Oleh Dr. Thobib Al-Asyhar, Sekretaris Menteri Agama RI, Suami Almarhumah

Rumah Baca – Sehari sebelum lebaran 1442 H, saya ingin mengakhiri catatan kali ini tentang almarhumah Ifa Avianty, isteriku. Tulisan-tulisan tersebut saya dedikasikan atas kepergiannya menghadap Sang Maha Indah. Sekedar sharing tentang hal-hal positif dari sosoknya. Semoga ada manfaat dan iktibar bagi saya, keluarga dan kita semua para pembaca.

Sejak mengenalnya, factually Ifa Avianty kutu buku, gila baca. Salah satu alasan kenapa saya ingin menikahinya ketika itu. Kerjaannya hanya membaca dan menulis. Tiada hari dan kesempatan tanpa baca. Entah apa yang memotivasinya untuk terus membaca. Sepertinya ia ingin semua ilmu dikuasainya.

Bukan hanya buku. Apa pun yang dia lihat, dia rasakan, dan dia bayangkan selalu dia “baca”. Dalam diamnya, ia ingin mencari inspirasi dari hasil bacaannya untuk sebuah ide dan rangkaian gagasan agar menjadi tulisan-tulisan indah demi khalayak.

“Liburan saya sangat murah. Gak perlu pergi ke pantai atau tempat wisata. Biarkan saya sendiri. Baca buku. Jangan diganggu, yang penting ditemani kopi,” ujarnya suatu kali.

Bagi sebagian orang, membaca adalah pekerjaan menjenuhkan. Ada orang yang sukanya mengoleksi buku, lalu dia tumpuk di rak-rak rumah untuk hiasan, dan jeprat-jepret utuk dipamerkan di Medsos. Lain halnya Ifa, hampir dua kali dalam seminggu belanja buku. Mulai buku dengan harga terjangkau hingga buku mahal sekali pun. Makanya tidak heran, rumah kami penuh sesak dengan buku. Tidak ada hiasan rumah mahal, kecuali koleksi ribuan buku.

Suatu waktu saya ingatkan, “Bu, kalau beli buku nggak usah yang mahal-mahal lah. Mungin ada prioritas lain”. Lalu dia jawab dengan santai, “Untuk ilmu pengetahuan itu gak ada istilah mahal, Ayah. Semua murah. Kan Tuhan kasih kita akal cuma-cuma.” Mak jleb deh. Saya langsung terdiam seribu bahasa. Dalam batin saya, “ampyuuun deh!”

“Untuk ilmu pengetahuan itu gak ada istilah mahal, Ayah. Semua murah. Kan Tuhan kasih kita akal cuma-cuma.”

Ifa Avianty

Herannya, sekalinya buku dibeli, ya dia lahap habis semua isinya. Beda banget deh dengan gue. Lumayan rajin beli buku juga sih, tapi bacanya hanya di bab awal-awal. Kadang-kadang hanya baca review-nya di belakang sampul buku. Parah kan? Hmmmm… emang itu penyakit saya, mudah ngantuk kalau pegang buku.

Terus terang, saya cepat lieur kalau lama-lama baca buku. Nggak lama buka buku sudah “nggrok… nggrok…” alias ngorok dan akhirnya mimpi indah bersama barisan-barisan teks. Nah, bagusnya, kalau lagi susah tidur, saya cari buku favorit sebagai pengantar tidur. Sumpah. Saya hanya berharap, begitu tertidur saat baca buku, lalu mimpi meneruskan baca buku dan bangun-bangun sudah pinter… hehe…

Sosok Ifa memang beda banget dengan kebanyakan orang. Ia itu tipe orang gigih utuk mengerti banyak hal. Sekali dia ingin mengetahui tentang sesuatu, ya harus dapat. Apa pun caranya. Misalnya, ingin mengetahui tentang sejarah perang Bubat, peristiwa bocornya nuklir Chernobyl, jenis-jenis kapal selam dalam perang dunia kedua, dll, ya dia akan berusaha membeli buku tentang tema-tema itu.

Demikian juga buku-buku mahal untuk anak-anak, seperti serial World Book, Tira Pustaka Jakarta, Ensiklopedi Anak Nasional, dan lain-lain. Kalau lagi bokek, ya disempatin nabung, dan diem-diem beli buku. Tiba-tiba paket datang aja ke rumah. Lalu satu persatu dinikmati bersama anak-anak.

Ya, almarhumah sangat haus terhadap ilmu. Ia demen banget nonton film-film sejarah dan drama yg romatis, dengerin musik-musik klasik, dan baca buku-buku tentang tokoh besar dunia. Mulai dari tokoh filsafat, politik, budaya, hingga seorang tokoh lokal yang menginspirasi. Ala kulli hal, ia sangat peduli bagaimana anak-anaknya kelak menjadi ahli ilmu, dan tentu ahli kebaikan.

“Kalian harus menjadi orang ‘bisaan’. Ini bisa, itu bisa, sono bisa. Pasti deh akan dibutuhkan banyak orang. Kalau kalian hanya main game-game online nggak penting, kelak tidak akan menjadi siapa-siapa.” Itu kalimat yg sering diulang-ulangnya kepada anak-anak.

Kecintaannya terhadap ilmu, mungkin sebagai implementasi dari yang pernah dibilang Imam Al-Ghazali, “Idza zaadani ‘ilman, zaadani fahman bijahly”(jika bertambah ilmu saya, bertambah pula kebodohan saya). Al-‘Ilm shifatul ‘alim. Ilmu merupakan sifat dari orang yang berilmu itu sendiri. Ilmu bukan berada di suthur (tertulis) tapi ilmu semestinya ada dalam shudur (dada)

Dengan hobi membaca dan menulis, serta ditularkannya kepada anak-anak, mungkin diam-diam ia sedang ingin mewujudkan apa yang pernah Nabi sampaikan, “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalnya, kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Semoga kita semua menjadi ahlul ilmi wa ahlul khair. Amin ya Rabbal alamin.
Selamat menyambut Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *