Oleh Irfan Aziz, S.S., M.Pd.I, Tutor Bahasa Arab Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Without grammar very little can be conveyed, without vocabulary nothing can be conveyed

Wilkins

Berapa banyak kosakata bahasa arab yang telah Anda kuasai? Berapa lama Anda telah mempelajarinya?

Jawaban dari dua pertanyaan di atas pada umumnya sama; meski telah belajar bahasa Arab cukup lama, tapi mufradaat (kosakata) yang berhasil dikuasai hanya sedikit saja. Yang dimaksud menguasai mufradaat di sini bukan sekadar menghafal dan mengetahui apa terjemahnya, melainkan kemampuan menggunakan kata yang telah dihafal dan diketahui artinya tersebut dengan tepat sesuai konteksnya.

Faktanya, banyak sekali mufradaat yang telah kita hafal dan ketahui artinya, tetapi kita gagal mengoperasikannya dalam keterampilan berbahasa. Anda pasti bertanya, kalau begitu bagaimana solusinya? Nah, berikut ini adalah penjelasan singkat tentang strategi memori atau strategi ingatan dalam belajar mufradaat yang penulis serap dari tulisan Prof Imam Asrori. Dalam buku beliau yang bertajuk “Strategi Belajar Bahasa Arab” setidaknya ada 3 langkah yang bisa dioptimalkan oleh siswa dalam meningkatkan kekayaan mufradaat-nya, yakni (1) Menciptakan hubungan mental, (2) mengaplikasikan kesan visual dan bunyi, dan (3) Aksi tindak.

Pertama, menciptakan hubungan mental (MHM). MHM adalah bagian dari strategi memori atau strategi ingatan yang dioperasikan untuk memberdayakan memori dalam rangka mengingat, menyimpan, dan memanggil kembali informasi atau materi bahasa. Strategi memori atau ingatan digunakan untuk memperkuat daya tahan informasi yang berada di dalam memori dengan membuat kaitan antara materi yang baru diperoleh dengan materi yang telah dimiliki. Ada tiga cara yang dapat digunakan siswa di dalam menciptakan hubungan mental, yaitu; (a) membuat hubungan antar kata, (b) menghubungkan kata dengan tempat, dan (3) memasukan kata ke dalam konteks.

Misalnya, seorang siswa mendapatkan kata “waladun (وَلَدٌ)” yang berarti anak lelaki. Dengan strategi MHM, ia bisa (1) mengaitkan kata tersebut dengan kata-kata lain yang memiliki relasi makna dengannya. Dari sisi relasi sinonimitas, ia akan mengaitkan waladun dengan ibnun yang artinya sama dengan waladun. Lalu dari relasi antonimitas, ia akan mengaitkan waladun dengan bintun yang berarti anak perempuan. Dari relasi tingkatan ia dapat mengaikan kata waladun dengan abun (ayah), jaddun (kakek), dan hafiidun (cucu).

Berikutnya, ia bisa (2) mengaitkan kata “waladun” tersebut dengan tempat di mana ia mendapatkannya. Mungkin dari televisi, buku, majalah, tayangan iklan, novel patau dari tempat lainnnya. Adapun teknisnya, siswa bisa mencatat setiap mufradaat yang hendak ia hafalkan pada sebuah kartu. Lalu, kartu-kartu tersebut ditempel pada tempat-tempat yang berbeda, di kamar, di pintu almari, dan sebagainya.

Langkah ketiga, mengembangkan kata “waladun” ke dalam sebuah konteks kalimat maupun paragraf. Buatlah sebuah kalimat lengkap atau satu paragraf utuh. Catatlah lalu ucapkan atau sebaliknya ucapkanlah lalu catat. Dalam hal ini siswa harus menyiapkan buku catatan khusus mufradaat.

Kedua, mengaplikasikan kesan visual dan bunyi. Strategi ini juga masih terkait dengan strategi mental atau ingatan untuk mengingat dengan berpangkal pada pemanfaatan kesan auditoris maupun visual.

Kata ra’dun (رعد) misalnya bisa kita kesankan dengan simbol kilat yang digunakan PLN. Kata matharun (مطر) bisa kita kaitkan dengan simbol hujan yang kita lihat di acara prakiraan cuaca di televisi.

Bunyi Kata shummun (صم) dan bukmun (بكم) misalnya dapat diasosiasikan oleh seorang siswa dengan sumpet dan bungkam. Bunyi kata qalamun (قلم) dibayangkan dengan suatu kejadian atau sebuah gambar balpoin yang terjatuh ke dalam kolam. Bunyi kata syum (شم) terdengar mirip dengan kata sun dalam bahasa Indonesia yang hampir serupa artinya. Begitu juga bunyi kata thaala (طال) terdengar mirip dengan istilah dalam bahasa Indonesia yakni jalan tol yang umumnya panjang. Bisa jadi tiap siswa punya cara sendiri yang unik dan kreatif dalam memaksimalkan kesan visual dan bunyi tiap mufradaat baru yang ia dapatkan.

Ketiga, aksi tindak. Dalam hal ini siswa mempraktikkan aksi tindak dengan respon fisik. Siswa menyimpan makna suatu kata, terutama kata kerja kongkrit, dengan cara mendemonstrasikan. Misalnya siswa mendapatkan mufradaat baru “yaktubu”, lalu ia mendemontrasikannya dengan memegang pena dan menggerakan tangannya seperti orang menulis. Ketika mendapat kata yasyrabu (يشرب), ia memperagakan dan menggerakan jarinya seolah sedang menggenggam gelas lalu mengarahkannya ke mulut seolah sedang meminum air.

Kegiatan ini bisa juga dilaksanakan secara bersama-sama agar lebih menarik. Misalnya dengan melakukan game “kata perintah dan peragakan”. Secara bergantian satu orang siswa berperan jadi pemberi perintah dan siswa lainnya memperagakannya secara fisik.

Selain dengan respon fisik, aksi tindak bisa juga berupa aksi tindak teknis mekanis. Misalnya dengan menggunakan kartu saku. Caranya, pada satu sisi kartu ditulis satu kata beserta artinya, dan di sisi kartu sebaliknya diisi penggunaan mufradaat tersebut atau ditempeli gambar yang sesuai dengan mufradaat baru tersebut.

Dengan kartu tersebut mahasiswa dapat mereviu ulang mufradaat yang baru diperoleh secara santai (tidak terasa formal), lebih luwes dari sisi waktu maupun tempat. Ia bisa memainkan kartu-kartu tersebut, di kamar, di taman, bahkan di atas kendaraan sekalipun.

Agar sering dibaca ulang, mufradaat yang baru diperoleh sebaiknya ditulis dengan jelas dan agak besar supaya menarik perhatian, lalu tempelkan di tempat-tempat yang sering terlihat oleh pandangan siswa.

Saat ini semua orang tak terpisahkan dari HP. Dengan HP tersebut ia bisa mendapatkan informasi apa saja yang ia butuhkan. Demikian pula jika ia mengalami kendala mufradaat, HP akan menjadi solusi cepat dan praktis baginya. Namun demikian, tetaplah perlu bagi siswa untuk membuat catatan khusus mufradaat secara terpisah; di buku catatan, atau di laptop. Sebab kegiatan mencatat itu akan memperkuat ingatan informasi. Dengan mencatat kata dan maknanya, berarti melibatkan saluran gerak kinestetik, disamping juga saluran visual.

Dalam membuat catatan khusus mufradaat ini sebaiknya siswa membagi halaman ke dalam sejumlah kolom untuk mufradaat baru, arti, contoh penggunaanya. Lebih bagus lagi jika disediakan juga kolom untuk topik, tanggal pencatatan mufradaat dan dari mana sumbernya. Hal ini karena catatan tanggal, topik, dan lainnya itu membentuk ruang penyimpanan di dalam memori sebagaimana membentuk batas pencatatan di buku.

Perlu penulis sebutkan di sini bahwa paradigma belajar bahasa modern telah lama berubah dibanding belajar bahasa setengah abad silam atau jauh sebelumya. Kegiatan pembelajaran bahasa yang awalnya berfokus pada guru dan aktifitas mengajarnya, sedikit demi sedikit bergeser dan fokus ke arah siswa dan kegiatan belajarnya. Ini bukan berarti tugas guru menjadi semakin ringan. Sebaliknya, guru bukan hanya fokus pada aktifitas penyampaian pelajaran di kelas, tetapi ia juga harus memikirkan bagaimana caranya agar siswa benar-benar belajar di dalam dan di luar kelas.

Perubahan paradigma ini didasarkan pada asumsi bahwa keberhasilan belajar, termasuk belajar bahasa justru lebih bergantung pada bagaimana strategi dan aktifitas belajar siswa dibanding pada guru dan aktifitas pengajarannya.

Jadi tulisan ini terutama ditujukan untuk santri, siswa, mahasiswa atau siapa pun yang sedang mempelajari bahasa Arab. Para pembelajar bahasa Arab tidak cukup hanya berbekal semangat dan kecintaan terhadap bahasa Arab saja. Mereka perlu memiliki strategi belajar bahasa Arab yang tepat. Strategi dan aktifitas belajar bahasa di sini bukan terbatas pada sikap dan tindakan siswa dalam menyerap dan menguasai materi yang disampaikan guru di kelas. Lebih dari itu, strategi dan aktifitas belajar di sini mencakup juga upaya siswa dalam meningkatkan kemampuan bahasanya dengan materi dan cara-cara yang ia tentukan sendiri. Demikian, Semoga bermanfaat. Salam.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

8 thoughts on “Strategi Menguasai Kosakata Bahasa Arab”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *