Oleh: Ajat Sudrajat*

Buku Karen Armstrong ini judul aslinya ialah A History of God: The 4,000- Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, sebuah buku deskriptif tentang sejarah awal mula munculnya tiga agama besar, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Buku tentang sejarah realitas Tuhan yang terucapkan, yang Esa, yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia, atau yang dipersepsikan secara berbeda-beda oleh berbagai kelompok manusia (agama), bukan tentang itu semua, melainkan tentang sejarah persepsi umat manusia tentang Tuhan.

Persepsi manusia tentang Tuhan memiliki sejarah, karena persepsi itu selalu memiliki arti yang sedikit berbeda bagi sekelompok manusia dalam setiap periode waktu. Pernyataan “saya beriman kepada Tuhan” hanya akan bermakna ketika ada dalam suatu konteks, misalnya, ketika dicetuskan oleh suatu umat tertentu. Bahkan, pernyataan “saya tidak percaya kepada Tuhan” pada setiap periodenya mengandung arti yang berbeda secara sepintas. Melalui buku ini, kita dapat melihat bahwa sebuah ide tentang Tuhan tidak harus selalu rasional, logis atau ilmiah, yang penting bisa diterima oleh umatnya.

Pertama kali diterbitkan oleh Ballantine Books, New York tahun 1993, buku Sejarah Tuhan karya Karel Armstrong ini pertama kali pula diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Zaimul Am, Penerbit Mizan, Bandung tahun 2001.

Karen Armstrong lahir 14 November 1944 di Wildmoor, Worscestershire, Inggris. Ia adalah seorang pengarang, feminis dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Buddhisme, dan Islam. Karen sendiri ialah seorang kristen katholik Roma, yang berdasar pengakuannya, ia memiliki kepercayaan keagamaan yang kuat sejak kecil, walaupun dengan sedikit keimanan kepada Tuhan (Karen: 17). Tahun 1962-1969 ia menjadi seorang biarawati dari Ordo Society of the Holy Child Jesus. Namun, ia keluar sebagai biarawati pada saat studi di St Anne’s College, Universitas Oxford.

Disusun dalam sebelas bab, dengan rata-rata 70 halaman setiap babnya, Karen tidak hanya membahas sejarah tiga agama besar itu, melainkan juga mengeksplorasi sejarah Tuhan hampir dari semua agama dan kepercayaan yang ada di dunia. Sekalipun tentunya dalam porsi yang tidak sebanyak kisah tiga agama besar. Hebatnya, Karen juga memberikan telaah kritis tentang kepercayaan Tuhan.

Buku Sejarah Tuhan adalah sebuah buku hasil dari penelitian Karen tentang sejarah ide dan pengalaman tentang Tuhan pada tiga kepercayaan monoteistik (Islam, Kristen, dan Yahudi). Sebuah penelitian sejarah untuk memastikan bahwa Tuhan adalah sebuah proyeksi kebutuhan umat manusia. Kebutuhan atas kekosongan satu ruang dalam hasrat manusia.

Karen mengawali pembahasannya dengan menjelaskan bahwa pada mulanya, manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi. Selanjutnya manusia mulai membentuk mitos dan menyembah dewa-dewa.

Pembahasan terkait manusia menciptakan satu Tuhan ia sandarkan berdasarkan teori yang dipopulerkan oleh Wilhem Schmidt dalam The Origin of the Idea of God, bahwa sebelum manusia menyembah banyak dewa, manusia telah sejak lama mempercayai adanya satu kekuatan gaib (numionous) di luar nalar manusia, yaitu satu kepercayaan terhadap satu Tuhan Tertinggi, yang dikenal dengan istilah monoteisme primitif. Lalu di zaman kuno Tuhan Tertinggi digantikan oleh tuhan-tuhan kuil pagan yang lebih menarik.

Pada pembahasan tentang manusia mulai membentuk mitos dan menyembah dewa-dewa, Karen mengatakan bahwa, mereka tidak sedang mencari penafsiran harfiah atas fenomena alam, melainkan upaya metaforis untuk menggambarkan sebuah realitas yang terlalu rumit dan pelik untuk diekspresikan dengan cara lain.

Upaya metaforis itu, misalnya, pada periode Paleolitik, kultus Dewi Ibu mengungapkan perasaan bahwa kesuburan yang mentransformasi kehidupan manusia sebenarnya adalah sakral. Dewi Ibu ini tersebar di seluruh Eropa, Timur Tengah, dan India. Dia disebut Inana di Sumeria kuno, Isytar di Babilonia, Anat di Kanaan, Isis di Mesir, dan Aphrodite di Yunani.

Pada pembahasan awal mula kepercayaan terhadap satu Tuhan. Kisah itu dimulai dengan melalui kisah tiga gelombang kedatangan Abraham (nabi Ibrahim alaihissalam) dan anak keturunannya, orang Ibrani di Kanaan (Israel).

Kisah itu ia kutip dari Kitab Kejadian, bahwa kedatangan pertama ialah Abraham dan Hebron pada 1850 SM, lalu kedua ialah cucu Abraham, Yakub, yang diganti namanya menjadi Israel, dan ketiga sekitar 1200 SM yaitu suku-suku yang mengaku keturunan Abraham yang dijadikan budak oleh orang Mesir, namun dimerdekakan oleh suatu ilah bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhan pemimpin mereka, Tuhan Musa. Kelompok terakhir ini beraliansi dengan orang Ibrani yang ada di sana dan kemudian disebut orang Israel.

Berikutnya, secara panjang lebar Karen membahas tentang beberapa sarjana biblikal Jerman yang mengembangkan empat sumber berbeda dalam lima kitab pertama Alkitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, yang dikumpulkan menjadi sebuah naskah akhir yang disebut Lima Kitab Musa (Pentateukh) pada abad kelima SM.

Saat membahas Pentateukh, Karen mengungkapkan sejarah ditemukannya beberapa kisah yang cukup berbeda tentang peristiwa-peristiwa biblikal penting, seperti Penciptaan dan Air Bah, termasuk diantaranya ialah pertentangan penyebutan nama Tuhannya, “J” menyebut Tuhannya adalah “Yahweh”, sedangkan “E” lebih suka menyebut nama ketuhanan yang lebih formal yaitu “Elohim”.

Selanjutnya Karen menceritakan periode tahun 800-200 SM yang disebut sebagai Zaman Kapak. Di semua kawasan, masing-masing mengembangkan ideologi yang berbeda untuk menghadapi ketidakadilan dan eksploitasi yang muncul akibat majunya peradaban dan bergesernya kekuasaan ke bursa perdagangan. Ideologi yang muncul, misalnya, Taoisme dan Konfusianisme di Cina, Hinduisme dan Buddhisme di India, dan rasionalisme filosofis di Eropa. Penjelasan Buddhisme di India, Logika dan Nalar Plato-Aristoteles, menjadi pembahasan yang cukup panjang dalam bagian akhir bagian pertama.

Di bagian berikutnya, Karen mulai mengupas secara detail sejarah kepercayaan tiga agama besar itu, dimulai dari agama Yahudi yang berkembang dari bangsa Israel, hingga kelahiran Yesus di utara Palestina yang dipandang sebagai pendiri Israel baru oleh orang kristen generasi pertama.

Dia menjelaskan ciri khas pada Yahudi adalah agama tersebut muncul dengan lawan utamanya yaitu kaum pagan. Maka Yahudi digambarkan sebagai asal mula bagaimana manusia mendapat pencerahan tentang Tuhan yang satu.

Agama Kristen dibahas Karen sebagai sebuah agama mempunyai ciri khas pada trinitas. Dia membahas bagaimana pentingnya konsep trinitas sebagai salah satu faktor penyebab berkembangnya agama ini, disertai juga pembahasan tentang keunggulan dan kelemahannya.

Injil Markus menampilkan Yesus sebagai manusia biasa, memiliki keluarga yang terdiri dari saudara lelaki maupun perempuan, namun memiliki kekuatan ilahiah yang kemudian setelah kewafatannya seperti menghadirkan sebuah citra tentang Tuhan dikalangan murid-muridnya.

Menurut Paulus, Yesus bukanlah inkarnasi dari Tuhan, melainkan “Anak Tuhan” dan hanya memiliki kuasa dan Ruh Tuhan, yang mewujudkan aktivitas Tuhan di bumi dan sama sekali tidak bisa disamakan dengan esensi Ilahi yang tak terjangkau. Tapi lama-kelamaan, Yesus dipercayai sebagai Tuhan oleh orang-orang kristen kemudian. Mengenai kematian Yesus itu sendiri, peristiwa itu masih menjadi sebuah skandal. Namun Paulus meyakini dan berkata bahwa Yesus telah menderita dan wafat “demi dosa-dosa kita”.

Pada tahun 80-an, terjadi perselisihan tajam antara orang-orang Yahudi dengan Kristen yang menolak menaati Taurat. Namun di kekaisaran Romawi, Kristen pertama kali dianggap sebagai cabang dari Yudaisme, tetapi tatkala orang Kristen memperjelas diri bahwa mereka bukan lagi anggota sinagoga, tempat ibadah orang Yahudi, mereka dipandang dengan kebencian sebagai kaum fanatik yang telah melakukan dosa besar karena meninggalkan kepercayaan leluhur.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, tahun 235 Kristen menjadi salah satu agama terpenting di kekaisaran itu dan mereka mulai berbicara tentang sebuah Gereja Agung, sampai Kaisar Konstantin menjadi terpikat dan memeluk kristen tahun 312. Sejak saat itu Kristen dilegalisasi di tahun berikutnya dan pemeluknya dapat bebas beribadah dan bermasyarakat.

Sekitar tahun 320, gairah teologis yang membara memasuki gereja-gereja di Mesir, Siria dan Asia Kecil, hingga tersebarlah kontroversi mengenai Tuhan yang sejati hanyalah sang Bapa, sedangkan sang Putra tidaklah abadi. Kontroversi itu kian memanas sehingga Kaisar Konstantin turun tangan dan menghimbau penyelenggaraan sebuah sinode di Nicaea, di kawasan Turki modern, untuk membahas masalah ini pada 20 Mei 325 dengan para uskup.

Banyak terjadi perdebatan mengenai masalah itu, hingga akhirnya ditetapkan sebuah doktrin resmi Kristen untuk pertama kalinya, bahwa Kristus bukanlah sekedar makhluk, dan Sang Pencipta dan Penebus itu adalah satu.  Tapi setelah itu perdebatan masih muncul hingga bertahun-tahun setelahnya, dan orang-orang Kristen masih kebingungan. Belakangan konsep ini dikenal sebagai konsep trinitas, yakni kepercayaan bahwa ada tiga Tuhan: Tuhan Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Konsep Trinitas tidak bisa disamakan dengan Tuhan, itu sendiri. Melainkan hanyalah istilah-istilah untuk membicarakan energi yang “melaluinya” Tuhan menjadikan dirinya diketahui. Pada akhirnya, Trinitas hanya bisa dipahami sebagai sebuah pengalaman mistik atau spiritual: ia harus dialami, bukan dipikirkan, karena Tuhan berada jauh di luar jangkauan konsep manusia. Sedangkan Islam, mempunyai ciri khas dalam hal keesaan Tuhan. Karen mengawali pembahasannya dengan sejarah Nabi Muhammad SAW.

Sekitar tahun 610, dikisahkan, nabi Muhammad SAW. yang tak pernah membaca Alkitab mengalami suatu kejadian luar biasa di Gua Hira ketika melakukan penyendirian spiritual selama bulan Ramadhan -praktik yang lazim di kalangan penduduk jazirah Arab. Di malam ketujuh belas Ramadhan, tatkala Muhammad dibangunkan dari tidur dan merasakan dirinya didekap oleh kehadiran ilahiah yang dahsyat, satu malaikat menampakkan diri kepadanya dan memberinya sebuah perintah singkat: “Bacalah! (iqra’!), itulah Firman Tuhan yang diucapkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Arab, dan melahirkan kitab suci yang kemudian disebut Qur’an.

Karen menceritakan kisah-kisah luar biasa itu dengan lugas, hingga ke masa kenabian Muhammad (saw.). Ia kemudian mendeskripsikan Muhammad sebagai “seorang jenius yang sangat luar biasa”, karena telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah.

Agama Muhammad kemudian dikenal dengan nama Islam, yang berarti kepasrahan eksistensial yang diharapkan untuk diberikan setiap Muslim kepada Allah. Seorang muslim adalah seseorang yang menyerahkan segenap dirinya kepada Sang Pencipta. Karen kemudian berfokus kepada al-Qur’an, yang di dalamnya terkandung tentang nabi-nabi Yahudi dan Kristen, yang mengajarkan konsep bahwa sesungguhnya, Ibrahim, Yakub, Musa, Yesus adalah nabi-nabi Allah dan mereka semua adalah orang-orang yang tunduk (Muslim).

Setelah pembahasan tentang sejarah masing-masing agama, Karen melanjutkan pada tiga fokus utama berdasarkan kajian agama yang pernah ada sejak kematian Nabi Muhammad SAW. Tiga fokus itu adalah mistis, filosofis, reformis. Pada setiap fokus itu, Karen Amstrong memaparkan peran dari masing-masing agama dalam perkembangannya.

Hanya saja, bagi seorang muslim, karya Karen Armstrong ini sangat kontradiktif dengan akidah agama Islam. Jadi harus lebih hati-hati. Jangan mudah terkecoh, karena pada pembahasan tentang Islam, dia cukup mengagungkan (membanggakan) Nabi Muhammad SAW. Sepintas, ini seolah pro dengan agama kita. Padahal jelas-jelas sangat bertentangan, terutama pernyataan “Hamba Tuhan merasakan ketenteraman yang sama di dalam sinagog, kuil, gereja atau masjid, karena semuanya menyediakan pemahaman yang sah tentang Tuhan.”

Jelas, itu sangat bertentangan dengan akidah kita. Dalam akidah Islam, agama yang benar dan diridai Allah adalah Islam. Bahkan, saya tidak menemukan adanya pernyataan yang jelas bahwa Karen Armstrong telah mengubah ideologi atau keyakinannya. Selain pengakuan dia menganut keyakinan independen mengenai Tuhan yang dikatakan sebagai “freelance monoteism“.

Secara keseluruhan, saya katakan bahwa buku ini sangat bagus untuk menambah khazanah keilmuan, dengan berbagai latar belakang keagamaan dan kepercayaan. Sekalipun saya tidak mampu mengambil ringkasan dengan baik selain sebuah kesan pribadi, bahwa setelah membaca buku ini saya memiliki semangat untuk lebih mempelajari agama Islam dan  saya sangat bersyukur pernah membaca buku ini. Wallahu a’lam.

*Dosen Institut Agama Islam Cirebon

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *