Oleh Eva Rosnabilah Farid, Mahasiswi Jurusan Hukum Ekonomi Syariah IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Kemiskinan tampaknya menjadi masalah yang tak kunjung terselesaikan hingga saat ini. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan, salah satunya rendahnya kualitas sumber daya manusia. Rendahnya kualitas SDM mengakibatkan terciptanya kualitas hidup yang rendah pula, yang selanjutnya mengakibatkan rendahnya tingkat produksivitas masyarakat. Hal ini berdampak terhadap rendahnya pendapatan masyarakat. Kondisi seperti ini, pada akhirnya berakibat pada rendahnya investasi, dan pada gilirannya kembali mengakibatkan terciptanya kualitas sumber daya manusia yang rendah. Ini membentuk sebuah lingkaran yang tidak berujung, atau sering disebut dengan lingkaran setan kemiskinan.

Masih banyak kita jumpai perut-perut rakyat yang menjerit akibat kelaparan, kaki yang harus terus melangkah mencari pekerjaan, serta tubuh yang rela tidur di mana saja karena tidak punyai tempat tinggal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada bulan Maret 2020 mencapai 26, 42 juta orang, meningkat 1,63 juta dari bulan September 2019. Hal ini disebabkan oleh tingkat perekonomian yang rendah, yang membuat tingginya angka pengangguran dan kemiskinan. Oleh sebab itu, dibutuhkannya upaya untuk mengatasinya. UMKM adalah salah satu solusinya.

UMKM merupakan singkatan dari usaha mikro, kecil dan menengah. UMKM diatur dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM. UMKM merupakan sektor usaha yang berkontribusi besar terhadap perekonomian negara. UMKM ini sangat erat kaitannya dengan pemberantasan kemiskinan. Dengan adanya UMKM akan tercipta lebih banyak lapangan kerja. Artinya, semakin banyak UMKM yang ada, semakin banyak pula lapangan kerja yang tercipta. Alhasil, tingkat pengangguran akan berkurang, dan pada akhirnya menurunkan angka kemiskinan.

Pada masa pandemi Covid-19 seperti ini, pemerintah sedang gencar-gencarnya memberikan dukungan terhadap UMKM, yaitu dengan memberikan alokasi anggaran yang besar. Sebagaimana dilasir Kompaspedia, dari total biaya yang dialokasikan pemerintah untuk pencegahan Covid-19 pada tahun 2020 sebesar Rp695,2 triliun. Sejumlah Rp123,46 triliun dialokasikan khusus untuk mendukung UMKM. Alokasi tersebut menempati urutan kedua dari lima alokasi biaya penanganan Covid-19 yang lainnya.

Pemerintah juga banyak mengeluarkan kebijakan baru untuk melindungi dan memulihkan UMKM salah satunya dengan mendorong agar belanja pemerintah diprioritaskan bagi produk UMKM. Selain untuk mendukung gerakan belanja buatan Indonesia, kebijakan ini diharapkan dapat sedikit demi sedikit membangkitkan UMKM itu sendiri. Selanjutnya, melalui kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN), pemerintah memberikan hibah bagi usaha pemula, sehingga sedikit banyak dapat membantu masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Pelaku UMKM diharapkan dapat memanfaatkan dana tersebut dengan sebaik-baiknya, sehingga dana dapat berkembang dan dapat membantu perekonomian masyarakat.

Dalam upaya pengembangan UMKM ini diharapkan tidak sekadar dengan memberikan modal saja, sebab itu saja tidak cukup. Diperlukannya juga pelatihan-pelatihan, baik dalam bidang manajemen, administrasi, produksi serta keterampilan-keterampilan lain yang dapat meningkatkan kualitas individu dalam pengembangan usaha yang dimilikinya. Selain itu, untuk memajukan usaha diperlukan motivasi yang tinggi dari setiap individu untuk menciptakan sebuah produk yang berkualitas, sehingga dapat bersaing dengan produk lain. Tak hanya itu, diperlukannya juga bermacam-macam kreatifitas dan inovasi agar para pelaku UMKM bisa memahami selera pasar, sehingga membuat usaha yang dimilikinya menjadi semakin beragam, yang selanjutnya akan membuatnya bisa bertahan dan bahkan berkembang.

Pada saat ini pelaku UMKM tidak hanya dari kalangan orang tua saja. Generasi milenial juga ikut serta dalam meciptakan UMKM yang unggul. Demikian ini sebagaimana dikatakan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo bahwa kiprah milenial dapat kita lihat sekarang pada berbagai bidang, misalnya di bidang ekonomi dengan menjadi pelaku UMKM. Maka, UMKM akan bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru. Milenial yang memiliki jiwa tangguh dan budaya kewirausahaan tinggi, menurutnya, juga akan menjadi sumber penciptaan entrepreuner unggul. Milenial hadir untuk memberikan warna tersendiri bagi sektor UMKM dengan gagasan, ide-ide kreatif, serta keterampilan yang mereka miliki. Para milenial akan membentuk usaha yang unik, unggul dan dapat mengikuti perkembangan zaman, sehingga dapat menjadi penerang bagi iklim perekonomian.

Perkembangan teknologi mendorong dan menuntut para pelaku UMKM untuk memanfaatkan teknologi secara maksimal. Salah satunya dengan mendorong pelaku UMKM untuk go digital, dengan penggunaan berbagai platform digital yang memberikan banyak manfaat yang sangat menjanjikan. Kita dapat dengan mudah mengenalkan produk-produk yang kita miliki ke dunia internasional. Kita juga dapat menemukan jaringan pertemanan yang luas, sehingga dengan mudahnya produk kita dikenal dan bisa dinikmati oleh masyarakat internasional.

Selain itu kita juga dapat meningkatkan kreatifitas dan menciptakan ide-ide baru. Dengan begitu, diharapkan akan menciptakan lebih banyak lagi lapangan kerja, sehingga dapat menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia ke depannya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibu Iriana, bahwa sekarang adalah saat yang sangat tepat bagi anak muda Indonesia untuk menjadi wirausaha untuk membangun dan membesarkan UMKM, serta membantu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dengan demikian, lanjutnya, akan menggerakkan roda perekonomian. Manfaat lain dari penggunaan platform digital yaitu dapat menggaet pasar yang lebih dinamis serta pemasaran yang lebih efektif dan interaktif, sehingga dengan akses yang mudah UMKM akan terus maju dan berkembang.

Pada masa pandemi Covid-19 seperti ini, banyak pusat pembelanjaaan yang harus tutup akibat pembatasan sosial. Selain dengan memanfaatkan platform digital, sudah saatnya UMKM beralih strategi dengan bergabung ke e-commerce. Terdapat sejumlah e-commerce yang dikenal di Indonesia, seperti Blibli, Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan Lazada. Akan banyak manfaat yang didapat dengan menggunakan platform digital, salah satunya yaitu bisa berjualan ke luar daerah, sehingga dapat meningkatkan penjualan. Tak ketinggalan, sebagai mana dilansir Solopos.com, pemerintah melalui Kementrian Koperasi dan UKM menggandeng platform e-commerce demi menggenjot bisnis UMKM. Melalui kerja sama tersebut pemerintah dan platform e-commerce membuka pelatihan dan pendampingan bagi UMKM, seperti cara memasarkan produk secara online. Kerja sama ini diharapkan dapat mendongrak usaha yang dijalankan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi tingkat kemiskinan.

Pemerintah diharapkan akan terus berkomitmen untuk mengembangkan UMKM, karena UMKM sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran. Kebijakan yang dikeluarkan diharapkan mampu mengkondisikan UMKM yang makmur. Tumbuhnya UMKM dapat menjadi sumber kesempatan kerja, sehingga dapat meningkatkan pendapatan. Hadirnya generasi milenial memberi warna tersendiri dalam sektor UMKM. Adanya platform digital dan e-commerce juga menjadi jalan menuju kebangkitan. Oleh sebab itu UMKM merupakan salah satu senjata dalam memerangi pengangguran dan kemiskinan, sehingga dapat menjadi penerang dalam perekonomian rakyat. Semoga.

Bagikan tulisan ke:

By Masyhari

Founder rumahbaca.id, pembina UKM Sahabat Literasi IAI Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *