Oleh: Suratno Muchoeri *)

Rumah Baca – Kemarin, Rabu (31/03/2021), hanya 3 hari setelah kasus bom-Katedral Makassar, kita dikejutkan oleh peristiwa dimana Mabes Polri di Jakarta diserang teroris.

Pelakunya Zakiah Aini, perempuan usia 25 tahun. Dia masuk lewat pintu belakang Mabes yang memang untuk umum. Kemudian dengan senjata pistol yang dibawanya mencoba menembaki beberapa orang di Mabes. Dia akhirnya jatuh tersungkur ditembak polisi setelah terjadi baku tembak. Zakiah sendiri merupakan mahasiswi akuntansi sebuah perguruan tinggi swasta yang DO pada semester 5. Dia bungsu dari 3 bersaudara dan berasal dari Ciracas Jakarta Timur. Berbeda dengan orang tua dan 2 kakaknya yang rajin bersosialisasi, Zakiah dianggap anak yang tertutup, kurang bergaul dengan tetangganya. Alasannya karena kuliah dan kesibukan luar rumah lainnya.

Zakiah diduga sebagai lone-wolf (melakukan sendiri teror itu) dan kemungkinan teradikalisasi secara online. Katanya dia datang ke Mabes bersama seorang lelaki yang lalu kabur. Jadi detailnya masih diselidiki. Dia terindikasi pro-ISIS terbukti dari postingan di akun Instagramnya dan juga surat wasiat yang ditinggalkan. Selain minta maaf pada keluarganya, dia juga bilang Indonesia adalah negara kafir thaghut, Pancasila, pemilu, dll. sebagai bentuk syirik-musyrik dan lainnya. Ada info juga, Zakiah sempat kursus menembak sebelum serangan teror itu, terbukti dengan kartu anggota klub tembak BSC (Basic Shooting Club) yang dimilikinya. Meski menurut Perbakin klub BSC tidak terdaftar di organisasi menembak resmi milik pemerintah.

Menurut saya ada 4 catatan penting dari kasus Zakiah Aini ini yakni: (1) keterlibatan teroris perempuan yang makin dalam (sebagai eksekutor) dan makin berani (ini sudah saya bahas ditulisan lain), (2) tren baru teroris versus polisi dan juga masyarakat sipil sebagai konsekwensi open-war (perang terbuka yang gaungkan kelompok teroris, (3) pergeseran ideologi ekstrimis yang makin rigid (kaku) dan makin berbahaya: dari takfir ta’yin/muayyan (individu) ke takfir ‘aam (umum), dari qital nikaya (membunuh untuk menghancurkan musuh) ke qital tamkin (membunuh musuh untuk menguasai teritori), dan dari al-adduw al-bangid (far enemy/musuh jauh) ke al-adduw al-qarib (near enemy/musuh dekat), dan (3) kerentanan milenial dimana milenial menjadi target perekrutan teroris, kita tahu baik Zakiah maupun Lukman dab istrinya (pelaku bom Makassar) masih muda baru 25 tahun, bahkan sebelumnya banyak yang terpapar usianya jauh lebih muda dari itu. Ini karena ada kelemahan-kelemahan milenial sesuai usia dan psikologis mereka yang bisa diekploitasi serta strategi perekrutan kelompok teroris yang menyesuaikan dunia milenial. Yang sangat massif tapi juga efektif yakni strategi propaganda online yang banyak memunculkan lone-wolf dan online-radicalization dikalangan kaum muda milenial seperti Lukman dan istrinya, Zakiah dan banyak lagi yang lainnya.

Saya akan coba mengurai hal-hal di atas terutama no 2, 3 dan 4.

Tentang teroris versus polisi dan bahkan masyarakat sipil, memang terutama sejak 2010 ada pergeseran target dan strategi serangan teroris; dari yang sebelumnya menyerang simbol2 barat, menjadi open-war (perang terbuka) dengan target polisi dan bahkan masyarakat sipil. Sebelumnya kita ingat ada penusukan terhadap anggota polisi setelah salat Isya di masjid Faletehan Kebayoran Baru dan banyak lagi serangan terutama oleh kelompok pro-ISIS yang dilancarkan pada polisi dan masyarakat sipil lainnya. Ini agak beda misalnya dengan periode sebelumnya zaman al-Qaeda dimana mereka menyerang orang dan atau simbol-simbol Barat seperti bom Bali, bom Kuningan (Kedubes Australia), bom hotel JW Marriot, bom Ritz-Carlton dan lainnya. Pergeseran sasaran dan strategi ini adalah konsekuensi dari pergeseran ideologi takfiri yang dimiliki kelompok teroris.

ISIS & Ideologi Takfiri

ISIS dan kelompok-kelompok yang pro dengannya itu seperti kelompok teroris lainnya, berideologi takfiri atau mengkafirkan orang lain. Siapa yang mereka kafirkan? Ini dia penjelasannya.

Sama-sama takfiri seperti al-Qaeda, tapi ISIS lebih rigid (kaku). Ideologi al-Qaeda sebelumnya lebih ke takfir ta’yin/mu’ayyan (individu). Jadi, misalnya, meski Indonesia menurut al-Qaeda dianggap negeri “kafir” karena tidak berdasarkan ideologi Islam versi mereka tapi berdasar ideologi pancasila”, WNI menurut al-Qaeda tidak otomatis bisa dianggap kafir. Tetap harus dilihat individu perindividunya: apakah mereka mendukung, atau tidak mendukung tapi juga tidak menghalang-halangi, tidak membenci atau tidak menolak, atau individu yang menghalang-halangi, membenci atau menolak ISIS. Sementara, kalau ISIS dan kelompok-kelompok pro-ISIS ideologinya lebih ke takfir ‘aam (umum). Jadi, di luar kekhalifahan ISIS (siapapun yang tidak berbai’at dan atau tidak memberi dukungan pada khalifah Abu Bakar al-Baghdadi), semua akan dianggap kafir, tanpa pengecualian.

Lalu ideologi tentang musuh, al-Qaeda sebelum 1998 menganut ideologi musuh-jauh (al-adduw al-bangid/far-enemy). Jadi, yang bisa diserang ya yang dianggap musuh, yakni Amerika atau negara-negara Barat, meski jauh. Tapi, setelah ada decree (surat edaran) dari Osama Bin Laden tahun 1998, al-Qaeda menganut musuh-dekat (al-adduw al-qorib/near-enemy). Decree itu membolehkan pengikut al-Qaeda di manapun berada untuk menyerang aset-aset dan simbol-simbol musuh mereka (seperti kafir Amerika dan negara-negara Barat) yang ada didekat mereka.

Makanya, dengan ideologi musuh-dekat (al-adduw al-qorib/near enemy), untuk menyerang yang mereka anggap musuh, pengikut al-Qaeda tidak harus jauh-jauh pergi ke Amerika atau ke negara-negara Barat, tapi bisa menyerang orang, simbol, dan aset Amerika dan negara-negara Barat yang ada di mana saja. Lalu, kita lihat di Indobesia ada bom-Bali 1, Bom-Bali 2, Bom-Marriot, Bom-Kedutaan Australi, Bom-Ritz Carlton dan lainnya sebagai implementasi al-adduw al-qarib (musuh-dekat/near-enemy).

Nah, ISIS juga menganut musuh-dekat (al-adduw al-qarib/near enemy) jadi bisa menyerang siapapun atau apapun yang mereka anggap musuh di mana saja. Meski sama-sama berideologi al-adduw al-qarib (musuh-dekat), tapi ada bedanya. ISIS menuduh al-Qaeda cuma orientasi qital-nikaya (memukul dan menghancurkan musuh) saja. Menurut ISIS itu belum cukup. Karena menurut ISIS qital-nikaya (memukul dan memghancurkan musuh) harus kombinasi juga dengan qital-tamkin (menguasai daerah/teritori). Tujuannya agar jika sudah menguasai daerah/teritori tertentu mereka bisa implementasi syariat Islam (versi ISIS) secara utuh.

Makanya, ISIS menyerang dan menghancurkan musuh dengan orientasi memguasai daerah atau teritori. Kita lihat ISIS sempat memguasai beberapa daerah atau teritori kota-kota di Iraq dan Suriah. Di kota-kota itu mereka bisa mengimplementasikan syariat Islam (versi ISIS) secara utuh.

Selain itu, berbeda dengan al-Qaeda yang sebelumnya menggunakan strategi tanzhim sirri atau gerakan rahasia yakni under-ground alias bawah tanah, sementara ISIS dengan penguasaan atas daerah dan teritori tertentu mereka menggunakan strategi sebagai tanzhim yang lebih terbuka alias tidak underground.

Demikian sekilas ideologi ISIS yang penuh aroma takfiri, al-aduww dan qital, sehingga memunculkan suporter-suporter ISIS yang dipenuhi rasa benci dan permusuhan serta menjadi raja-tega pembunuhan orang-orang di luar ISIS yang mereka anggap kafir.

Itu ideologi. Dalam prakteknya kita lihat ISIS sebelumnya menguasai beberapa teritori di Iraq dan Suriah (meski lalu makin terdesak dan akhirnya collapse). Menyadari ISIS makin terjepit, tak heran jubir ISIS sebelum tewas pada Agustus 2016, Abu Muhammad al-Adnani sempat menyerukan anggota dan simpatisan ISIS di mana saja untuk menyerang thaghut (secara umum diartikan pemerintah ‘kafir’ yang tidak menerapkan hukum Allah, maksudnya hukum versi ISIS)

Di Indonesia, seruan ini diterjemahkan anggota dan simpatisan ISIS dengan menyerang polisi (dan juga masyarakat sipil lainnya seperti bom gereja dll). Ini karena polisi mereka dianggap ‘laskar-laskar thaghut‘ yang menghalangi ISIS menguasai teritori di mana mereka berada. Selain karena alasan ideologis seperti di atas juga ada motif balas dendam. Polisi Indonesia melalui Densus 88 sejak awal berdirinya sudah menewaskan dan memenjarakan banyak sekali teroris.

Propaganda Online

ISIS dan kelompok-kelompok yang pro dengannya memang cukup sukses menjadikan kaum muda-milenial sasaran perekrutan dan propaganda ideologi mereka. Banyak sekali bukti-bukti dan kasus-kasus teror dimana anak-muda milenial terpapar ideologi ekstrimisme-kekerasan ala ISIS.

Waktu masih berkuasa di Iraq dan Suriah misalnya, ISIS cukup sukses membujuk banyak kaum muda-milenial dari seluruh penjuru dunia. Lebih dari 5000 atau disebut FTF (Foreign Terrorist Fighter), yakni warga asing mereka datang ke Iraq dan Suriah untul gabung dengan ISIS. Mayoritas dari FTF itu berusia muda. Belum lagi orang-orang yang karena sesuatu hal tidak ke Iraq dan Suriah meski sudah berbaiat dan atau menjadi pendukung dan simpatisan ISIS. Model begini jumlahnya banyak sekali. Menurut saya ada 3 catatan dari kesuksesan propaganda ISIS ini yakni; internasionalisasi jaringan teroris, heroisme jihad dan propaganda online.

Sejak tragedi TWC 2001, jihad kekerasan kelompok teroris al-Qaida diberitakan media seluruh dunia. Umumnya publik global mengecam teror itu. Tapi ada juga yang mendukung baik dukungan terbuka maupun dukungan diam-diam (for security reason/karena alasan keamanan).

Sekarang era internet dimana akses informasi dan komunikasi seperti sosmed menjangkau dan menghubungkan orang diseluruh dunia, ini lebih mmudahkan propaganda jihad kekerasan oleh kelompok teroris seperrti ISIS dan yang pro dengannya. Meski akun-akun facebook, twitter, youtube, dll. dari kelompok itu dan para pendukung serta simpatisannya seringkali dibann ataupun diblock. Tapi ya tetap saja seperti mati satu tumbuh sepuluh, eh seribu.

Kelompok teroris memang punya banyak stok insinyur dan ahli IT seperti hasil riset lama zaman al-Qaeda yang berjudul “why most terrorist are engineer?” (Silakan digoogling). Ini karena kelompok teroris sadar bahwa internet ternyata sangat efektif untuk propaganda dan menyebarkan ideologi ekstrimisme kekerasan. Bahkan tidak hanya propaganda, internet juga strategis dan efektif untuk perekrutan, membangun komunikasi/jaringan, pendanaan, perencanaan serangan dan bahkan juga untuk eksekusi serangan. Nah lho.

Selain internasionalisasi jaringan dam propaganda online seperti di atas, kelompok teroris seperti ISIS dan yang pro dengannya juga pintar memainkan sentimen publik terutama lewat apa yang dikenal dengan heroisme-jihad. Ini misalnya terasa sekali dalam kalimat-kalimat yang diucapkan dalam video-video propaganda-ISIS.

Video Nasir Mutsanna, misalnya, pemuda Inggris cerdas 20 tahun yang baru lulus SMA & diterima fakultas kedokteran di 4 universitas bergengsi di UK (Inggris), tapi lebih memilih bergabung ISIS di Irak dan Suriah. Dalam videonya, Nasir si jenius itu bilang, :Kami bagaikan anak-panah & terserah khalifah ISIS (saat itu) Abu Bakar al-Bahgdadi sebagai busur yang mengarahkan kami kesasaran manapun untuk brjihad melawan musuh-musuh kami.” Nasir juga sukses membujuk adiknya, Ashil Mutsanna bergabung dengan ISIS. Jadi ada faktor peer-review juga atau pengaruh teman sebaya, karena anak muda-milenial sesuai usianya memang mudah terpengaruh apalagi dengan teman-teman sebayanya.

Memang dari kalimat Nasir menyiratkan kuatnya pengaruh sosok Abu Bakar al-Bahgdadi sang khalifah ISIS saat itu. Media pro-ISIS as-Sharq al-Awsat pada juni 2014 bahkan menyebut al-Bahgdadi sebagai “Teroris Kharismatik“ (irhabiyyun shohibussyakhsiyah kharizmatiyah). Memang al-Baghdadi belum pernah malang-melintang keluar negeri seperti Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, Abu Musab al-Zarkawi, dll., karena al-Bahgdadi tumbuh & besar di Iraq. Tapi bagaimanapun al-Baghdadi dianggap kharismatik karena selain sense of leadershipnya, dia juga doktor ilmu fiqih yang cerdas dan paham situasi dan kondisi Iraq & Suriah yang menjadi markas dan teritori ISIS. Al-Baghdadi juga ahli strategi perang terbukti ketika memimpin 1000 pasukan ISIS yang sukses mengalahkan 30 ribu tentara Iraq dengan strategi-strategi jitunya.

Orasinya yang pertama setelah deklarasi ISIS dalam khutbah salat Jumat di Mosul pada sekitar september 2014 dianggap para pengikut dan simpatisan ISIS sangat memukau dan menggetarkan. Oleh pengamat, ini bukti bahwa al-Baghdadi mampu tampil sebagai orator ulung dan menunjukan dia punya kepercayaan diri yang tinggi termasuk kemampuan menghipnotis audiens.

Heroisme jihad ISIS memang juga tidak selamanya sukses. Seperti kita ketahui dan memamg banyak diberitakan media-media, ternyata banyak juga anak-anak muda yang sudah bergabung dengann ISIS lantas kecewa karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka dan gambaran awal sebelum bergabung. Mereka ada yang menyesal, ada yang ingin pulang ke keluarga dll tapi tidak semua bisa kareba diberitakan juga bahwa tak segan-segan ISIS dulu membantai mereka yang mau exit (keluar) dari kelompok teroris tersebut.

Ada kisah yang terkenal karena di beritakan media BBC. Jadi Aldiansyah Samsuddin belum lama lulus SMA. Lalu dia kerja jadi juru masak (koki) disebuah restoran. Kebetulan hobinya main internet dan dia lalu ikut grup Telegram. Di grup itu secara tidak sengaja dia kenal Abu Hofsah. Aldiansyah kemudian lanjut dengan komunikasi pribadi dengan Abu Hofsah. Pelan tapi pasti dia dicuci otak “jihad ekstrimisme kekerasan” oleh Abu Hofsah. Aldiansyah diajari pakai senjata serta bikin bom-rakitan. Dia lalu ditawari untul pergi ke Syiria bergabung dengan ISIS. Dia diiming-imingi bakal dikawinkan dengan 4 wanita, dibelikan mobil dan rumah. Abu Hofsah bahkan juga memberinya modal berupa uang 1300-an dollar untuk ongkos Aldiansyah berangkat ke Syiria.

Akhirnya Aldiansyah berangkat ke Syria lewat Turki untuk bergabung dengan ISIS. Di sana dia berganti nama menjadi Abu Assam Al-Indonisy. Untung saat berkali-kali markas ISIS dibom pasukan sekutu, Aldiansyah berhasil selamat. Lebih dari itu, ternyata iming-iming ISIS bohong belaka. Aldiansyah selanjutnya merasa menyesal ikut ISIS. Dia ingin pulang ke Indonesia dan nantinya “hidup normal” jauh dari ideologi dan kelompok ekstrimisme-kekerasan.

Kerentanan Milenial

Menurut Roy and Judy Eidelson (2003) ada 5 jalan mengapa orang lalu bisa menjadi ekstrimis:

Pertama, superiority. Jadi ada perasaan superioritas yang mngarah pada eksklusivitas (beragama) sehingga dengan mudah mengkafirkan yang lain (takfiri) atau juga perasaan etnosentris (rasisme).

Kedua, kerentanan (vulnerability). Misalnya orang-orang yang soliter, tertutup (introvert), orang-orang yang galau, orang-orang yang kurang kritis dan gampang percaya hoax/illiterate, orang-orang yang fanatik (taklid buta), dll. biasanya secara psikologis dan sosiologis jadi sasaran empuk propaganda dan rekruitmen kelompok ekstrimis.

Ketiga, ketidakadilan (injustice). Orang-orang yang marah dan kecewa tingkat dewa karena merasa diperlakukan tidak adil juga rentan direkruit kelompok ekstrimis. Demikian jug aorg2 yang marah dan kecewa berat karena merasa melihat ketidakadilan (meski dia bukan korban) juga rentan jadi incaran kelompok ekstrimis dimana mereka menggunakan strategi heroisme jihad untuk membakar sentimen keagamaan mereka yang sedang dilanda rasa marah dan kecewa.

Keempat, distrust (ketidakpercaayaan). Orang-orang yang beroposisi secara berlebihan dan membabi buta pada rejim, pada masyarakat atau negara tertentu juga kadang bisa dimanfaatkan kelompok-kelompok ekstrimis.

Kelima, ketidakberdayaan (helplesness). Orang-orang yang miskin sekali sampai merasa putus asa (hopeless) akan jadi incaran kelompok ekstrimis. Iming-imingnya bisa materi/kebahagiaan dunia, tapi bisa juga sebaliknya yakni meski nggak bisa bahagia di dunia tapi bisa bahagia di akherat (masuk surga, dapet 72 bidadari, dll.) dengan cara jadi pengantin atau martir kelompok ekstrimis.

Nah, itu jalan umum kerentanan menjadi ekstrimis. Karena kita sedang membahas kaum muda milenial, maka saya ingin menjelaskan mengapa kaum muda milenial menjadi rentan direkrut dan atau terpapar ideologi ekstrimisme-kekerasan.

Secara psikologis, kaum muda milenial ada yang masih fase peralihan. Disebut anak-anak sudah tidak lagi, disebut dewasa juga belum. Istilahnya adolesensi. Fase ini ditandai oleh adrenalin yang gampang naik (inget lagu darah-muda bang Haji Rhoma Irama, hehe). Pola berpikirnya kadang pendek dan sempit, kadang karena jaim juga mereka jadi mudah diprovokasi. Belum lagi kadang maunya menang/benar sendiri walau salah tak perduli.

Secara fisik kaum muda milenial masih kuat jadi umumnya suka avonturir (petualangan) dan kelompok ekstrimis tahu kalau mereka terekrut bisa jadi laskar mereka. Karena itu, jarang kelompok ekstrimis tidak mengincar aki-aki dan nini-nini. Umumnya kaum muda milenial masih single. Jadi masih free dan belum ada tanggungan keluarga/yakni anak dan istri/suami (coro Jowone: ora ana sing ngabot-ngaboti). Karena masih singel dan apalagi yang kuper nglirik cewek aja tidak berani, maka kalau diiming-imingi bidaradari surga 72 dan syanthieq-syanthieq kadang bikin “ngiler” alias nggak kuku.

Secara keagamaan, kaum muda milenial mulai mencari dan menyadari makna hidup. Oh, ternyata semua orang akan mati. Oh, hidup ini cuma sebentar. Terus, mesti bagaimana ini dan mau apa dalam hidup? Apa bekal yang sudah disiapkan untuk akharat yang kekal abadi, dll. Klo nggak pernah ngaji, lalu ditakut-takuti akhirat dan siksa neraka (sebagai modus agar mau dijadikan martir kelompok ekstrimis kekerasan, itu kan berabeee hehe)

Secara sosiologis, kaum muda milenial itu naturally butuh teman, butuh perhatian dan kadang-kadang suka yang berbau heroik. Kalau anaknya kuper, kebetulan orang2-orang terdekat agak abai, bisa bikin mereka kesepian (loneliness). Dalam kondisi seperti itu, kalau mereka ketemu perekruit ekstrimis bisa jadi sasaran empuk tuh. Tinggal diberi perhatian dan dibesarkan hatinya, maka melelehlah jiwa muda milenial mereka. Ini lalu jadi starting-point (titik awal) untuk “memanfaatkan” mereka sebagai laskar dan atau martir kelompok ekstrimis.

Anak-anak muda milenial juga kalau kita bicara internet, they are the dominant user. Jumlahnya banyak sekali dan intensitas main internetnya juga tinggi. Masalahnya, literasi digital mereka kadang-kadang belum bagus dan internet banyak menarik mereka ke dalam ruang yang sangat privat (susah dikontrol dan diawasi). Di sinilah internet menjadi media strategis dan efektif kelompok ekstrim untuk propaganda ideologi mereka dan juga merekrut kaum muda milenial.

Akhirul kalam, ayo kita care dengan adik-adik, tetangga dan kaum muda milenial di sekitar kita. Sedikit perhatian kita akan bisa mengurangi potensi mereka dalam terpapar propaganda dan terekrut kelompok ekstrimisme-kekerasan, insyaallah.

Semoga bermanfaat dan berkah. Danke.

*) Dr. Phil. Suratno, dosen Universitas Paramadina Jakarta.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *