03/07/2022

RumahBaca.id

Kreatif, Inovatif & Inspiratif

Profil Pondok Pesantren Abu Manshur Cirebon

0 0
Read Time:4 Minute, 53 Second

Penulis: Atikah Lathofani, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Editor: Masyhari

RumahBaca.id – Berdasarkan data yang terangkum dari katadata.co.id (Januari 2022) terdapat sebanyak 26.975 pesantren di Indonesia. Provinsi Jawa Barat menempati rangking pertama dalam segi kuantitas, dengan jumlah 8.343 pesantren. Angka tersebut berada di atas provinsi Banten dengan jumlah 4.579 dan Jawa Timur sebanyak 4.452.

Berdasarkan data ditpdpontren Kemenag RI (10/05/2022) di Kabupaten Cirebon terdapat sebanyak 725 pesantren. Kali ini, RumahBaca.id akan menyajikan profil Pondok Pesantren Abu Manshur 1.

Pondok Pesantren Abu Manshur adalah salah satu pondok pesantren yang ada di Kabupaten Cirebon. Pesantren ini beralamat lengkap di jalan Syekh Datul Kahfi No. 66 RT 007 RW 002 Desa Weru Lor Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon. Secara geografis pesantren ini cukrup strategis, karena terletak tidak jauh dari lokasi sentra Batik Trusmi.

Sejarah Singkat Pesantren

Awalnya, pesantren yang kini bernama Abu Manshur ini hanyalah sebuah masjid yang dibangun oleh KH Manshur Ali pada tahun 1955 sepulangnya nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Di masjid tersebut, Kiai Manshur mengadakan kegiatan pengajian agama Islam. Seiring berjalannya waktu, Kiai Manshur Ali membangun pondokan sebagai tempat beristirahat dan tidur para santri. Maka jadilah sebuah pondok pesantren.

Saat itu, pesantren ini diberi nama Pondok Pesantren Salafiyah. Saat itu, pesantren belum memiliki peraturan yang tertulis bagi santri.

Setelah Kiai Manshur Ali meninggal dunia, nama Salafiyah diubah oleh Kiai Zakaria Ali, adik kandung KH Manshur Ali menggunakan nama “Abu Manshur”. Nama ini dipakai sebagai pengingat bahwa pendiri pondok tersebut bernama Kiai Manshur Ali.

Profil Pendiri dan Pengasuh Pesantren

Pesantren ini didirikan oleh KH Manshur Ali. Kiai Manshur lahir di Cirebon sekitar tahun 1915 M. Beliau berpendidikan formal di Sekolah Rakyak (SR). Setelah lulus dari SR, Kiai Manshur melanjutkan belajarnya di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri Jawa Timur bersama saudaranya. Di sana, Kiai Manshur nyantri selama kurang lebih 7 tahun.

Sepulang dari Lirboyo, Kiai Manshur Ali pulang ke Cirebon, lantas nyantri di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin selama kurang lebih 3 tahun. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan mencari ilmu ke Jombang, tepatnya di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Semasa hidupnya, KH Manshur Ali terbilang cukup dekat dengan Habib Muhammad bin Syech bin Yahya atau yang akrab dengan sapaan Ayib Muh, pengasuh Pondok Pesantren Jagasatru Kota Cirebon yang kharismatik itu.

Hingga saat artikel ini ditulis (2022) Pondok Pesantren Abu Manshur diasuh oleh KH. Mohammad Alimuddin, Lc. Beliau memiliki seorang istri bernama Maslikhatus Sholikah, putri KH. Madkosim. Kiai Alimuddin merupakan alumni Universitas al-Azhar Kairo, Mesir.

Pesantren Abu Manshur saat ini memiliki sebanyak kurang lebih 300 santri yang berasal dari berbagai daerah, termasuk dari Cirebon sendiri. Selain itu, ada juga santri dari daerah di luar Cirebon, seperti Karawang, Brebes, Tegal, Bogor, Jambi, Subang, Garut, Batam, Bekasi, Banten, Pekalongan, Indramayu, Jawa Timur, dan bahkan luar Jawa.

Lembaga Pendidikan Yang Dikelola

Pondok Pesantren Abu Manshur mengelola beberapa lembaga pendidikan formal yaitu SMP Abu Manshur dan Madrasah Aliyah Abu Manshur. Lokasi sekolah berada di dekat Pondok Pesantren, yaitu di Desa Weru Lor. Pondok pesantren Abu Manshur juga mengelola SMK Abu Manshur yang berlokasi di jalan Nyi Gede Cangkring Desa Kaliwulu Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon, tepatnya di PP Abu Mashur II. Pesantren Abu Manshur juga mengelola SMK Al-Musyawirin.

Selain pendidikan formal, PP Abu Manshur juga mengelola pendidikan non formal yaitu ada Madrasah Diniyah Abu Manshur dan program Takhassus Tahfizhul Quran, yang merupakan program unggulan di Pondok Pesantren Abu Manshur.

Pondok Pesantren Abu Manshur termasuk dalam kategori pondok terpadu, yang memadukan antara sistem pendidikan modern dan pesantren tradisional. Di sebut pesantren tradisional karena masih mengikuti pembelajaran kitab kuning yang merupakan khas pondok salaf. Disebut modern karena pesantren ini juga mengelola pendidikan formal sesuai dengan kebutuhan zaman dan masyarakat sekitar.

Pondok Pesantren Abu Manshur mengadakan pengajian kitab kuning. Kitab kuning yang dikaji di antaranya yaitu Syifaul Jinan karya Syekh Ahmad Muthahir Ibn Abdurrahman, Ta’lim Al-Muta’alim karya Syekh Az Zarnuji, Matan Taqrib karya al-Qadhi Abu Syuja’, Hadis Arbain Nawawi karya Imam An Nawawi, Aqidatul Awam yang ditulis oleh Imam Ahmad al Hasani, Safinatun Najah karangan Syekh Salim bin Sumair al-Hadrami, dan masih banyak lagi kitab yang rutin digunakan oleh pengasuh Pondok Pesantren Abu Manshur Cirebon.

Unit Usaha yang Dikelola Pesantren

Pondok Pesantren Abu Manshur mengelola unit usaha bidang perekonomian, di antaranya yaitu koperasi dan kantin. Keduanya menjadi referensi utama bagi santri dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari. Keberadaan koperasi dan kantin ini sangat bermanfaat khususnya bagi santri yang kehabisan uang saku.

Prestasi dan Penghargaan

Pondok Pesantren Abu Manshur terbilang pesantren yang unggul dalam prestasi. Hal ini dilihat dari sejumlah penghargaan yang diraih oleh santri-santrinya, seperti juara MTQ Internasional di Kairo Mesir, peserta MHQ Internasional di Kairo Mesir, Juara 1 MHQ 5 Juz & Tilawah putra tingkat Kabupaten Cirebon, Juara 2 Lomba MHQ 15 Juz tingkat Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon, kejuaran tingkat Provinsi Jawa Barat, kejuaran tingkat Nasional dan masih banyak lagi penghargaan yang diraih oleh santri Pondok Pesantren Abu Manshur.

Pesantren ini juga memiliki program khusus pembelajaran membaca dan menghafal al-Quran. Sehingga, wajar jika santrinya banyak yang ikut serta dalam MTQ, dan tak jarang yang meraih juara.

Afiliasi dan Peran Pesantren di Tengah Masyarakat

Pondok Pesantren Abu Manshur berafiliasi ke Ormas Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini terlihat dari kitab-kitab yang dipelajari di pesantren ini, serta kegiatan amaliah dan peribadatan sehari-hari santri.

Perkembangan pesantren ini dari sejak awal didirikan hingga saat ini tentu tidak terlepas dari peran lingkungan masyarakat, apalagi mengingat sejarah pendirikan pesantren ini berawal dari sebuah musholla yang dipakai bersama masyarakat sekitar, maka tak heran jika masyarakat sekitar hingga saat ini merespon baik kehadiran Pondok Pesantren Abu Manshur ini.

Bahkan tidak jarang, keluarga besar Pondok Pesantren Abu Manshur juga sering mengikuti kegiatan yang ada di masyarakatat seperti kegiatan gotong royong dengan warga sekitar. Sebaliknya, masyarakat pun sering mengikuti kegiatan positif yang diselenggarakan oleh pondok pesantren, seperti halnya acara peringatan Maulid Nabi dan acara besar lainnya. ***

About Post Author

Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Bagikan tulisan ke:
RumahBaca.id