Oleh Mualim, S.Pd.I, Guru MTs NU Miftahul Falah Dawe Kudus

Rumah Baca – Pandemi Covid-19 telah mengubah proses belajar mengajar di sekolah dari yang semula tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), di mana antara guru dan murid tidak lagi bertemu secara langsung face to face, tetapi secara virtual, online atau daring.

Perubahan ini tentu membuat pihak sekolah kalang kabut dan pontang panting. Sekolah harus menyiapkan sarana, prasarana, biaya, dan persiapan lainnya untuk PJJ. Bagi sekolah yang sudah akrab dengan IT tentu tidak menjadi masalah. Tetapi bagi sekolah yang minim fasilatas IT-nya tentu menjadi beban tersendiri. Tidak hanya itu, para guru juga harus menyiapkan diri secara psikologis, menyiapkan materi dan hal-hal teknis berkaitan dengan IT.

Meskipun demikian, pihak yang paling pontang panting dan dirugikan dalam PJJ adalah orangtua. Mengapa demikian? Karena pendampingan dan pengawasan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah yang semula menjadi tanggung jawab guru kini berpindah menjadi tanggung jawab orang tua. Jika pendampingan dan pengawasan siswa dalam pembelajaran tatap muka didominasi oleh guru, maka dalam PJJ pengawasan dan pendampingan mau tidak mau harus menjadi beban dan tanggung jawab orang tua.

Memang guru bisa mengawasi dan mendampingi siswa belajar secara virtual, tetapi tentu tidak seperti belajar di kelas. Guru dipastikan tidak akan bisa secara maksimal dalam mengontrol siswa. Dengan demikian, secara otomatis PJJ menuntut orang tua, mau tidak mau, juga berperan sebagai guru dan teman bagi anak. Pertanyaannya, mampukah orang tua juga berperan sebagai guru dan teman belajar bagi anak?

Jawabannya, bisa mampu, bisa juga tidak mampu, tergantung kondisi orang tua. Pertama, bagi orang tua yang mampu berperan sebagai guru dan teman belajar anak kebanyakan adalah profesinya sebagai guru. Orang tua yang berprofesi sebagai guru tentunya sudah tidak asing lagi masalah pembelajaran. Di tengah kesibukannya, ia masih bisa dan mampu mendampingi anak-anaknya belajar secara daring. Selain profesi guru, orang tua secara ekonomi mapan dan tidak disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga juga bisa mengawasi dan mendampingi anak-anak dalam PJJ.

Meskipun demikian, tidak semua guru atau orang tua seratus persen mampu mendampingi dan mengawasi anaknya sendiri dalam PJJ. Karena tidak semua anak sreg atau nyaman didampingi orang tuanya ketika belajar. Begitu juga, ada guru yang mampu mendampingi dan mengawasi anak-anak belajar di sekolah, tetapi kurang sabar jika mendampingi anaknya sendiri di rumah. Ditambah lagi, tidak semua orang guru dan orang tua mampu menguasai semua jenis mata pelajaran. Dengan demikian, meski orang tua mampu berperan sebagai guru dan sebagai teman belajar anak di rumah, tetapi tentunya tidak akan bisa maksimal.

Ada pula orang tua yang hanya mampu berperan mengawasi belajar anak saja. Namun tidak bisa mendampingi dan memberi solusi bagi anak ketika mendapatkan kesulitan dalam belajar, entah karena kesibukan pekerjaannya sendiri atau karena memang tidak menguasai materi pelajaran. Sehingga anak mengalami hambatan menyelesaikan proses belajarnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah banyak orang tua yang mampu secara ekonomi, tapi tidak mampu mendampingi dan mengawasi anak saat PJJ. Hal ini dikarenakan orang tua bekerja dan disibukkan dengan urusan ekonomi keluarga. Misalnya, ada anak yang ayahnya kerja di luar kota, sedangkan ibunya juga bekerja di luar rumah. Ketika ibunya berangkat bekerja sang anak masih tidur. Sehingga sang ibu tidak bisa mengontrol keaktifan anaknya ketika PJJ berlangsung.

Pada kasus di atas, pendampingan dan pengawasan dalam PJJ tidak ada sama sekali. Akibatnya, banyak anak yang tidak mengindahkan PJJ. Anak tetaplah anak, bukan orang dewasa yang sudah stabil tanggung jawabnya. Karena tidak ada yang mengontrol dan mengawasi, maka anak bebas beraktifitas apa saja. Banyak anak yang hanya bermain game online, sedangkan materi dan tugas PJJ tidak mereka ikuti dan kerjakan.

Lebih dari itu, ada juga sebagian orang tua yang abai terhadap PJJ. Abai ini karena mereka kurang memahami PJJ. Bahkan ada yang menganggap sekolah libur. Di benak orang tua model ini, yang dimaksud belajar atau sekolah ya tatap muka, anak berangkat dan belajar di sekolah. Jika anak tidak berangkat ke sekolah ya berarti libur. Pada akhirnya anak juga malas belajar. Susah bukan menjadi orang tua, sekaligus teman dan guru bagi anak?

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

One thought on “Siapkah Orang Tua Sekaligus Menjadi Guru dan Teman bagi Anak dalam PJJ?”
  1. Betul Sekali Bapak.. sangat sesuai dengan kondisi riil saat ini. Semoga banyak hikmah dari peristiwa ini. baik bagi orangtua, guru maupun siswa sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *