Penulis: Eni Ratnawati*)

Anak Anda kecanduan game-online? Setiap hari gak mau lepas dari smartphone-nya? Apalagi di masa pendemi begini, hampir semua sekolah digelar secara daring. Mau gak mau, anak-anak harus sering berinteraksi dengan gadgetnya.

Betapa sering kita mendengar keluhan orang tua tentang anak-anaknya yang kecanduan game online. Entah langsung dari tetangga kanan-kiri rumah atau melalui pemberitaan di sosial media. Apakah ibu juga mengalami keresahan yang sama? Adakah ibu tahu game apa yang saban hari dimainkan oleh anak ibu? Yang karena asyiknya main, ibu harus mengingatkan anak untuk makannya, salatnya, istirahatnya, mandinya, belajarnya, dan histeris saat lima-tujuh kali peringatan tidak juga mendapat perhatian. Tahan dulu ibu, tarik napas pelan, lepaskan! Dan yaah, harus diakui nasib kita kurang lebih sama memang. Sama-sama menggemaskan. Huffft.

Jika ibu bertanya, adakah ramuan mujarab yang bisa menghilangkan candu game online? Saya pun ingin mengetahuinya. Tapi sekira resep itu masih dalam proses tulis oleh ahlinya, ada baiknya kita duduk bersama, menikmati langit sore nan mendung ditemani secangkir teh lemon hangat dan sepiring otak-otak plus saos sambelnya. Sejenak, mari merilekskan hati dan pikiran.

Sudahkah ibu siap? Siapkan sabuk pengaman! Sekarang saatnya merancang ‘surat pernyataan kesepakatan‘ yang akan kita diskusikan dengan anak-anak.

Jika game online diibaratkan toksin, maka menghilangkan toksin secara langsung dan komprehensif dari keseharian anak akan menjadi misi yang sangat berat. Alih-alih menghilangkan candu game, kita bisa mengarahkan anak pada kegiatan lain (alternatif) yang ramah sosial. Membuat surat pernyataan kesepakatan (SPK) ini, bisa menjadi awal yang baik sebagai upaya memuluskan niat ibu untuk mengembalikan anak pada interaksi sosialnya.

Kita tidak benar-benar bisa menghentikan anak bermain game Bu, seperti halnya kita tidak bisa menjauhkan anak dari gadget. Harus diakui, selain dampak negatif, gadget juga memberikan banyak manfaat jika digunakan dengan baik dan bijak. Dalam beberapa kesempatan, gadget dibutuhkan anak demi menunjang pemahaman akan pelajaran sekolahnya. Akses internet memudahkan anak untuk mendapatkan informasi lebih lengkap dari sekadar mengandalkan buku tema dari sekolah. Berangkat dari pemahaman itu lah maka aktivitas anak dan gadgetnya seharusnya bukan masalah selama masih dalam pengawasan orang tua.

Namun begitu, dampak buruk kecanduan gadget ini pun harus diwaspadai. Menurut para ahli, kecanduan gadget memiliki dampak buruk terhadap perkembangan kognitif anak. Lebih mengerikan lagi, kecanduan gadget dapat merusak perkembangan otak anak secara permanen. Menjadikan anak sulit berkonsentrasi, malas berpikir, lebih agresif, enggan menjalin interaksi dan gagal membangun komunikasi yang baik. Hal ini jika dibiarkan berlangsung lama, jelas akan berpengaruh pada watak dan perilaku anak.

Anak yang sulit berkonsentrasi akan mengalami banyak kendala dalam proses belajar. Ditambah dengan rendahnya kemampuan berpikir, menjadikan anak tidak cakap dalam mengelola masalah sehingga anak tidak siap menghadapi kesulitan. Fakta ini dapat ibu temui dari perilaku anak yang cenderung agresif, kasar, mudah terbawa emosi, dan tidak siap dengan kegagalan juga kekalahan.

Apa lagi yang harus ditunggu ibu? Tidak ada jaminan dampak buruk gadget tidak mendarah di tubuh anak-anak kita dan mengancam masa depannya. Bukan waktu yang tepat jika ibu hanya duduk manis dan berpangku tangan melihat perkembangan anak yang semakin jauh dari natural sosialnya. Ibu harus berani mengambil tanggung jawab. Rangkul anak dengan kepedulian. Jika bukan orang tua yang mengambil alih tanggung jawab ini, siapa lagi?

Surat Pernyataan Kesepakatan sebaiknya ditulis dengan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan anak. SPK berisi kesepakatan antara ibu-anak terkait beberapa hal seperti:

  1. Lama Waktu Bermain
    Kapan anak boleh bermain? berapa kali dalam sehari? berapa lama? Membatasi jam bermain adalah hal penting yang harus diketahui dan diterima anak suka tidak suka. Karena Bu, jika tidak dibatasi, anak cenderung akan bertingkah semaunya sendiri dan bermain setiap waktu sehingga lupa pada tugas serta kewajibannya. Lantas, berapa lama sih waktu ideal anak bermain game? Menurut pakar dan ahli, tidak lebih dari 1-2 jam per hari. Itu pun masih harus disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak usia di atas 8 tahun, ibu bisa menawarkan dua kali main dalam sehari dengan durasi masing-masing satu jam, atau memberikannya waktu khusus di hari-hari tertentu sesuai kesepakatan. Untuk melancarkan misi yang satu ini, sebaiknya tunda anak mendapatkan hapenya sendiri. Hape untuk anak bermain adalah hape ibu atau ayah, yang karenanya ibu punya kuasa penuh untuk mengaturnya.
  2. Syarat Bermain
    Sebagai tawaran, khususnya untuk anak usia SD, ibu sangat boleh memberikan ketentuan dan syarat yang harus anak penuhi sebelum bermain game. Ketentuan itu seperti: boleh main hanya setelah tugas daring kelar, sudah mandi dan sarapan, kamar rapi dan bersih, dan lain sebagainya. Ketentuan semacam ini akan sangat membantu ibu dalam merealisasikan tugas anak tanpa khawatir terbengkalai oleh karena anak bermain game. Mungkin anak ibu akan protes, tidak sepakat, sepakat tapi tidak melaksanakan, marah atau bahkan menolak. Ibu harus siap amunisi. Dan siap pula dengan kemungkinan bahwa anak akan mangkir dari ketentuan yang sudah disepakati. Praktiknya memang akan ada banyak drama dan telenovela, namun begitu ibu harus tetap konsisten dan teguh hati.
  3. Reward
    Setelah kesepakatan berjalan beberapa hari atau minggu, ibu bisa perhatikan dan menilai bagaimana perkembangan anak saat ini. Dan bandingkan dengan sebelum anak mengikuti pola kesepakatan sebagaimana yang tertulis di Surat Pernyataan Kesepakatan. Jika anak masih kedodoran dalam menjalankan kesepakatan, besarkan hatinya dan terus beri kesempatan. Bisa jadi anak membutuhkan proses lebih lama untuk adaptasi. Di posisi ini ibu harus belajar lebih bersabar sambil terus mengevaluasi. Namun jika anak sudah berani belajar bertanggungjawab dan berdisiplin, jangan lupa ibu memberinya apresiasi. Reward itu perlu, sebagai bentuk support dan penghargaan atas usaha dan kerja samanya yang sangat berarti.

Selanjutnya, setelah butir-butir dalam SPK disahkan, ada baiknya ibu menyiapkan strategi bayangan sebagai langkah preventif. Mari Bu, kita diskusikan ini sambil menyeduh kopi.

Daaaan, berikut ini tips praktis untuk mengatasinya, Bund:

  1. Kunci Hape
    Selama ini, apakah anak dengan leluasa bisa membuka hape ibu? Jika jawabnya iya, sebaiknya ibu memikirkan ulang keleluasaan ini. Meski anak telah menyepakati SPK, seringnya anak akan merengek dan merayu ibu untuk memberinya jatah waktu tambahan untuk bermai game. Dan lebih jauh lagi, jika anak bisa mengakses hape ibu dengan mudah maka lambat laun bisa dipastikan SPK yang sudah berjalan akan terhambat dan akhirnya tersendat-sendat. Akan lebih baik jika kita menutup semua celah yang memungkinkan anak untuk kembali berinteraksi dengan gadget di luar jam ketentuan. Dan salah satu cara mewujudkan hal itu adalah dengan merahasiakan kunci smartphone.
  2. Membuat Jadwal
    Agar anak bisa melaksanakan rutinitasnya dengan baik, ibu bisa mendampingi anak membuat jadwal kegiatan harian. Jadwal kegiatan ini selain memudahkan anak dalam menentukan prioritas kegiatannya, juga mengajarkan anak akan pentingnya rasa tanggung jawab, disiplin, menghargai waktu, dan komitmen. Bukan masalah besar apabila anak belum mampu memenuhi jadwal hariannya dengan sempurna. Tujuan dibuatnya jadwal bukan semata-mata terealisasinya semua daftar kegiatan, tetapi lebih kepada bagaimana anak belajar memahami konsep disiplin dan tanggung jawab. Dan itu butuh proses yang tidak sebentar.
  3. Membersamai Anak
    Membersamai di sini bukan sekadar ada atau berada di dekat anak saja, tetapi hadir secara utuh baik fisik maupun psikis. Jiwa dan raga. Tubuh, hati dan pikiran. Jika ibu tidak bisa selalu mendampingi anak, ibu bisa atur jadwal dimana ibu tetap hadir dan membersamai mereka di waktu-waktu tertentu. Luangkan waktu berbagi cerita dengan anak, berdiskusi, berkegiatan bersama, dan sesekali bermain. Kedekatan emosional masih menjadi modal ampuh dalam melancarkan komunikasi.
  4. Punishment
    Apakah hukuman perlu diberikan? Tidak harus. Tetapi akan lebih baik jika ibu menyiapkan strategi demi meminimalisir penyelewengan atas SPK. Hukuman bisa ibu sesuaikan dengan kondisi dan perkembangan anak. Nyatanya, pemberian jatah main 2-3 jam sehari masih dirasa sangat kurang oleh anak. Tidak jarang anak main melewati batas jam yang telah disepakati. Salah satu cara menyiasati hal ini adalah dengan menerapkan sistem dobel-gugur. Apa maksudnya? Jika anak bermain melewati batas jamnya, itu berarti anak harus siap dengan konsekuensi gugurnya jatah main untuk sesi berikutnya.
  5. Konsisten
    Setelah semua langkah terpenuhi, satu hal yang harus ibu pertahankan adalah konsistensi. Tanpa konsistensi akan lebih sulit mendisiplinkan anak. Dan bukankah dengan konsistensi pula tetes-tetes hujan membuat lubang di batu? Believe! It just about your consistency.

“The one thing that kids need is consistency.” Julianne Moore.

Jadi Bu, apa kabar hari ini? Apa pun kendalanya, optimis ibu mampu mengatasinya dengan baik. Terus belajar dan memupuk sabar. Jika hari ini misi ibu belum tercapai, maksud ibu masih jauh dari tujuan, itu bukan masalah besar. Setidaknya ibu telah memulai. Jalan menjadi ibu adalah jalan pembelajaran. Proses belajar yang sangat lama, terus-menerus dan bisa jadi seumur hidup.

Tantangan ini milikmu, ibu. Just keep your own soul of a fighter. Kencangkan sabuk pengaman, karena esok matahari terbit bersama lahirnya berbagai tantangan.

Yuk sharing tips Bunda mengatasi permasalahan ini di kolom komentar!

*) Eni Ratnawati, penulis novel, ibu rumah tangga dan mahasiswa.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *