0 0
Read Time:4 Minute, 13 Second

Oleh Masyhari

“Alhamdulillah, kalau lagi gak ada jadwal khutbah begini, rasanya plong gitu, jadi agak santai. Gak buru-buru naik motornya dan gak mikir materi khutbah,” kataku kepada istri di rumah Jumat kemarin (25/02/2022), usai dari kamar mandi sementara jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11:30 WIB.

Alhasil, aku pun agak santai, toh akan salat Jumat di masjid perumahan saja. Aku pakai baju koko yang biasa aku pakai bila jadi jamaah, tidak bawa serban dan baju yang biasa aku pakai khusus saat jadi khatib. Akhir-akhir ini memang tugas khutbah jadi ‘beban’ tersendiri, mengingat jadwal khutbah tahun 2022 ini padat merayap, dalam sebulan bisa 3-4 kali. Artinya, hampir setiap Jumat ada jadwal.

Pas mau masuk masjid, terdengar lirih suara salah seorang pengurus DKM umumkan kas masjid dan petugas Jumat ini. Sementara di shaf paling depan di tengah, tidak tampak ada khatib yang sedang duduk menunggu naik mimbar. Akhirnya, aku dekati jadwal khatib yang terpampang di papan informasi. Ternyata, Jumat ini jadwalku bertugas khutbah di masjid perumahan.

Ini akibat belum baca jadwal khutbah di hape. Kalau jadwal khutbah tahun lalu, sedari awal tahun sudah aku print out alias cetak, tahun ini jadwal khutbah memang belum sempat aku cetak di luar, printer di rumah lagi ngadat. Ya, akibat kurang cermat, akhirnya begini akibatnya.

Lah, emang gak ada pengurus DKM yang ingatkan? Memang, biasanya ketua DKM selalu ingatkanku pagi-pagi atau malamnya bila aku ada jadwal khutbah di masjid perumahan, meski aku sendiri termasuk pengurus DKM.hehe

Karena belum siapkan teks atau bahan materi khutbah sedikit pun, dan handphone juga sengaja aku tinggal di rumah, maka materi khutbah Jumat lalu di masjid kecamatan sebelah pun aku pakai lagi, tentunya tanpa teks apa pun yang aku pegang.

Apa kira-kira materi khutbahnya? Ya, seperti dalam judul tulisan ini, yaitu tentang pesan takwa. Dalam khutbah kali itu, aku bahas tentang pentingnya pesan takwa dan karenanya ia jadi rukun khutbah.

Selanjutnya aku bahas buah dari takwa yang Allah janjikan bagi manusia, tersebut dalam QS Ath Thalaq ayat 2-3 yang intinya, siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan berikan solusi atau jalan keluar atas segala urusannya, dan berinya rizki melalui jalan yang tidak disangka-sangkanya. Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan berikan kemudahan dalam setiap urusannya.

Buah takwa tidak hanya berdimensi ukhrawi yang akan dinikmati nanti setelah mati, tetapi buah di dunia juga akan dirasakan oleh pelakunya.

Lantas, apa kriteria orang-orang yang bertakwa? Antara lain QS Al Baqarah jelaskan dengan gamblang sifat-sifat mereka yaitu mereka yang beriman terhadap hal yang gaib, yang tidak kasat mata atau panca indera secara umum. Karakter yang kedua yaitu mendirikan salat. Mendirikan salat bukan berarti salat sebatas hanya gugurkan kewajiban dan tertarik dengan ganjaran. Akan tetapi salat dengan menikmati ibadah salat sebagai momentum dekat dengan Allah dan mencoba merenungi makna yang terkandung dalan gerakan dan bacaan salat.

Makna itu misalnya saja bacaan takbir menandakan kerendahan diri di hadapan Tuhan Yang Maha Besar. Doa iftitah mengisyaratkan pesan, setiap apa yang kita lakukan hanya untuk Allah. Bacaan salam berikan pesan perdamaian kepada orang yang ada di kanan dan kiri kita. Dalam salat Jumat dan berjamaah ada makna sosial, kebersamaan dan sinergi dalam kebaikan, dan angka 27 derajat bukan sebatas lipatan pahala yang didapatkan nanti di akhirat, dan seterusnya.

Nilai sosial ini diperkuat dengan kriteria selanjutnya, yaitu “dan ia nafkahkan sebagian dari rizki yang telah Allah berikan kepadanya.” Bila rizki itu berupa harta, ia bagikan sebagian dari hartanya kepada sesama di jalan-jalan kebaikan. Selain harta, rizki bisa juga berupa kesehatan, tenaga, pikiran, dan lain sebagaianya. Intinya, apa pun rizki yang didapatkan, dibagikan kepada sesamanya, khususnya yang membutuhkan. Artinya, takwa tidak hanya berdimensi ritual-vertikal, tapi juga berdimensi sosial-horizontal. Ya, iman dan amal saleh selalu disandingkan.

Ciri berikutnya yaitu beriman kepada kitab-kitab suci yang telah Allah turunkan, dan ciri yang selanjutnya yaitu yakin terhadap adanya hari akhir, pada hari ada balasan setiap perbuatan.

Terkait dengan takwa ini, Sayyidina Ali bin Abi Abi Thalib karramallu wajhah meringkas makna dalam tiga poin, yaitu:

التقوى هو الخوف من الجليل، والرضى بالقليل، والاستعداد ليوم الرحيل

Takwa yaitu takut terhadap Allah Yang Maha Agung saat akan melakukan salah dan dosa. Orang yang bertakwa bisa jadi ia berbuat salah. Akan tetapi, setiap kesalahan yang diperbuatnya itu lantas ia sesali. Ia meminta maaf dan bertaubat dengan setulus hatinya. Ini sejalah dengan QS Ali Imran ayat 135.

Yang kedua, sikap neriman atau kata orang Jawa, nerimo ing pandum alias kanaah. Orang yang bertakwa siap dengan segala kondisi yang dialaminya. Ini bagian dari rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir Allah, baik buruknya. Karena itulah Rasulullah saw ingatkan, orang yang beriman itu orang yang ajib, menakjubkan. Ia santai dalam kehidupannya, karena selalu neriman. Bila dapat nikmat, ia bersyukur. Bila ia dapat cobaan keburukan, ia bersabar.

Ciri yang ketiga yaitu ia bersiap diri untuk bertemu Allah. Artinya, ia yakin adanya akhirat, hari pembalasan atas setiap amal perbuatan. Yang baik dibalas dengan kebaikan, dan keburukan akan diberikan balasan. Itulah hari pengadilan orang Allah Yang Maha Adil. Demikian tulisan dadakan tentang khutbah dadakan. Wallahu a’lam.

Cirebon, 26 Februari 2022

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id