Untuk kali ini, saya hanya berdiri di dekat bagian kaki. Mungkin karena saya merasa diri sok dan menganggap orang-orang di sana kurang mengenal adab pada seorang tokoh dahsyat, dari dada saya membuncah protes, seperti pejalan yang di tengah jalan, kakinya terkena duri dan terluka.

Luka Makassar

Tuan sepi
di seberang
atau di tanah sendiri
di sini orang-orang berebut
sumbang!
diam-diam
ada yang pulang-pergi
di laut hati
seperti ombak khalwati…
“ihdini…”
Makassar, 2013

Saya tidak lama di dalam cukup, yang terdapat beberapa makam, dengan posisi ‘makam’ Syekh Yusuf di tengah, yang ditandai dengan tulisan ‘Sjekh Jusuf bin Kheideir’. Cungkup itu berkarakter bangunan kolonial. Bila dilihat dari luar, ada sebuah guci keramik di puncak kubah. Setelah menyelipkan duit sekadarnya pada kotak amal di depan Pria Tua, saya pun keluar. Karena tidak ada penjual pernak-pernik kesukaan saya, juga buku, saya pun langsung cabut menuju ujung Jalan Syekh Yusuf, titik asal tadi. Tentu, dengan berjalan kaki. Nah, begitu melewati Masjid Tua Katangka, saya pun mampir. Tujuannya membasuh muka, sambil numpang kencing, karena di kompleks makam Syekh Yusuf, saya dihantui dengan perasaan was-was dengan adanya orang-orang yang terkesan kurang dikoordinasikan dengan ciamik. Kebetulan waktu duhur sudah berlangsung satu jam lebih. Hmmm. Sungguh, pengalaman barusan adalah kesan pertama yang kurang baik bagi perasaan saya. Sebuah kesan yang seharusnya tidak saya pandang demikian.

Usai dari masjid, saya pun menuju pertigaan. Saya langsung naik lyn, yang saya lupa namanya, dan kembali ke tempat rumah famili kawan. Pada sore harinya, saya dan dua kawan lainnya diantar tuan rumah di hotel tempat acara, di dekat Pantai Losari. Pada malam harinya, pembukaan acara dimulai. Usai itu, saya memilih tetap di kamar, meskipun peserta lainnya jalan-jalan di tepi pantai. Ada perasaan bersalah yang begitu mendalam dalam diri saya ketika saya membiakkan syakwasangka pada orang-orang di makam Syekh Yusuf. Sungguh, seharusnya saya tidak berprasangka yang bukan-bukan. Sebagai ikhtiar menghibur diri, saya membuka-buka internet. Pada saat itu, ada isu kesusastraan di dunia maya, yang membuat saya blingsatan. Saya tidak malah dingin, tetapi merasa semakin terbakar. Pada saat itulah terbit puisi dari ambang batin saya, yang mengacu pada sosok Syekh Yusuf yang berjalin kelindan dengan kondisi yang sedang meradang dalam batin dan pikiran saya.

Tuan Penguasa Kesunyian
Ini kali aku tak ingin bicara tentang sunyi, O Tuan Penguasa Kesunyian, sebab bumi serupa tubuh berimplan. Kemurnian hanya milik si edan, yang tak rishi pelirnya bergulir untuk disimak di pasar dan jalan. Biarlah aku kini bicara tentang bulan purnama dan pesta dansa dengan goyang angsa, yang mungkin di antara nafas dan lekuk yang bergesa, masih bersimpul getar Rahasia

Kerna kini banyak lisan fasih berbincang bulan sabit dan getar rumput yang bergoyang dengan ayat-ayat panjang. Tapi mereka menggenggam sabit untuk membabat rumputan. Lalu di tepi sepi yang mana, harus kuletakkan kepala dan dada, untuk mengeja kembali pikiran-pikiran karang dan deru kalbu berterumbu..

Ini kali aku dilanda naif diri, O Tuan Pemangku Mahkota Sepi, entah bagaimana kau tanam diri di lumpur bumi kesepian tapi namamu menjulang ke langit kerayaan. Adakah itu bumi yang sama, kerna kini tak ada lagi sepi di sini, lumpur bumi kesepian pun hanya fatamorgana. Dengarlah laguku, lagu yang kusulih dari bibir para penggerutu:

“Kami tak dapat sembunyi dan lari dari hilir mudik berita dan pencitraan nama-nama. Kini rembulan pun tak ada dan kunang-kunang hanya judul cerita. Sungguh hidup serasa siang saja…”

O, Tuan Penghulu nan Suci, ini kali aku ingin menggerutu. Kerna aku kaum penggerutu, tak rela orang-orang menanam rumput beringin zamrud. Kerna banyak kepala dan dada berhulu batu, menyembah batu selalu merapal mantra: kalimaya!
Tapi sungguh tak ada sepi di dunia maya
Mungkinkah tercatat khalwat sempurna di sana
Makassar, 2013

Sepulangnya dari pelatihan di Makassar, saya tidak lagi berkutat perihal Syekh Yusuf. Saya pun tidak mengakrabi jalan hidup dan karya Syekh Yusuf. Namun, lima tahun kemudian, pada tahun 2018, saya baru mengakrabinya. Yeah, saya merasa karib dengan nama tersebut ketika saya mengkaji naskah Bahrul Lahut, karya Syekh Abdullah Arif dari Aceh. Saya pun baru ngeh agak lengkap terkait sosok Syekh Yusuf. Ternyata, riwayat hidup dan karya-karyanya dahsyat habis!
Syekh Yusuf, yang selanjutnya saya sebut si doi, termasuk penuntut ilmu yang ulung. Rihlah ilmiahnya dimulai dari dalam negeri hingga mancanegara, mulai dari Banten, Aceh, India, Arabia, Bagdad, dan Persia, diarungi selama kurang lebih 20 tahunan. Ketika ia mudik, Kerajaan Gowa sudah takluk pada Belanda. Ia pun berlabuh di Kasultanan Banten. Di ujung barat pulau Jawa itu, ia besar dan berjuang melawan penjajah Belanda. Ketika si doi kalah dan tertangkap Belanda, ia dibuang ke Sri Langka, kemudian dipindah ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, hingga wafat pada usia 72 warsa.

Si doi diasingkan ke Afrika karena ketika di Sri Lanka, ia masih berhasil menghimpun kekuatan untuk berjuang, lewat ajaran dan tulisan. Yup, ia tidak hanya berjuang dengan kekuatan senjata, tapi karya tulisnya melimpah ruah. Beberapa kitab lawas, seperti Safina Naja, dinisbatkan pada namanya. Belum lagi beberapa buku daras tarekat lainnya dengan judul-judul yang membuat ciut nyali.

Dalam jejaring Bahrul Lahut di Nusantara, nama Syekh Yusuf memang tak dapat diabaikan begitu saja. Hal itu karena Bahrul Lahut yang tersimpan di Museum Nasional (berdasar sumber disertasi Hamid, 2005), dan yang berada di tangan ahli waris Kasultanan Pontianak (Abdullah, 1980) merupakan warisan Syekh Yusuf. Dengan kata lain, untuk mengkaji Bahrul Lahut, salah satu jalur silsilahnya atau sambung sanadnya melalui Syekh Yusuf. Bagaimana bisa demikian?
Hmmm. Jawaban sederhananya begini. Meskipun Syekh Yusuf itu dikenal sebagai tokoh Tarekat Khalwatiyah Yusufiyah —sehingga beliau digelari Syekh Yusuf Tajul Khalwati, tetapi lewat dirinya berkumpar cukup banyak tarekat, mulai dari Qadariyah hingga Alawiyah, termasuk tarekat yang mengacu langsung ke Syekh Ibnu Arabi yang catatan silsilahnya berada di Perpustakaan Teheran, Iran (berdasar temuan Gus Ginanjar Sya’ban). Adapun Bahrul Lahut adalah kitab pegangan tarekat terkait dengan pandangan ketuhanan yang merupakan pembacaan ulang/kritis terhadap doktrin wahdatul wujud yang berpengaruh pada ajaran beberapa tarekat pada awal perkembangannya, dulu. Entah kini. Bahkan, sejarah mencatat, ia selalu disejajarkan dengan Syekh Abdurrauf Singkel atau Syekh Kuala (1615–1693), pembawa Tarekat Satariyah di Nusantara dan pendamai paham Wujudiyah dan Syuhudiyah di Kerajaan Aceh Darussalam.

Dan, pada 2019, saya mendapatkan tugas ke Makassar lagi. Kali ini terkait dengan pernaskahan. Saya diamanati mengikuti pelatihan digitalisasi naskah kuno bersama seorang kawan dari Balai Bahasa Jawa Timur. Begitu saya menapakkan kaki di Makassar lagi, tentu kurang afdol bila saya tidak ngalab berkah ke makam tokoh dahsyat yang namanya diakui sebagai pahlawan nasional di Indonesia, juga di Afrika Selatan. Makamnya di Afrika Selatan sangat dihormati, baik secara harfiah maupun secara maknawiyah. Bahkan, Nelson Mandela pernah berujar, “Syekh Yusuf adalah putera Afrika yang luar biasa!” Hitung-hitung juga sebagai ikhtiar saya untuk membalur kesan pertama yang terluka agar bayangan yang tergambar dalam perasaan saya dipenuhi dengan citraan indah!

Kali ini, saya ke Makassar dengan kepala dan perasaan yang berbeda dengan ziarah saya yang pertama. Sungguh, saya sudah jatuh cinta dengan sosok ini! Entah karena itu atau bukan, saya ziarah ke makam si doi, tanpa harus berpanas-panas naik angkot, tetapi diantar seorang kawan Makassar dengan menggunakan mobil yang ciamik, wangi, dan berpendingin AC. Eloknya lagi, setelah dari sana, saya ditraktir makan konro yang paling kondang dan maknyus di Makassar!

Malamnya, ketika saya sendiri di kamar hotel yang sangat bonafid di Makassar, ingatan saya tak dapat lepas dari Syekh Yusuf. Dalam telinga saya, terngiang-ngiang namanya. Pada saat itulah, mengalun sebuah puisi lirih dari lubuk batin saya. Sebuah puisi rindu-perih.

Hizib Ungu

aku bergelantung di janggutmu dengan hizib ungu. sulurnya memanjang, terulur seperti akar beringin tua, ke buhul silsilah penuh madah, yang berjejak di lontarak lama. rembulan kembali bersinar dari sisa netramu yang berjejak di cakrawala. bulan bulat biru. ketika gemintang memilih malam dalam rotasi bimasakti, di tepi serpih tasbih, di luar lingkar doa, lukaku mengapung di lengkung langit raya —mirip capung, sendiri, berayun-ayun tanpa tudung di atas kedung wingit. aku pun terus merenda rambut janggutmu sebagai jala berkah, untuk menjaring ikan-ikan di angkasa. “plung!” wiridku gumpil ketika tubuh bugil bidadari kampung nyemplung ke lekuk bibir kedung.
Makassar, 2019

Ah, mungkin karena hanya sebagai penyair karbitan atau penyair jadi-jadian, yang terlanjur mengeluarkan buku puisi “Kitab 99 Puisi Ngaceng” (2007), “Munajat Buaya Darat” (2013), dan “Dangdut Makrifat” (2018), tubuh bugil bidadari, meski dari kampung, selalu saja mampu membuat tubuh ini tersengat! O, Tajul Khalwat, kenapa pada akhirnya sahwat selalu muncrat! Ihdini…

On Sidokepoeng, 2021

*) Penulis merupakan peneliti sastra di Balai Bahasa Jawa Timur

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id