Sobat pembaca setia Rumah Baca, kali ini admin akan berbagi tulisan Eni Ratnawati, sebuah resensi buku yang bertajuk Jejak Langkah. Buku ini ditulis oleh Jodi Picoult, seorang novelis ternama dengan judul asli berbahasa Inggris Leaving Time. Buku versi terjemahannya setebal 508 diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta tahun 2016. Selamat membaca.

Tahukah kamu bahwa gajah memiliki kemampuan mengingat yang sangat-sangat baik. Bahkan dalam rentang puluhan tahun, gajah tetap mengenali wajah-wajah yang dulu pernah akrab dengannya. Gajah tidak hanya hewan yang penuh kasih sayang, ia juga memiliki kepekaan rasa seperti halnya manusia. Saat gajah berduka, ia memilih mengisolasi diri sampai saat ia benar-benar siap merelakan dan melepaskan. Dan kau tahu, induk gajah tidak pernah kehilangan kesabaran dari anak-anaknya. Tidak saat anak-anak gajah masih bayi, bahkan saat anak-anak itu beranjak dewasa. Hal yang, menurut saya, sepertinya sangat sulit bagi manusia.

“Teman sejati akan menempuh ratusan kilometer bersamamu, di bawah hujan, salju, es, dan badai.” Leaving Time 🌺

Novel Leaving Time nyaris separuhnya berisi fakta-fakta tentang gajah. Data-data dipinjam dari sekian banyak riset yang dilakukan oleh para ilmuwan gajah dan masyarakat gajah. Namun jika hanya berbicara tentang gajah dan penelitian, kiranya seseorang cukup puas dengan membaca jurnal hasil riset tanpa harus membeli novel.

Dan selanjutnya, bisa dibayangkan novel ini pun akan kehilangan pendar-pendar magisnya. Kabar baiknya adalah bahwa novel ini tidak hanya berkisah tentang perilaku gajah. Dan jauuuh lebih cantik dari goresan lanskap yang bisa ditawarkan oleh sampulnya.

Leaving Time menceritakan tentang pencarian seorang anak, Jenna 13 tahun, atas perempuan yang melahirkannya dan sepuluh tahun lalu meninggalkannya begitu saja. Dalam proses pencarian ini, Jenna berkolaborasi dengan Serenity, seorang cenayang yang telah mandul kecenayangannya, dan Virgil, mantan detektif pemuja Jack Daniel’s, yang sepuluh tahun lalu berkebetulan menangani kasus yang menimpa keluarga Jenna.

Ya, sepuluh tahun telah berlalu. Tak banyak yang dapat Jenna ingat selain potongan-potongan cerita yang tak pernah menjadi utuh. Menyisakan fakta bahwa ayahnya sang pemilik suaka gajah, seorang ilmuwan dan pengamat perilaku gajah, kini terdampar ringkih menjadi penghuni tetap rumah sakit jiwa di New England. Suaka yang bangkrut, kematian salah satu karyawan suaka yang diduga karena kecelakaan, namun juga terendus indikasi pembunuhan. Dan terakhir adalah hilangnya Alice, sang ilmuwan peneliti gajah sekaligus ibu Jenna.

Alice, bisa saja masih hidup atau sudah mati. Dan Jenna hanya memiliki dua pertanyaan untuk perempuan yang selalu ditunggunya itu. Jika Alice masih hidup, ia hanya ingin bertanya; apakah Mom sayang kepadaku? Namun jika ibunya itu telah mati, ia hanya ingin tahu jawaban dari; apakah Mom bersedia menungguku?
Selamanya akan menjadi kosong, suatu tempat di dalam hati seorang anak tanpa sentuhan kasih ibu. Dan Jenna merasakan itu. Ia hanya tidak ingin terus menunggu. Jika ibunya tidak sudi menemuinya, ia yang akan mencari kebenaran itu. Di mana Alice? Di mana ibunya? Jika benar ia telah mati, dan bahkan Serenity sang cenayang tak berhasil memanggil rohnya untuk sekadar berkomunikasi.

Merampungkan novel ini membuat saya berkesimpulan; novel yang bagus adalah novel yang mengandung dinamit. Iya, dinamit. Kau membaca dan terus membaca, lalu kau temukan dirimu meledak tiba-tiba oleh kejutan-kejutan di tiap alinea atau babnya. Ledakan itu bisa saja berupa kesadaran akan fakta yang terkuak yang terkadang ada dan terjadi di sekitar kita. Bisa berupa rasa yang tetiba menjadi parau dan terlampau asin, manis atau getir. Ledakan itu bisa berupa alur yang berkelok tetapi ritmis, atau ending yang memerangkap, menjebak dan sama sekali tak terprediksi. Atau bisa juga berupa informasi-informasi, pengalaman dan pemahaman baru yang cukup berarti.

Kau tahu, fiktif adalah fakta yang dikemas sedemikian rupa sehingga seseorang berpikir itu adalah rekayasa.
Leaving Time, dalam bab-bab terakhir kau akan temukan kesadaranmu benar-benar tertampar. Ia berbicara tentang segala hal ilmiah, riset dan fakta, seolah tak memberi tempat selain kepada rasionalitas. Tetapi keberadaan Serenity cenayang mementahkan semua itu. Jodi Picoult menawarkan kebenaran satu sisi kehidupan yang tak bisa diraba oleh logika. Dan faktanya, memang banyak hal terjadi dalam hidup seseorang, yang tidak semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Jadi, akankah Jenna menemukan ibunya? Akankah Serenity kembali memanen keahlian cenayangnya? Dan Virgil, berhasilkah ia memecahkan kasus yang sepuluh tahun lalu ditinggalkanya membangkai di atas meja kerjanya? Saya berani memberi garansi, semua ledakan itu akan pembaca temui dalam Leaving Time ini.

Bagaimana jika bukan Alice yang meninggalkan Jenna? Tetapi Jenna lah yang sepuluh tahun lalu meninggalkan dunia.

Jika cinta kasih ibu tak akan pernah menjadi surut bahkan oleh kematian, maka kerinduan buah hati tak akan pernah menjadi sirna bahkan setelah kematian.
_ 🌺🌺🌺_

Untuk Nabil, Zahwa, Alinka dan Ayah Masyhari, cinta kasihku memeluk kalian dalam ada dan tiada.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *