0 0
Read Time:6 Minute, 12 Second

Oleh Istiqomah Ahmad

Rumah Baca – Jumat malam itu, usai mengikuti seluruh prosesi pemakaman Ibu tercinta, Prof Huzaemah melalui ruang Zoom, dilanjutkan dengan doa bersama untuk mengantarkan kepulangan beliau kepada Sang Maha Dekat, kuusap embun di mataku yang tidak berhenti mengalir sedari pagi. Aku termenung di atas alas salatku usai menunaikan ibadah Isya, mengatur napasku yang mulai berkejaran, sesak terasa, sebab belum bisa menerima kenyataan bahwa dunia telah kehilangan mutiaranya. Mutiara itu berasal dari Donggala, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah.

Sesenggukan, terisak, lalu menangis, terus seperti itu. Ada orang-orang yang namanya masyhur di bumi, namun justru tidak dikenal oleh penduduk langit. Ada pula yang tidak masyhur di bumi, namun disebut-sebut oleh penduduk langit. Ah, tapi mutiara yang akan kuceritakan kali ini kuyakini merupakan sosok yang tidak hanya terkenal di bumi, tapi lebih dari itu, ia juga masyhur dan disebut-sebut oleh penduduk langit. Nasyhadu anna Ibu Prof Dr Hj Huzaemah Tahido Yanggo, MA min ahlil khair wa insyaallah min ahlil jannah.

Pada heningnya malam, kucoba membuka album di laptop, kutemui beberapa poto bersama Ibu mentereng di sana. Aku klik satu persatu. Aku zoom hingga mendekat ke wajah Ibu. Kuamati lekat-lekat tiap garis wajahnya, perlahan, bergetar jemariku mengusapnya. Air mataku kembali melebat. Tidak bisa kutahan sesak yang menyeruak. Kututup album tersebut, lalu kucoba mengatupkan mataku, bukan karena mengantuk, sebab aku tidak benar-benar tertidur. Pikiranku melompat tidak karuan, mengingat kembali beberapa momen yang pernah dilalui bersama mendiang Ibu. Sekelebat bayangan Ibu datang hadir menemani, kupungut bongkahan teladan dan hikmah yang ditinggalkan Ibu, yang terserak di mana-mana, sedikit demi sedikit.

Awal perjumpaanku dengan Ibu adalah ketika menjadi mahasiswi baru Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ). Pada masa orientasi mahasiswa baru, Ibu hadir memberi sambutan dan mauizah hasanah. Dalam momentum tersebut, panitia memberikan kesempatan kepada siapa saja peserta yang ingin bertanya. Tanganku mengacung begitu saja, ketika melihat wajah teduh di depanku ternyata adalah seorang Profesor wanita dengan kiprahnya yang mendunia. Aku, sebagai orang kampung, ketika melihat seorang wanita dengan pendidikan tinggi dan prestasi spektakuler seperti itu membuat hatiku tidak berhenti berdecak, mengaguminya. Kala itu aku mengajukan pertanyaan mengenai hukum wanita haid membaca al-Quran. Belum usai pertanyaanku, Ibu sudah menyambar dengan jawabannya yang lugas dan komplit. Pada akhir sesi, aku diberi karya beliau yang berjudul Hukum Keluarga dalam Islam. Karya ini sangat bermanfaat bagiku, sebagai bekal mengarungi lautan kehidupan yang berbuih dan berbatu ke depan.

Selanjutnya, saat menjalani perkuliahan, tidak jarang kami bertemu atau berpapasan dengan Ibu ketika beliau hendak menjalani tugas sebagai pimpinan kampus kami, IIQ. Kesanku, beliau selalu hangat. Selalu berjabat tangan dengan siapa yang ditemui. Kalaupun tidak cukup waktu untuk bersalaman, Ibu akan memberi lambaian tangan.

Beliau adalah pribadi yang mandiri. Tentang ini, ada satu cerita. Suatu ketika kala mengikuti sebuah event, Ibu hadir sebagai pengawas. Saat akan kembali menuju Jakarta, kami bertemu di ruang tunggu bandara. Ibu duduk bersama jajaran guru besar lainnya, berbincang soal duka yang baru saja menyelimuti keluarga besar IIQ, asrama kami baru saja dilahap si jago merah. Aku mendekat menawarkan diri untuk membantu para guru membawa tas tentengan mereka. Beberapa guru mengiyakan untuk dibantu. Ketika aku menawarkan bantuan kepada Ibu, Ibu menolak dengan alasan beliau masih kuat. Aku pikir itu adalah bentuk kemandirian Ibu. Jika masih bisa dilakukan sendiri, Ibu akan lakukan sendiri. Tidak jarang aku menawarkan bantuan, namun Ibu selalu menolak. Ternyata, kata asisten beliau, memang begitulah watak Ibu. Sangat mandiri.

Kemandirian Ibu juga kerap aku dengar dari teman kamarku yang berasal dari Sulawesi. Teman-teman dari Sulawesi biasa memanggil Ibu dengan panggilan “Ustazah”. Jika mereka sowan ke rumah Ibu, pulangnya kadang diantar oleh Ibu bersama suami menggunakan mobil. Mereka pasti kembali dengan segudang cerita perihal Ibu dan sang suami. Sebagai anak rantau yang kerap menjalani hari raya di Jakarta, aku dan beberapa teman pernah berkesempatan sowan ke kediaman Ibu usai menjalankan salat `ied. Kami disambut suami beliau. Kami disuguhi aneka jajanan, sembari menunggu Ibu yang kala itu berada di kamar. Saat itu, Ibu sedang beristirahat.

“Ibu sedikit meriang usai silaturrahim ke beberapa tempat,” tutur sang suami ketika turun menemui kami. Namun Ibu tetap menemani kami di ruang tamu bersama sang pujaan hati, bercerita banyak hal, bercanda tawa, berkelakar, hingga berfoto ria. Kami ditawarinya menyantap masakan beliau. Namun kami menolak dengan alasan masih sangat kenyang. Betapa baiknya dirimu, oh Ibu!

Ibu memang dikenal sebagai wanita yang sangat mandiri. Jika ada acara zikir akbar bulanan di asrama pun, aku kerap menawarkan diri untuk membawakan alas kaki beliau, namun tidak jarang beliau menolak lalu menenteng sendiri alas kakinya. Selama menjadi divisi konsumsi pada acara zikir akbar bulanan yang berlangsung di asrama, aku diam-diam memperhatikan setiap gerak Ibu dengan seksama, betapa Ibu sangat menjaga asupan makanan atau minuman yang hendak masuk ke dalam rongga mulut dan perut beliau, pengamal ajaran Kanjeng Nabi. Beliau tidak berlebihan dalam makan, hanya mengambil porsi secukupnya saja. Bahkan selama pengamatanku, Ibu hanya menyentuh buah anggur & jeruk, padahal untuk ukuran tamu agung seperti beliau, berbagai jenis menu tersedia secara khusus.

Suatau ketika, pada tahun 2020, Ibu datang menghadiri penutupan musabaqah yang dihelat oleh Kedutaan Arab Saudi. Layaknya orang tua yang sedang menyaksikan putra-putrinya. Begitulah perasaan kami kala melihat wajah teduh dan sumringah Ibu. Kami bergiliran mencium tangan halusnya, meminta momen indah itu diabadikan dalam sebuah bidikan kamera, cekrak cekrek! Waktu berlalu, hingga tersisa aku. Kala itu teman-teman yang lain melanjutkan obrolan bersama teman dan kerabat masing-masing. Perasaan kikuk tidak bisa aku sembunyikan kala berada di dekat Ibu, tapi dengan hangatnya Ibu tetap mengalir dengan obrolannya. Dipegangnya tanganku. Kali ini beliau meminta tolong untuk dituntun berjalan menuju pintu mobil. Kala itu beliau akan diantar menuju (kalau aku tidak salah ingat) kantor MUI, untuk menghadiri rapat. Kulitku yang kasar beradu dengan kulit lembutnya. Betapa jantungku berdegup sekaligus berbunga-bunga.

“Beginilah kalau sudah tua seperti saya, istiqomah,” ucapnya terkekeh.

“Ya Allah betapa bahagia orang-orang yang setiap saatnya bisa berdekatan dengan Ibu, menyesap lautan ilmu Allah yang dititipkan pada dirinya,” batinku.

Sesampai di pintu mobil, sang sopir menyambut Ibu, hingga duduk dengan posisi yang nyaman. Ibu menepuk pundakku. “Belajar terus, ya!” pesan beliau. Aku terdiam tanpa kata kala mendapat pesan itu. Ibu melambaikan tangan tanda pamit. Aku masih berdiri mematung, hingga mobil yang membawa Ibu hilang dari pandanganku. Aku termenung. Betapa pesan Ibu menjadi mantra dan cambuk bagiku untuk terus belajar dan mengasah diri.

Di rumah, aku sering bercerita kalau rektorku adalah seorang ulama wanita ternama, wanita sederhana namun luar biasa. Dengan kostum khasnya; gamis atau pakaian potongan dengan rok bermotif senada. Tidak lupa dengan selendang yang melingkari tubuhnya. Aduhai cantiknya rektorku. Dalam pandanganku, bahkan pandangan orang banyak, merupakan seorang wanita dengan paket komplit. Ia adalah potret wanita idaman. Rektorku ini adalah seorang pembela hak-hak kaum wanita. Ia selalu berkata, bahwa wanita boleh berdaya di berbagai sektor. Wanita boleh memasuki berbagai profesi, asal tugasnya diselaraskan dengan sifat dan kodrat mereka dan ia tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai ibu rumah tangga, serta tetap mempertahankan hukum-hukum yang ditentukan agama.

Pada hari wafat Ibu kemarin, Jumat tanggal 23 Juli 2021, bukan hanya aku saja yang berduka, tapi juga Ibuku. Bapakku, juga kakakku terlihat lemas ketika mengetahui kabar itu, hingga mereka turut mengabadikan potonya untuk dikenang. Ibuku akhirnya berkata, “Isti, nanti kalau kamu punya anak, kamu beri saja nama Huzaemah agar mendapatkan luberan berkah Ibu rektormu.” Ya, Huzaemah Tahido Yanggo (Huzaimah Tauhid Yanju), seorang wanita perkasa yang namanya harum di mana-mana, melegenda dan diceritakan banyak manusia, dengan berbagai kisah kebaikan lainnya.

Allahummaj’alil jannata matswaahaa. Aamiin

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

RumahBaca.id