Oleh Bakhrul Amal, Dosen Ilmu Hukum UNUSIA Jakarta

PROBLEM kita hari ini bukan soal keterbatasan akses, kesulitan menjangkau ilmu pengetahuan, atau minimnya literasi. Problem kita hari ini adalah soal mental.

Kita ketahui bersama bahwa semenjak ilmu pasti menemukan tempatnya, dunia berangsur berubah. Perubahan yang terjadi pun melesat begitu cepat. Perubahan itu dimotori oleh perkembangan teknologi.

Teknologi membuat semua hal yang hendak diketahui bisa terjawab dalam hitungan detik. Informasi tentang dunia yang berbeda secara jarak maupun waktu bisa diperoleh sekedipan mata.

Pertanyaannya adalah mengapa di dunia yang sudah sedemikian maju masih ada saja yang tertinggal? Masih banyak yang kesulitan memperoleh pengetahuan? Ini persoalan penting yang perlu dijawab dan ditemukan solusinya.

Dampak Negatif Teknologi

Teknologi mengubah gaya hidup kita. Itu yang paling kentara. Forest Bronzan, CEO Digital Detox, menuliskan bahwa di antara 19 dampak negatif media sosial terdapat satu dampak yang signifikan bagi pendidikan. Dampak tersebut adalah hilangnya imajinasi. Kehilangan imajinasi ini kemudian membuat maraknya plagiarisme dan kecurangan. Di sisi yang lain cara melakukan analisis dan kajian akan pemikiran kritis pun menurun.

Tumpul. Begitulah biasa digambarkan oleh banyak penulis terhadap cara berpikir yang tidak terbiasa berdialektika. Ketumpulan itu adalah akibat dari perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh kurangnya imajinasi.

Kita bisa melihat kenyataan itu dari banyak peristiwa. Sebagai bahan uji validasi coba cek saja dari satu kelas, utamanya kelas perkuliahan, ada berapa mahasiswa yang menulis tugas dengan pemikiran, ide, dan penulisan yang berbeda. Hampir sebagian besar jika tidak plagiasi maka ide dan pemikirannya sama atau ide dan pemikirannya berbeda di satu kelas namun sama dengan kelas lain. Nahasnya, sebab merasa semua sudah terjawab oleh teknologi, lebih banyak lagi yang tidak mengerjakan.

Dunning Kruger Effect

Problem kedua adalah soal “gede rumangsa” atau merasa sudah bisa dan paham. Problem kedua ini muncul dari efek negatif teknologi yang mampu menyajikan kemudahan. Bukan cuma kemudahan dalam membantu aspek fisik dan kognitif, tetapi kemudahan memperoleh popularitas.

David Dunning dan Justin Kruger, psikolog dari Universitas Cornel, pernah melakukan penelitian pada tahun 1999 terkait sikap manusia. Penelitian itu menguji peserta dari sisi logika, tata bahasa, dan selera humor. Uniknya, mereka yang terbukti mempunyai nilai asli rendah itu justru merasa di atas rata-rata hanya karena kebaikan tim penilai yang memberikan nilai yang tidak jujur untuk kemampuan mereka.

Persoalan ini lantas diuji dengan metakognisi. Metakognisi adalah kemampuan untuk menganalisis pikiran atau kinerja seseorang. Dunning dan Krugger, dengan nada yang miris, menyimpulkan jika “mereka yang memiliki pengetahuan terbatas cenderung menderita beban ganda. Mereka tidak hanya membuat kesimpulan yang salah dan membuat kesalahan yang pada akhirnya berujung penyesalan, tetapi mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa mereka salah”.

Hilangnya imajinasi ditambah dengan problem ketidakmampuan untuk memahami kesalahan pada akhirnya memunculkan kebebalan. Bebal, dalam KBBI diartikan sukar mengerti atau tidak cepat menanggapi sesuatu, adalah suatu sikap yang apabila telah menetap maka sulit untuk diperbaiki. Sikap macam itu mengandung candu dan pada akhirnya membangun mental.

Problem Mental

Permasalahan mental itulah yang sedang banyak menjamur di era digital saat ini. Mental yang jika bukan karena terlalu reaktif menanggapi sesuatu, maka terlalu menganggap diri sudah lebih pintar, padahal belum membuktikan apa pun. Mental yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah mental memudahkan persoalan dan merasa cepat puas. Yang mengerikan, semua mental itu sudah datangnya tanpa disadari, sulit disadari pula, sehingga jika sudah terjangkit, sulit untuk diobati. Semuanya adalah akibat. Disebut akibat karena kebiasaan yang membuat hilangnya imajinasi dan ketidakmampuan menyadari kesahalan diri sebagaimana diakibatkan dua penelitian di atas.

Penutup

Kita yang normal tentu tidak akan mengikuti perubahan yang demikian. Kita yang normal akan berjalan pada jalan yang benar sesuai dengan apa yang sedang menjadi tanggung jawab kita saat ini.

Perubahan yang teramat cepat dan drastis dengan beriringan dengan semakin majunya teknologi harus disikapi bijak. Kaidah yang menjadi pegangan manusia modern, utamanya yang lekat dengan budaya timur, adalah al-muhafazhah ‘alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah, melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik.

Nilai-nilai lama yang perlu dipertahankan adalah nilai belajar kepada ahlinya, menghargai proses dan tidak cepat puas, memahami posisi, serta mau untuk mencurahkan segala macam hal demi ilmu pengetahuan. Nilai baru yang lebih baik yang perlu diambil adalah nilai kemudahan akses informasi yang dapat memperluas sudut pandang, jangkauan silaturahmi pengetahuan yang semakin terbuka, dan penghargaan atas kebebasan berpikir yang sportif bukan asumtif.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *