Oleh Du’aa Ahmad Nahrawi, penulis tinggal di Mesir

“The best way to learn history is to read fiction”

Melissa Gouty

Sepakat atau tidak dengan pendapat Melissa di atas, yang pasti membaca novel dan fiksi bisa membawa kita seakan hidup dan menjalani peristiwa-peristiwa sejarah tanpa membaca buku berjilid, dan inilah yang akan kita temui dalam lembaran-lembaran novel كريسماس في مكة karya Ahmad Khairy Al-Umairy.

Christmas kok di Mekkah?

Ya, karena ketika Irak diembargo sesudah perang Irak-Iran dan merebaknya isu Sunni-Syiah, begitu banyak penduduk Irak yang berimigrasi ke negeri-negeri Eropa. Ada yang sukses. Ada yang hidup melarat. Ada yang berhasil menjaga identitas keislaman dan ketimuran. Ada yang terbawa arus kebaratan. Inilah inti dari dialog diri masing-masing tokoh yang bersatu di Mekkah di liburan christmas dalam karya yang sarat makna, berbobot tapi mengalir dan enak dibaca.

Alkisah, Mayaddah, gadis Syiah yang menikahi dokter Sunni. Keduanya hidup rukun sampai maut merenggut nyawa kakak laki-lakinya, Maitsam yang dibunuh secara kejam oleh ekstrimis Sunni, dan menyusul suaminya pun terbunuh oleh ekstrimis Syiah karena namanya Umar.

Mayaddah akhirnya memboyong putri semata wayangnya ke Inggris untuk mendapati putrinya tumbuh mengutuk diskriminasi perempuan oleh kaum laki di negara-negara Arab dan berkeyakinan bahwa Islam mengekang kebebasan berekspresi.

Dari Mayyadah, Mariam, Sa’ad, Haidar, Ahmad, dan Ishak kita dibawa bercermin, berpikir, bersyukur dan banyak sensasi lain. Dari berbagai peristiwa kita dibawa merasakan ketakutan penduduk Baghdad ketika tentara Mongol membumihanguskan kota, dan bagaimana kepedihan Ahmad, paman khalifah Al-Musta’sim mendapati daulah Abbasiyah merelakan kejayaannya punah di tangan Hulagu Khan.

Dari Irak kita belajar pedihnya sebuah negeri terkoyak dan tercabik berulang-ulang. Sejarah berputar, aktor berganti tapi tetaplah darah putra-putri Iraklah yang tumpah.

“Sepertinya Irak tak pernah mencintai kita, sebagaimana kita mencintainya,” tutur Mayaddah.

Banyak juga informasi baru yang kita dapat dari novel ini, misalnya, tahukah Anda bahwa bahwa rombongan jemaah umrah dalam satu biro perjalanan di Irak memiliki dua pemandu? Ya, satu untuk jemaah sunni dan satu untuk jemaah syiah. Nah bedainnya gimana? Dalam pesawat pemandu sunni akan berdiri dan bershalawat:
اللهم صل على محمد و على آل محمد

Kemudian pemandu syiah akan gantian berdiri dan bersalawat:

اللهم صل على محمد و آل محمد

Nah bedanya di mana? Di ‘على’ 🌝

Atau, tahukah bahwa ketika Ramadan sesudah azan Maghrib berkumandang ada sebuah nasyid yang diputar untuk menandakan waktu berbuka bagi Sunni dan Syiah. Sunni akan berbuka di awal nasyid, sementara Syiah akan berbuka sesudah nasyid selesai.

Jadi, pecinta novel cinta-cintaan gak akan doyan sama novel ini, tapi yang ingin menyelami kesuraman yang dialami Irak, Baghdad khususnya, kepenatan yang dialami penduduk Irak baik yang memilih tetap bertahan di negerinya, atau mereka yang menyelamatkan diri ke Eropa, juga bagaimana christmas di Mekkah telah menjadi penawar semua luka dan menjadi jawaban krisis identitas yang selama bergejolak di diri para tokoh, silahkan menikmati novel ini.[]

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *