Oleh Mualim, Guru di MTs NU Miftahul Falah Dawe Kudus

MENULIS masih menjadi keahlian yang langka di kalangan siswa sekolah. Pengalaman teman saya, seorang guru bahasa Indonesia, menunjukkan mayoritas siswanya mengalami kesulitan ketika menulis. Maksudnya, mereka tidak mampu menulis dengan baik ketika mendapatkan tugas mengarang.

Memang ada siswa yang mampu menulis dengan baik. Akan tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Satu kelas, misalnya, hanya ada satu-dua anak yang mampu menulis sampai satu atau dua halaman buku. Selebihnya hanya mampu menulis satu atau dua paragraf saja. Selesai. Bahkan ada sebagian anak yang copy paste tulisan dari internet untuk memenuhi tugasnya.

Kondisi tersebut tentu menyedihkan. Sebab ini menunjukkan bahwa kecakapan siswa berbahasa baik lisan maupun tulis masih rendah. Padahal di era digital saat ini kemampuan berbahasa baik lisan maupun tulis sangat membantu pengembangan diri.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang konkrit untuk mengembangkan keahlian menulis di kalangan siswa, di mana peran guru atau sekolah sangat penting untuk menumbuhkan dan mengasah keahlian siswa dalam menulis. Mengembangkan skill siswa menulis bisa juga dimulai pada awal tahun pelajaran baru 2020/2021 saat ini.

Setidaknya ada tiga langkah yang harus diupayakan agar keahlian menulis siswa berkembang dengan baik. Langkah ini sederhana dan praktis. Lebih banyak menekankan pada praktik menulis daripada belajar teori. Sebab berkaitan dengan teori sudah pasti siswa akan mendapatkannya pada pelajaran bahasa di kelas.

Pertama, kita ajak siswa untuk membaca contoh tulisan. Contoh tulisan bisa berupa berita, artikel, cerpen, opini, teks laporan observasi, dan lainnya. Jika kita ingin memotivasi siswa untuk membuat berita, mislanya, kita ajak mereka membaca contoh berita di surat kabar atau majalah. Bisa juga kita ajak mereka membaca berita online. Ini kan zaman digital. Apa saja serba online.

Lain lagi, jika kita ingin mengajak siswa membuat cerpen. Ajaklah mereka melihat contoh-contoh cerpen karya para penulis yang sudah kita kenal. Dan yang utama ajaklah mereka menikmati cerpen-cerpen tersebut. Mintalah sebagian siswa untuk membacanya di depan kelas.

Meskipun demikian, contoh tulisan yang kita berikan kepada siswa harus disesuaikan dengan daya pikir, kondisi psikologis, dan dekat dengan dunia mereka. Karena itu kita hendaknya menyuguhkan kepada mereka berita yang dekat dengan dunia dan pengalaman mereka, sehingga mereka mudah untuk memahami dan mencernanya. Misalnya, berita tentang kegiatan sekolah, festival pelajar, feature tentang pelajar berprestasi, dan lainnya, tentu lebih mudah dicerna oleh siswa usia SMP/MTs. Sedangkan berita politik, perdagangan saham, eskpor-impor, dan sejenisnya, kemungkinan besar akan sulit dicerna oleh siswa seusia mereka.

Untuk contoh cerpen bisa kita pilih cerpen yang isi pesannya dekat dengan kondisi psikologis siswa. Selain itu, bisa juga kita pilih cerpen yang mengandung pesan moral peduli sesama, membangun kepercayaan diri, semangat belajar siswa, semangat berkarya, semangat bertoleransi, persahabatan, dan lainnya.

Dengan demikian, langkah pertama ini kita mengajak siswa untuk akrab membaca dan mengenal berbagai jenis tulisan. Harapannya, setelah mereka membaca dan mengenal berbagai contoh tulisan, hati dan pikiran mereka akan tergerak dan muncul keinginan untuk menulis. Kata pepatah, “Siapa tak kenal maka tak sayang.” Dalam konteks ini, “Siapa tak membaca, maka tak akan menulis.”

Kedua, nah, setelah siswa melihat, membaca, dan menikmati sendiri berbagai macam contoh tulisan, maka tiba saatnya mereka kita ajak untuk praktik menulis. Caranya, ya pakai metode ATM lah. Metode ini sudah terbukti ampuh, manjur, dan cespleng. Banyak mentor kepenulisan telah merekomendasikan metode ATM ini. Hampir di setiap pelatihan kepenulisan metode ATM ini selalu diobral kepada peserta.

Mari kita terapkan metode ATM ini. Ada tiga tahapan ATM, yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi. Tahap awal adalah “Amati”. Pada tahap ini kita ajak siswa melakukan pengamatan terhadap contoh tulisan. Kita minta mereka untuk membacanya.

Setelah itu kita tuntun mereka mengamati judul, paragraf pertama, isi, dan bagian akhir tulisan. Penting juga mengamati cara menghubungkan satu paragraf dengan paragraf berikutnya. Selain itu, amati juga diksi yang digunakan dalam tulisan tersebut.

Tahap berikutnya adalah “Tiru”. Setelah siswa mengamati contoh tulisan, tahap berikutnya adalah meniru. Yakni kita minta siswa untuk menulis contoh tulisan tersebut. Apa adanya. Tulis plek, persis, seperti contoh tulisan tersebut. Baiknya siswa meniru menulis beberapa kali, tidak cukup sekali. Bisa tiga kali, lima kali atau lebih. Tujuannya adalah supaya siswa merasakan sensasi menulis. Menulis judul, kata, kalimat, dan paragraf demi paragraf.

Sedangkan tahap terakhir ATM adalah “Modifikasi”. Pada tahap kita mengarahkan siswa untuk membuat tulisan seperti contoh tulisan yang mereka amati dan tiru. Akan tetapi obyek bahasannya berbeda. Misalnya, siswa pada tahap mengamati dan meniru ia membaca dan meniru tulisan berjudul “Kelasku,” maka kita meminta mereka menulis tentang “Kamarku.”.
Tulisan “Kelasku” jelas mendeskripsikan kondisi kelas tempat mereka belajar. Sedankan topik “Kamarku” tentu menggambarkan tentang kondisi tempat mereka bernaung beristirahat sehari-hari.

Adapun langkah ketiga untuk mengembangkan skill siswa adalah memberikan apresiasi. Apresiasi ini bisa berupa pemuatan karya mereka di mading sekolah atau majalah sekolah. Pemuatan karya ini tentu setelah melalui proses pengeditan. Bagaimanapun juga siswa adalah penulis pemula. Karena itu karya atau tulisan mereka tentu banyak kekurangan. Tidak ideal.
Bagi karya siswa yang masih jauh dari ideal bisa dimuat di mading kelas, tentu sebuah penghargaan. Hal ini sebagai bentuk apresiasi bahwa mereka sudah berani mencoba dan menulis. Sedangkan karya siswa yang mendekati ideal bisa dimuat di majalah sekolah. Jika sekolah punya website akan lebih baik karya tersebut dimuat di website. Sehingga bisa dinikmati para siswa, guru, dan warganet.

Intinya, menulis adalah keterampilan (skill). Karena itu ia harus dipelajari. Semakin ia dipelajari maka samakin ia bisa kita kuasai. Siswa usia SMP/MTs pun akan bisa menulis dengan baik jika mereka kita ajak belajar menulis. Selamat mencoba. Salam literasi.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *